Dinasti Abbasiyah (33): Harun Al-Rasyid (4)

in Sejarah

Di masa pemerintahan Harun Al-Rasyid, Dinasti Abbasiyah mulai memasuki era keemasaannya. Penulisan buku-buku dari seluruh dunia makin digalakkan, sehingga tradisi intelektual berkembang pesat. Kota Baghdad pun berkembang menjadi metropolitan paling besar di dunia.


Gambar ilustrasi. Sumber: kisahmuslim.com


Sejumlah sejarawan sepakat, bahwa era keemasan Dinasti Abbasiyah dimulai pada masa Harun Al-Rasyid, dan mencapai puncaknya di era Khalifah Al-Ma’mun. Beberapa faktor yang mendorong lahirnya era keemasan tersebut di antaranya adalah meningkatnya gairah intektual kaum Muslimin. Meskipun agak sulit memastikan secara rinci faktor-faktor apa saja yang memicu lahirnya gairah intelektual yang besar tersebut. Tapi beberapa sejawan menilai adanya fenomena ini tidak lepas dari peran para khalifah Abbasiyah yang sangat menggandrungi ilmu pengetahuan.

Pada tahun ketiga pemerintahan Harun Al-Rasyid, Khaizuran wafat. Maka tinggallah Yahya yang kini menjadi penasehat utamanya. Yahya dikenal sebagai orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Sebagaimana dikatakan oleh Nadirsyah Hosen, Yahya memberikan pengaruh positif kepada Khalifah Harun ar-Rasyid. Imam Suyuthi mengabarkan betapa Harun juga mencintai para ulama, gemar bersedekah, dan taat beribadah. Dikabarkan dia salat sunnah seratus rakaat setiap hari. Orangnya tinggi dan kulitnya putih. Rajin membaca shalawat setiap mendengar nama Rasulullah disebutkan.[1]

Pada era Harun Al-Rasyid, proyek penulisan dan penerjemahan buku-buku dari seluruh dunia terus digalakan, bahkan didukung penuh oleh negara. Selama melakukan ekspedisi militer ke sejumlah wilayah di Eropa, ternyata para khalifah Abbasiyah tidak hanya merebut barang-barang berharga, tapi juga menggondol buku-buku dan naskah penting karya para ilmuwan Yunani.[2]

Sebagian pendapat mengatakan bahwa persentuhan Dinasti Abbasiyah terjadi ketika era pemerintahan Al-Manshur. Ketika itu kaum Muslim mulai memasuki wilayah kekuasaan Bizantium, seperti Antiokia, Iskandariyah, Suriah, Amorium, dan Ankara. Bahkan, Khalifah al-Manshur diriwayatkan berhasil memperoleh sejumlah buku dalam bahasa Yunani sebagai hadiah dari raja Bizantium. Pendapat ini agaknya tepat, mengingat pada era Al-Mahdi proses penulisan karya-karya ilmuwan asing ini sudah di mulai. Kelak titik tertinggi pengaruh Yunani terjadi pada masa Khalifah al-Ma’mun.[3]

Dalam hal kemakmuran, pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid, Baghdad – yang baru saja didirikan beberapa dekade sebelumnya oleh Al-Manshur – berubah menjadi metropolitan paling besar di dunia. Kemegahannya bahkan mengalahkan Bizantium Romawi. Menurut Philip K. Hitti saat itu “Kota Baghdad menjadi kota yang tak ada bandingannya di dunia.”[4]

Pada tahun 175 H, Harun Al-Rasyid membuat keputusan penting, yaitu mengangkat kedua putranya yang bergelar Al-Amin, sebagai putra mahkota. Sebagaimana sudah dikisahkan sebelumnya, bahwa putra Harun Al-Rasyid yang pertama bernama Al-Ma’mun. Dia lahir pada tahun 170 H atau bertepatan dengan waktu dilantiknya Harun Al-Rasyid. Tapi dia tidak lahir dari rahim Zaubaidah binti Ja’far Al-Manshur bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas yang merupakan permaisuri Harun Al-Rasyid. Al-Ma’mun lahir dari istri Harun yang lain, yang merupakan orang Persia. Selang beberapa bulan setelah lahirnya Al-Ma’mun, Zaubaidah melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad yang kemudian mendapat gelar Al-Amin.[5]

Harun Al-Rasyid mempercayakan pendidikan kedua putranya ini kepada Yahya bin Khalid. Yahya kemudian menunjuk putranya, Fadl bin Yahya bin Khalid, yang juga saudara sesusuan Harun untuk menjadi mentor Al-Amin. Sedang putra Yahya yang lain bernama Ja’far bin Yahya bin Khalid dipercaya untuk menjadi mentor Al-Ma’mun.[6]

Menurut Akbar Shah Najeebabadi, alasan diangkatnya Al-Amin terlebih dahulu sebagai putra mahkota daripada Al-Ma’mun, karena Al-Amin lahir dari rahim Zubaidah yang merupakan keturunan Quraisy.[7] Menurut Imam As-Suyuthi, pengangkatan Al-Amin dikarenakan Zubaidah sangat menginginkan putranya kitu menjadi khalifah menggantikan Harun Al-Rasyid.[8]

Adapun menurut Tabari, alasan diangkatnya Al-Amin disebabkan Fadl bin Yahya ketika itu mendapatkan hasutan dari saudaranya Zaubaidah yang bernama Isa bin Ja’far Al-Manshur agar mendukung dan memastikan Al-Amin diangkat sebagai putra mahkota.[9] Bisa jadi ini atas suruhan Zubaidah.

Isa bin Ja’far berkata kepada Fadl bin Yahya, bahwa bila Al-Amin menjadi khalifah secara otomatis Fadl yang juga mentornya akan sangat berkuasa. Mendapat bisikan seperti ini, hasrat berkuasa Fadl bin Yahya memuncak. Dia berjanji kepada Isa dan juga dirinya sendiri akan segera merealisasikan cita-cita tersebut.[10]

Ketika Fadl bin Yahya ditunjuk untuk menjadi gubernur wilayah Khurasan, dia sangat royal membagi-bagikan uang kepada prajurit dan juga rakyat kebanyakan. Semua ini dilakukan untuk mendapatkan kesetiaan massa sebanyak mungkin. Dan ketika saatnya dirasa tepat, pada tahun 175 H, Fadl bin Yahya langsung mendeklarasikan baiatnya kepada Al-Amin sebagai putra mahkota di Khurasan.[11] Ini jelas sebuah langkah yang sangat berani, bahkan bisa diketegorikan sebagai subversif. Sebab deklarasi ini melangkahi wewenang khalifah. Lagi pula, ketika itu usia Al-Amin masih 5 tahun.

Tapi ketika mendengar penyataan Fadl, orang-orang di Khurasan semua mendukungnya. Masyarakat Khuarasan pun segera memberikan bai’atnya kepada Al-Amin. Dalam waktu cepat, berita inipun sampai ke telinga Harun Al-Rasyid. Dan menariknya, ketikan mendengar langkah yang cukup berani tersebut, Harun Al-Rasyid tidak marah. Sebaliknya, dia justru mendukung langkah politik Yahya dengan secara resmi mengangkat Al-Amin sebagai putra mahkota.[12]

Harun pun langsung menggelar acara resmi pelantikan putra mahkota dan menyebar luaskan berita gembira ini ke seluruh negeri. Adapun yang paling merasa gembira dengan pelantikan ini tidak lain adalah Zubaidah bin Ja’fah Al-Manshur. Sebagaimana dikisahkan As-Suyuthi, pada saat Al-Amin dinobatkan sebagai putra mahkota, seorang penyair bernama Salm Al-Khasir melantunkan syair yang membuat Zubaidah menjejali mulutnya dengan butiran mutiara. Belakangan, Salm Al-Khasir menjual mutiara tersebut dengan harga 1000 dinar.[13] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Nadirsyah Hosen, Khalifah Harun Ar-Rasyid: Masa Keemasan Abbasiyah, https://geotimes.co.id/kolom/politik/khalifah-harun-ar-rasyid-masa-keemasan-abbasiyah/, diakses 10 April 2019

[2] Lihat, Tradisi Penerjemahan pada Masa Abbasiyah, https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/05/23/p96ckd313-tradisi-penerjemahan-pada-masa-abbasiyah, diakses 12 April 2019

[3] Ibid

[4] Lihat, Philips K. Hitti, “History of The Arabs; From The Earliest Time To The Present”, (London, Macmillan, 1970), hal. 301-302

[5] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, (Riyadh, Darussalam, 2000), hal. 342

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Lihat, Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, (Jakarta, Qisthi Press, 2017), hal. 310

[9] Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXX, The Abbasid Caliphate in Equilibrium, translated and annotated by C. E. Bosworth, (State University of New York Press, 1995), hal. 112

[10] Ibid

[11] Ibid, hal. 113

[12] Ibid

[13] Lihat, Imam As-Suyuthi, Op Cit, 311 5

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*