Dinasti Fatimiyah (1): Asal Usul

in Sejarah

Berdirinya Dinasti Fatimiyyah merupakan keniscyaan sejarah dalam rangka menutupi kejumudan gerak laju paradaban kaum Muslimin. Khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah sudah sangat lama melupakan urusan kaum Muslimin, dan lebih fokus pada politik. Sehingga perhatian mereka terhadap ilmu pengetahuan yang sudah dirintis sebelumnya, menurun. Peran inilah yang kemudian diambil alih oleh Dinasti Fatimiyyah.

—Ο—

 

Dinasti Fatimiyah merupakan satu-satunya kekhalifahan Islam dengan mahzab Syiah yang pernah berdiri dengan jangkauan pengaruh demikian luas, hingga berhasil menandingi kedigjayaan imperium Abbasiyah. Dinasti ini juga merupakan satu-satunya kekhalifahan Islam yang berasal dari Afrika Utara, lalu berhasil merebut Mesir dan terus menyebar ke timur hingga ke jantung daratan Arabia.

Bila Dinasti Abbasiyah menyandarkan klaimnya atas hak Bani Hasyim, maka Dinasti Fatimiyyah mengklaim sebagai ahli waris sah dari Sayidah Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Saw. Klaim ini ternyata sangat efektif dijadikan sebagai sadaran legitimasi kekuasaan mereka. Dengan legitimasi ini mereka berhasil meraup dukungan, dan menguasai wilayah yang sangat luas di kawasan barat. Di puncak kejayaannya, imperium Fatimiyah mencakup seluruh Afrika Utara, Sicilia, Mediterania, dan kedua sisi wilayah tepian Laut Merah. Dengan pusat pemerintahannya di Kairo, Mesir.

Eamonn Gaeron menyebut Dinasti Fatimiyah sebagai shadow caliphate (“kekhalifahan bayangan”) dalam dunia Islam. Hal ini mengingat, sejak awal berdirinya pemerintahan Islam, dunia hanya mengenal satu otoritas yang legitimate dan menguasai seluruh hajat hidup kaum Muslimin di dunia. Tapi sejak berdirinya Dinasti Fatimiyah, semua tradisi ini berubah total. Kaum Muslimin memiliki dua acuan otoritas yang sama kuat; dengan dua tradisi fiqih, keilmuan dan kekuasaan yang berbeda: Dinasti Abbasiyah di Irak, dan satu lagi Dinasti Fatimiyyah di Kairo, Mesir. Sejak Dinasti Fatimiyah berdiri, format satu kepemimpinan dalam dunia Islam runtuh. Sejak itu satu persatu kelompok bermunculan, mengklaim dirinya sebagai yang paling berhak mendirikan kekhalifahan.[1]

Dilihat dari sisi politik, memang demikianlah adanya. Berdirinya Dinasti Fatimiyyah telah meruntuhkan marwah Dinasti Abbasiyah sedemikian rupa, hingga wilayah-wilayah lain yang sebelumnya berada di bahwa pengaruh Abbasiyah, bergejolak dan menuntut hak yang sama. Tapi bila dinilai dari perspektif yang berbeda, berdirinya Dinasti Fatimiyyah merupakan keniscayaan sejarah dalam rangka menutupi kejumudan gerak laju paradaban kaum Muslimin. Khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah sudah sangat lama melupakan urusan kaum Muslimin, dan lebih fokus pada politik. Sehingga perhatian mereka terhadap ilmu pengetahuan yang sudah dirintis sebelumnya, menurun. Peran inilah yang kemudian diambil alih oleh Dinasti Fatimiyyah. Maka tak pelak, semua ilmuwan berbondong-bondong berdatangan ke Kairo untuk menuntut ilmu dan mengembangkannya. Dalam waktu singkat, Kairo berubah menjadi pusat peradaban Islam, menggantikan pamor kota Baghdad.

Asal-Usul

 Sebenarnya berdirinya Dinasti Fatimiyah tidak lain merupakan efek samping dari kebijakan Dinasti Abbasiyah yang sangat represif, khususnya kepada para keturunan Rasulullah Saw. Meski awalnya Abbasiyah mendapatkan legitimasi atas hak keturunan Rasulullah Saw dan Bani Hasyim, namun ketika berkuasa mereka justru memburu dan membunuh anak keturunan Nabi, khususnya yang berasal dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra. Pada titik ini, mereka telah membelokkan visi perjuangan kelompok mereka, dan tanpa mereka sadari, inilah awal mula terjadinya perpecahan dalam tubuh Dinasti Abbasiyah. Karena bagaimanapun, Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.  Terlebih di kawasan Persia, yang merupakan basis utama pendukung Ali bin Abi Thalib.

Para pendiri Dinasti Fatimiyah adalah penganut Syiah Ismailiyah. Nama yang diambil dari Ismail, putra pertama Imam Ja’faq As Shaddiq, imam ke 6 umat Syiah.[2] Oleh sebagian umat Syiah, Ismail dianggap sebagai Imam penerus Ja’far As Shaddiq. Mereka inilah yang kemudian menamakan dirinya sebagai Syiah Ismailiyah. Namun Ismail wafat sebelum Imam Ja’far.

Sebagian besar umat Syiah meyakini pengganti Imam Ja’far adalah Imam Musa Kazhim. Namun kelompok Syiah Ismailiyah berpendapat, dengan wafatnya Imam Ja’far, maka penggantinya adalah putra Ismail, yaitu Muhammad bin Ismail yang bergelar Muhammad Al Maktum (yang tersembunyi). Syed Ameer Ali mengutip Makrizi, mengatakan bahwa julukan ini dikarenakan para pengikutnya menyembunyikan beliau dari upaya persekusi yang dilakukan oleh aparat Dinasti Abbasiyah. Setelah Al Maktum, kaum Ismailiyah percaya bahwa pengganti beliau adalah Ja’far al Musaddak, dan putranya Muhammad Al Habib, yang mereka anggap sebagai imam terakhir.[3]

Muhammad Al Habib memiliki putra bernama Abu Muhammad ‘Abdullah. Dialah yang kemudian dikenal sebagai pendiri Dinasti Fatimiyah. Ia pernah merasakan dinginnya hotel prodeo di masa pemerintahan Mu’tazid Billah, salah satu khalifah Abbasiyah. Namun ia akhirnya berhasil melarikan diri ke Afrika Utara. Ketika itu, bangsa Arab merupakan minoritas di wilayah Afrika Utara. Masyarakat di wilayah tersebut masih mengidentifikasi diri mereka sebagai suku Berber. Ego kesukuan ini muncul pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah. Namun di bawah pemerintahan Abbasiyah, rasa kesukuan itu makin menguat, seiring dengan semakin represifnya kebijakan gubernur Abbasiyah di wilayah tersebut.

Abu Muhammad ‘Abdullah berhasil mengumpulkan kekuatan dan memimpin masyarakat untuk melancarkan pemberontakan terhadap gubernur Abbasiyah di Afrika Utara. Gubernur Abbasiyah pun berhasil ditaklukkan. Abu Muhammad ‘Abdullah lalu menggunakan gelar Ubaidullah dan Al Mahdi atau pemimpin yang dijanjikan. Kebangkitan yang dilakukannya menarik minat banyak pendukung dari berbagai penjuru. Berkat dukungan tersebut, kekuatannya makin tak terbedung di kawasan Afrika Utara. Pada tahun 909 M, Abu Muhammad ‘Abdullah telah berhasil mendirikan sebuah imperium yang membentang dari Mauritania hingga ke perbatasan Mesir. Pusat pemerintahannya kala itu terletak di Tunisia. (AL)

Bersambung…

Dinasti Fatimiyah (2): Kontroversi Sejarah Tentang Fatimiyah

Catatan kaki:

[1] Lihat, Eamonn Gaeron, “Turning Points in Middle Eastern History”, USA, The Teaching Company, 2016, Hal. 84

[2] Menurut Syed Ameer Ali, Ismail bin Ja’far As Shaddiq adalah seorang lelaki yang lembut tutur katanya dan  bertingkah laku menarik. Menurut Makrizi beliau memiliki banyak pengikut di daerah Yaman, Ketama, dan di beberapa propinsi di Afrika. Syahrastani mengatakan bahwa selama Ibu Ismail hidup, Imam Ja’far tidak pernah memiliki istri lain, sebagaimana Rasulullah Saw dengan Sayidah Khadijah, Imam Ali bin Abi Thalib dengan Sayidah Fatimah Az Zahra. Lihat, Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, Yogyakarta, Navila, 2008, hal. 369

[3] Selain dikenal dengan nama Ismailiyah, mereka juga kerap disebut sebagai kelompok Sab’iyun atau “Kelompok Tujuh”. Kerena mereka hanya mengakui tujuh orang Imam, yaitu Ali, Hasan, Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammad, Ja’far As Shaddiq, dan Ismail. Adapun pemimpin setelah Ismail, tidak memiliki kedudukan yang sama sebagaimana ketujuh imam di atas. Lihat, Ibid