Dinasti Seljuk, Bangkit dan Runtuhnya Kekhalifahan (1): Asal-usul Dinasti Seljuk

in Sejarah

Nama Seljuk diambil dari nama seorang pemimpin kabilah Turki Ghuzz yang mendiami wilayah imperium Uygur, ia bernama Seljuk bin Tuqaq yang diangkat menjadi panglima pada masa Imperium Uighar dan menempati bagian selatan ibukota Kasgar yaitu lembah Tarim

—Ο—

 

Kekaisaran Seljuk Raya atau Seljuk Agung merupakan Imperium Islam Sunni abad pertengahan yang pernah menguasai wilayah Hindu Kush sampai Anatolia Timur, dan dari Asia Tengah sampai Teluk Persia. Dari tempat awal mereka di Laut Aral, Seljuk bergerak pertama Ke Khorasan lalu ke Persia daratan sebelum menguasai Anatolia Timur.[1]

Dinasti Seljuk mencapai puncak kejayaan ketika menguasai negeri-negeri di kawasan Timur Tengah seperti Persia, Irak, Suriah, serta Kirman. Karena kemampuannya menaklukan wilayah-wilayah tersebut, Dinasti Seljuk menjadi amat disegani. Dimasa Dinasti Abbasiyah, Seljuk merupakan dinasti yang terbilang kecil, namun membantu dan memiliki peranan yang penting untuk keberlangsungan Dinasti Abbasiyah.[2]

Seljuk atau bani Seljuk adalah nama suatu suku yang pernah berkuasa pada abad ke-9 dan ke-12. Orang Seljuk adalah orang Turki nomad dari Turkmenistan yang berkerabat dengan orang Uygur.[3] Nama Seljuk diambil dari nama seorang pemimpin kabilah Turki Ghuzz (oghuz) yang mendiami wilayah imperium Uygur bernama Seljuk bin Tuqaq yang diangkat menjadi panglima pada masa Imperium Uighar dan menempati bagian selatan ibukota Kasgar yaitu lembah Tarim. Seljuk bin Tuqaq berasal dari kabilah kecil keturunan Turki, yaitu kabilah Qunuq. Kabilah ini kemudian bersama 20 kabilah kecil lainnya bersatu membentuk rumpun Ghuz. Pada awalnya gabungan Kabilah ini tidak memiliki nama, hingga munculah nama tokoh Seljuk putra Tuqaq yang mempersatukan mereka dan memberi nama suku tersebut Seljuk.[4]

peta kekuasaan bani seljuk. sumber gambar https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Seljuk_Empire_locator_map.svg

Seljuk adalah seorang orator yang ulung, sehingga memiliki pengaruh yang cukup besar kepada rakyat yang ia pimpin. Pengaruhnya terhadap rakyat, kian lama kian membesar hingga membuat permaisuri raja Uygur khawatir apabila Seljuk akan memiliki pengaruh yang lebih besar dari suaminya. Hal tersebut membuat sang permaisuri merencanakan pembunuhan kepada Seljuk, namun rencana itu bocor dan diketahu oleh Seljuk sehingga ia memutusakan untntuk pergi bersama semua saudara dan sukunya menuju ke kota Janad (Jundi / Jand), suatu daerah yang merupakan bagian dari Asia Kecil yang dikuasai oleh dinasti Samaniyah. Mereka tinggal disana dan hidup berdampingan bersama kaum muslimin.[5] Penguasanya bernama Amir Abdul Malik ibn Nuh (343-350 / 954-961 M) penguasa daulat Samaniyah. Sesampainya di Samaniyah, Seljuk dan pengikutnya memeluk agama Islam.[6]

Samaniyah dan Ghaznah merupakan dua Dinasti yang saling bertikai dan selalu bersitegang.[7] Pada saat Seljuk berada di Janad, kaum Seljuk mulai menunjukkan eksistensinya dengan memberi tendensi kepada salah satu dari dua dinasti yang sedang bertikai, yaitu dengan mendukung dinasti Samaniyah. Karena dukungannya tersebut, kemudian Dinasti Samaniyah memberikan kekuasaan bagi kaum Seljuk untuk tinggal berdekatan dengan Sihun.[8]

Dinasti Samaniyah mengalami kemunduran di tahun 389 H / 999 M. Pada saait itulah Seljuk berada dibaris depan dalam rangka meneruskan perlawanan terhadap Dinasti Ghaznah. Sepeninggal Seljuk bin Tuqaq, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya bernama Arselan. Masa kepemimpinan Arselan berakhir dengan ditangkapnya ia oleh Sultan Mahmud, yang merupakan pemimpin Dinasti Ghaznah. Kemudian kepemimpinan Seljuk dilajutkan oleh Mikhael yang merupakan saudara dari Arselan. Sultan Mahmud pada tahun 418 H / 1027 M, menyerang dan memporak-porandakan Seljuk yang berujung pada kematian Mikhael. Mikhael memiliki dua orang putra yang menjadi penerus kepemimpinan kaum Seljuk dan sekaligus penggagas berdirinya Dinasti Seljukiyah, mereka adalah Jughril Beg dan Tughril Beg.[9]

Pada saat Sultan Mahmud meninggal, Dinasti Ghaznah mengalami kemunduran yang cukup signifikan. Disisi lain kaum Seljuk terus menekan dan menyerang dinasti Ghaznah yang telah lemah dan pada akhirnya penyerangan itu berhasil menewaskan Mas’ud putra Sultan Mahmud. Kekalahan Dinasti Ghaznah dalam sebuah pertempuran pada tahun 429 H / 1037 M, membuat Tughril Beg memutuskan untuk mengumumkan berdirinya Dinasti Seljuk. Saat itu mereka mampu merebut Marw dan Naishabur dari cengkraman Dinasti Ghaznah, selain itu Dinasti Seljuk juga merhasil menguasai Balkh, Jurjan, Thabaristan, Khawarizm, Hamadhan, Rayyi, dan pemerintah Buwaihi di bawah kendali Dinasti Seljuk.[10] Seljuk berhasil menguasai sebagian besar Persia (Iran Modern) yang beribu kota di Ishfahan. Seperti halnya orang Ghaznah, orang Seljuk juga menuturkan bahasa Persia dan mempraktikan kebudayaan Persia.[11](SI)

Bersambung…

Dinasti Seljuk, Bangkit dan Runtuhnya Kekhalifahan (2): Pecahnya Perang Salib

Catatan kaki:

[1] Lihat, Kesultanan Seljuk Raya, id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Seljuk_Raya, diakses pada tanggal 2 April 2018.

[2] Lihat, Syed Amir Ali, A Short History of The Saracens, hlm 32.

[3] Lihat, Islam Abad Pertengahan / Sejarah Seljuk, id.wikibooks.org/wiki/Islam_Abad_Pertengahan/Sejarah/Seljuk, diakses pada tanggal 2 April 2018.

[4] Lihat, Ali, Sejarah Islam (Tarikh Pramodern), hlm 406.

[5] Lihat, Penyusun Dar al-‘ilm, Atlas Sejarah Islam, Jakarta, Kaysa Media, 2011, hlm 95-96.

[6] Lihat, K. Ali, Sejarah Islam (Tarikh Pramodern), Terj. Ghufron A. Mas’adi, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1996, hlm 48.

[7] Lihat, Muhammad Ash-Shallabi, Bangkit dan Runtuhnya Daulah Bani Seljuk, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2014, hlm 474

[8] Lihat, Ahmad Shalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta, Pustaka al-Husna Baru, hlm 277.

[9] ibid, hlm 65

[10] Lihat, Philip K. Hitti, History of The Arabs, Jakarta, Serambi Ilmu Semesta, 2010, hlm 602.

[11] Lihat, Islam Abad Pertengahan / Sejarah Seljuk, id.wikibooks.org/wiki/Islam_Abad_Pertengahan/Sejarah/Seljuk, diakses pada tanggal 2 April 2018.