Fatimah al-Fihri: Wanita Muslim Pendiri Universitas Pertama di Dunia

in Tokoh

Pernahkah kita bertanya-tanya, utamanya bagi yang sudah pernah atau sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah Unviersitas, dari mana asal-usulnya sebuah Universitas? Barangkali yang terlintas dalam pikiran adalah kedigdayaan Eropa yang hari ini begitu pesat kemajuannya dalam ilmu pengetahuan. Tapi kenyataannya begitu berbeda, ternyata bukan Eropa. Terlebih, penggagas Universitas pertama di dunia ternyata seorang perempuan Muslim. Fakta ini akan membantah semua stigma buruk yang menganggap perempuan Muslim adalah perempuan yang tertekan atau tertindas yang tidak mampu berbuat apapun.

Dialah Fatimah al-Fihri, wanita Muslim yang mendirikan Universitas pertama di dunia. Tidak hanya sekedar pendiri, ide mengenai Universitas ini dan penentuan lokasinya pun semuanya berasal dari dia. Kehadiran Universitas pertama di dunia ini akan mengubah wajah seluruh pendidikan tinggi di dunia selamanya. Universitas ini nantinya akan mempunyai pengaruh yang besar bagi dunia pendidikan di wilayah Timur Tengah, dan bahkan Eropa. Salah satu lulusan terbaik dari Universitas ini di kemudian hari akan membuat revolusi pendidikan dan kesarjanaan di Eropa. Nama dari Universitas pertama di dunia ini adalah Universitas Qairouan (Al-Qarawiyyin).

Ilustrasi Fatimah Al-Fihri. Lukisan wanita timur tengah karya Jan Frans Portaels (1818-1895), Belgian School.

Fatimah al-Fihri adalah seorang janda Muslim kaya yang bertekad menggunakan harta warisannya untuk sesuatu yang berbeda. Pada tahun 859, di kota Fes, Maroko, Fatimah mendapatkan izin dari penguasa setempat untuk mendirikan sebuah Universitas. Hal yang dilakukan oleh Fatimah pada waktu itu adalah suatu hal yang akan mengubah wajah pendidikan di dunia selamanya. Berdasarkan UNESCO dan the book Guinness World Records, Universitas Qairouan adalah Universitas pertama dan juga tertua yang memberikan gelar bagi para lulusannya.

Fatimah bukanlah penduduk asli Fes, dia berasal dari kota Qairouan, atau yang di masa kini dikenal dengan Tunisia. Pada waktu itu Qairouan merupakan kota pertama yang menjadi pusat studi Islam di Afrika. Ayah Fatimah, Muhammad al-Fihri, merupakan pedagang sukses yang terpaksa memindahkan keluarganya sejauh lebih dari 1600 km dari Qairouan ke Fes di Maroko.

Keluarga Muhammad al-Fihri tidak sendirian. Pada waktu itu, tahun 818 H, terjadi pemberontakan terhadap penguasa setempat Qairouan, yaitu Aghlabid. Aghlabid adalah penguasa lokal Qairouan yang ditempatkan oleh Dinasti Abbasiyah dari pusat pemerintahan di Baghdad. Usaha untuk menggulingkan keluarga Aghlabid gagal, dan setelah pemberontakan itu Aghlabid merespon dengan mengusir 2000 keluarga dari Qairouan, termasuk salah satunya adalah keluarga Fatimah. Banyak dari pengungsi tersebut diterima di Fes, Maroko.

Pada waktu itu Maroko baru saja berganti penguasa. Dinasti yang baru saja berkuasa pada waktu itu adalah Bani Idrisiyah, mereka berasal dari kelompok Syiah. Karena pada waktu itu pertarungan kekuasaan antara Sunni dan Syiah sedang bergejolak di Semenanjung Arab, Bani Idris lebih memilih untuk pergi keluar dan mengukuhkan dinastinya jauh di Barat Laut Afrika.

Fes, salah satu kota di Maroko—sebagaimana kampung halaman Fatimah—adalah kota yang baru saja berdiri. Pembangunan kota Fes dibagi ke dalam dua tahap, pertama, pada tahun 789 oleh Idris I, dan kedua, pada tahun 808 oleh Idris II, yang mana merupakan putra dari Idris I sekaligus pewaris tahta kekuasaan.

Ketika Idris II menjadikan Fes sebagai pusat kota Maroko, masa depan kesejahteraan penduduk kota sudah dapat dipastikan. Lokasi Fes, sebagaimana Qairouan, adalah lokasi yang ideal bagi perdagangan. Fes berada di dataran yang menjadi perlintasan antara daerah barat menuju Samudra Atlantik, dan daerah Utara menuju Laut Mediterania. Kota Fes dibangun di celah yang membentang melalui Pegunungan Atlas Tengah.

Peta Maroko

Kekayaan Fatimah al-Fihri

Ayah Fatimah—yang hanya dalam waktu 10 tahun menetap di Ibu Kota baru tersebut—telah berhasil sukses kembali, dan saat dia meninggal, Fatimah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaan yang sangat besar.

Fatimah bertanya-tanya, apa yang harus dilakukan dengan kekayaan baru ini? Ayah Fatimah telah membesarkan Fatimah—dan saudara perempuannya yang bernama Mariam—untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Fatimah dan Mariam memutuskan untuk menggunakan harta mereka untuk membangun masjid dan sekolah bagi masyarakat setempat. Kompleks ini kemudian dikenal sebagai masjid dan sekolah Qairouan karena dibangun di bagian Fes di mana sebagian besar pengungsi dari Qairouan, Tunisia, menetap.

Awalnya, Qairouan memiliki fungsi keagamaan yang sama dengan masjid dan madrasah-madrasah lainnya, yaitu pengajaran tentang ilmu-ilmu tradisional Islam yang menjadi landasan ajaran Islam di mana pun. Tiga bidang studi utama bagi siapa saja yang sedang mempelajari ajaran Islam adalah sebagai berikut ini: Studi Ilmu Tafsir Al-Quran, Studi Ilmu Hadis, dan Studi Ilmu Fiqh.

Universitas Al-Qarawiyyin pada masa kini. (Photo: alaraby.co.uk)

Namun, pada perkembangannya sekolah Qairouan juga menawarkan pelajaran non-Islam sebagai bagian dari pendidikan yang lebih luas, termasuk matematika, astronomi, astrologi, fisika, puisi, dan sastra. Inovasi ini merupakan hal yang penting bagi Qairouan untuk menjadi lebih dari sekedar sekolah keagamaan. Hal itu juga yang merupakan titik balik dalam sejarah Universitas Qairouan—dan untuk masa depan pendidikan tinggi di seluruh dunia.

Pada perkembangan lebih lanjut, pendidikan di Qairouan tidak lagi mewajibkan pelajaran agama, dalam artian non-muslim pun bisa saja sekolah di situ. Mata pelajaran pendidikan tingkat tinggi sekarang secara teknis terbuka bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk belajar. Pada akhirnya, yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Qairouan terbukti menjadi momen revolusioner bagi masyarakat manusia, berkembang melampaui zamannya, dan tidak terbatas pada penduduk Afrika Utara saja, tapi merambah ke kalangan Muslim Timur Tengah yang lebih luas. (PH)

Catatan: Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan dari buku: Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), chapter 10.

 

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*