Fir’aun di Zaman Nabi Musa As (2)

in Studi Islam

Last updated on May 4th, 2018 06:50 am

Bila merujuk pada Al Quran, jelas sekali bahwa Fir’aun yang bertemu Nabi Musa hanya satu orang. Ucapan Fir’aun kepada Nabi Musa As dalam ayat 18 Surat Asy Syu’ara menunjukkan bahwa ia adalah figur yang sama, yang dahulu pernah mengasuh Nabi Musa As.”

—Ο—

 

Salah satu persoalan mendasar dari cara mengindentifikasi sosok Fir’aun pada masa Nabi Musa As, adalah kepastian tentang waktu dan kronologinya. Perdebatan para ilmuwan yang terlalu berlarut-larut terkait masalah ini, menjadikan studi tentang Mesir Kuno (Egyptology) tidak bergerak secara progresif. Menurut Pearce Paul Creasman, salah satu masalahnya, para arkeolog dan ilmuwan masih sungkan untuk mengawinkan berbagai perspektif ilmiah yang mereka miliki untuk mendeteksi bukti-bukti arkeologis tesebut.[1]

Salah satu langkah yang sangat maju pernah dilakukan oleh Bronk Ramsey dan kawan-kawan untuk menganalisa bukti arkelogis di Mesir, dengan menggunakan analisis penanggalan radiokarbon yang komprehensif dan canggih.[2] Hasilnya, mereka mampu dengan cukup presisi menentukan periodesasi kekuasaan setiap raja yang pernah memerintah Mesir dari Periode Kerajaan Baru (1539 – 1077 SM) atau dari Dinasti ke-18 hingga seterusnya. Hal lain yang cukup mengesankan, masyarakat Mesir kuno memulai penanggalan berdasarkan masa jabatan para rajanya. Sehingga upaya untuk mengindentifikasi periode kekuasaan setiap raja, cukup hanya dengan melakukan analisa melalui sample peti mati dan jenazah (mumi) mereka. Oleh sebab itu, analisa radiokarbon menjadi sangat berguna.

Hanya saja, sedikit kelemahan dari terobosan yang dilakukan Bronk Ramsey dkk, identifikasinya tidak valid 100%. Hampir mendekati, yaitu 95%, dengan kemungkinan mengalami distorsi sekitar 24 tahun. Persoalannya, kurun waktu 24 tahun tersebut agak sulit untuk membantu memastikan secara tepat Fir’aun yang bertemu dengan Nabi Musa As.[3] Mengingat masa pemerintahan seorang raja Mesir Kuno, menurut hasil penelitian Bronk Ramsey dkk, umumnya tak lebih dari 30 tahun. (Lihat Gambar)

 

Usia kekuasaan raja-raja yang memerintah Dinasti ke-18 dan ke-20 di Mesir. Sumber gambar: islamic-awareness.org

Bila merujuk pada hasil penelitian ini, sangat wajar bila kemudian muncul asumsi bahwa bukan tidak mungkin Nabi Musa bertemu beberapa Fir’aun dalam hidupnya. Dengan kata lain, Fir’aun yang bertemu Nabi Musa ketika bayi, berbeda dengan Fir’aun yang akhirnya tenggelam di Laut Merah.

Namun bila kita merujuk pada Al Quran, jelas sekali bahwa Fir’aun yang dibertemu dengan Nabi Musa adalah satu orang. Hal ini terlihat pada Surat al-Qashash, ayat 7-9, Allah SWT berfirman:

“7. Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari Para rasul; 8. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya Dia menjadi musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah; 9. Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” (Al-Qashash: 7-9)

Pada ayat 8 Surat Al-Qashash tersebut jelas sekali bahwa anak yang dipungut oleh istri Fir’aun adalah orang yang kelak akan menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Pernyataan dalam Surat Al-Qashash ini kemudian terkonfirmasi oleh dalam Surat Asy Syu’ara: 18-22, yang berbunyi:

Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna”. Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil“. (QS. Asy Syu’ara: 18-22)

Dengan demikian, bila merujuk pada Al Quran, jelas sekali bahwa Fir’aun yang bertemu Nabi Musa hanya satu orang. Ucapan Fir’aun kepada Nabi Musa As dalam ayat 18 Surat Asy Syu’ara menunjukkan bahwa ia adalah figur yang sama, yang dahulu pernah mengasuh Nabi Musa As. (AL)

 

Bersambung…

Fir’aun di Zaman Nabi Musa As (3)

Sebelumnya:

Fir’aun di Zaman Nabi Musa As (1)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Pearce Paul Creasman, Tree-Ring And The Chronology of Ancient Egypt, Radiocarbon, Vol 56, Nr 4, 2014, p S85–S92DOI: http://dx.doi.org/10.2458/azu_rc.56.18324 © 2014 by the Arizona Board of Regents

[2] Penanggalan radiokarbon adalah sebuah metode penanggalan radiometrik yang menggunakan isotope karbon-14 (14C) untuk menentukan usia material bahan organik (karbonaseous) dengan batasan sampai sekitar 60.000 tahun “sebelum sekarang” (atau diistilahkan “Before Present”, disingkat BP, di mana “sekarang” didefinisikan sebagai tahun 1950. Teknik ini ditemukan oleh Willard Libby dan koleganya yang diperkenalkan kepada publik pada tahun 1949 selama jabatannya sebagai profesor di Universitas Chicago. Berkat penemuannya ini, ia mendapatkan Hadiah Nobel untuk Kimia pada tahun 1960. Lihat, https://id.wikipedia.org/wiki/Penanggalan_radiokarbon, diakses 27 April 2018

[3] Pearce Paul Creasman, pada tahun 2014, melalui jurnal internasionalnya, mengajukan solusi untuk meningkatkan validitas kronologi yang sudah dicapai oleh ilmuwan sejauh ini dengan menggunakan analisis cincin kayu yang dipakai mumi dan menjadi bagian dari artefak di makam-makam Raja Mesir Kuno. Namun kita belum mendapatkan informasi tentang apakah solusi ini digunakan atau tidak. Lihat, Pearce Paul Creasman, Op Cit

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*