Ibnu Haitham: Bapak Optik Modern (4)

in Tokoh

Setelah dinyatakan hilang ingatan, Ibnu Haitham dikurung di sebuah rumah dengan pencahayaan yang minim. Konon, disinilah dia menemukan pertama kalinya hipotesis tentang sifat dan perilaku cahaya yang kini menjadi dasar berdirinya ilmu optik.


Gambar ilustrasi. Sumber: manchestersciencefestival.com


Salah satu sejarawan abad pertengahan bernama Ibn al-Qifti,[1] mengisahkan pada mulanya, Ibnu Haitham cukup optimis bisa menyelesaikan masalah banjir Sungai Nil. Tapi ketika dia tiba di Mesir dan menyaksikan sendiri kondisi yang ada di Sungai Nil, dia pun mulai pesimis. Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana para arsitek Fatimiyah yang terdahulu ternyata sudah membuat mega proyek yang luar biasa untuk mengatasi masalah tersebut. Ibnu Haitham pun mulai berpikir, jika memang solusi yang ada dibenaknya bisa menyelesaikan masalah banjir tersebut, tentunya itu sudah lama dipikirkan oleh para arsitek yang menciptakan semua desain yang luar biasa ini.[2]

Tidak diceritakan lebih jauh bagaimana desain yang direncanakan Ibnu Haitham. Tapi ketika dia tiba di lokasi yang menjadi masalah utama banjir tersebut, kekhawatirannya langsung terjawab. Bahwa apa yang dipikirkannya, ternyata sudah dibangun dengan baik oleh para arsitek terdahulu. Menyaksikan ini, dia pun menyadari kelemahannya. Hal ini kemudian diakuinya secara terbuka di hadapan Khalifah Al-Hakim. Dan khalifah pun sangat kecewa. Tapi Al-Hakim tidak menjatuhkan hukuman pada Ibnu Haitham. Sebaliknya, dia justru memerintahkan Ibnu Haitham agar membantu dalam urusan pemerintahan. Sangat mungkin keputusan ini dikeluarkan karena khalifah melihat sejumlah potensi intelektual dari Ibnu Haitham yang sangat dibutuhkan istana.[3]

Tapi bagaiamana pun, masalah banjir di Mesir masih terus menjadi permasalah yang ingin dipecahkan oleh Al-Hakim. Hal ini membuat Ibnu Haitham agaknya kurang tenang dengan situasi yang dihadapinya. Mengingat suasana hati khalifah yang sangat mudah berubah-ubah. Kadang dia menjadi sosk yang cerdas dan bijak, tapi kadang menjadi sangat mudah murka dan mudah menghukum. Khawatir dengan keselamatannya, akhirnya Ibnu Haitham berpura-pura hilang ingatan. Dan sebagai akibatnya, dia dikurung di dalam rumah yang gelap.[4]  

Tidak diketahui berapa lama tepatnya Ibnu Haitham berada di dalam rumah tersebut. Tapi umumnya disebutkan bahwa dia dikurung dalam rumah ini sampai wafatnya Al-Hakim tahun 1021. Selama di dalam rumah tersebut, Ibnu Haitham berada dibawah perlindungan permanen dari pemerintah Fatimiyah. Hal ini memang diwajibkan oleh hukum untuk memastikan keselamatannya dan keselamatan orang lain. Tapi yang paling menyedihkan, selama masa pengurungan tersebut, Ibnu Haitham harus berpisah sementara waktu dari wacana dan diskusi yang biasa dia lakukan. [5]

Namun demikian, ternyata pada kondisi inilah inspirasi monumental itu muncul. Legenda mengatakan, suatu hari dia melihat cahaya bersinar melalui lubang kecil ke kamarnya yang gelap. Cahaya tersebut memproyeksikan gambar dunia di luar ke dinding yang berlawanan, sehingga menampilkan bayangan. Dia memulai menyadari bahwa fenomena tersebut terjadi akibat benda-benda yang berada di luar diterangi oleh cahaya matahari. Dari percobaan yang berulang-ulang dia menyimpulkan bahwa sinar cahaya bergerak dalam garis lurus, dan penglihatan manusia terjadi ketika sinar ini masuk ke mata.[6]

Sebagai catatan, selama ratusan tahun, para pemikir dari Yunani seperti Ptolemeus, beranggapan bahwa pengelihatan manusia disebabkan karena cahaya yang memancar dari mata menerangi benda-benda. Melalui pengalamannya sendiri di ruangan gelap tersebut, Ibnu Haitham mulai meragukan dogma ilmiah tersebut. Dan ketika dia dikeluarkan dari ruangan tersebut, hal pertama yang ingin dilakukannya tidak lain adalah mengembangkan hipotesisnya ini.

Pada tahun 1021 M, datang berita yang mengabarkan bahwa Al-Hakim menghilang. Dikisahkan bahwa suatu hari Al Hakim berjalan-jalan di bukit Muqattam, yang terletak di luar kota Kairo. Dan setelah hari itu dia menghilang. Orang-orang hanya menemukan keledai dan bajunya yang penuh dengan darah, namun tidak nemukan jasadnya. Setelah cukup lama tida ditemukan Al-Hakim divonis meninggal, dan digantikan posisinya oleh putranya yang bernama Abu al Hasan ‘Ali al Zahir li-izaz Din Allah, yang akan memerintah hingga tahun 1036 M.[7]

Setelah situasinya cukup tenang, Ibnu Haitham mulai menunjukkan dirinya ke publik dan menyatakan kewarasannya. Dia memilih tempat tinggal di dekat Masjid Al-Azhar, dan mendapatkan kembali hartanya yang sempat di sita negara. Setelah itu dia mulai menghabiskan sisa hidupnya dengan menulis, menyalin teks-teks ilmiah, melakukan penelitian, eksperimen dan mengajar. Dari proses inilah kemudian lahir satu persatu maha karya yang mengubah peradaban umat manusia selama. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Ali al-Qifti, atau dikenal dengan Ibn al-Qifti (1172- 1248) adalah salah satu sejarawan abad pertengahan yang cukup komprehensif menjelaskan kisah awal kedatangan Ibnu Haitham di Mesir. Dia memulai karir pada masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayubi. Setelah Shalahuddin wafat, dia kemudian dipercaya menjadi salah satu wazir Dinasti Ayyubiyah di Alepo, Suriah. Lihat, Dictionary of African Biography, Prof. Henry Louis Gates Jr., dan Prof. Emmanuel Akyeampong (Edt), (OUP USA, 2 February 2012), hal. 105–106.

[2] Lihat, Discover the World of 11th Century Scientist Ibn Al-Haytham, http://www.ibnalhaytham.com/discover/who-was-ibn-al-haytham/, diakses 7 April 2019


[3] Lihat, Ibn Al-Haytham, Abū,https://www.encyclopedia.com/science/dictionaries-thesauruses-pictures-and-press-releases/ibn-al-haytham-abu, diakses 9 April 2019

[4] Ibid

[5] Lihat, Discover the World of 11th Century Scientist Ibn Al-Haytham, http://www.ibnalhaytham.com/discover/who-was-ibn-al-haytham/, Op Cit

[6] Ibid

[7] Lihat, Eamonn Gaeron, “Turning Points in Middle Eastern History”, (USA, The Teaching Company), 2016, hal. 89

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*