Kaum Quraisy (21): Ilmu Kuno Bangsa Arab

in Studi Islam

Last updated on June 24th, 2019 10:29 am

Berbagai ilmu kuno bangsa Arab Jahiliah itu ada dan termuat dalam bahasa mereka. Sejak Islam datang, sebagian ilmu itu tidak lagi digunakan, karena Islam mengajarkan sesuatu yang lebih rasional dan metodis.


Gambar ilustrasi. Sumber: pointfromview

Dari beberapa contoh yang dipaparkan sebelumnya, kita bisa menilai betapa tingginya bahasa dan dengan demikian kemajuan budaya yang dicapai oleh Kaum Quraisy masa itu. Dimana satu kata bisa memiliki medan makna yang demikian kompleks. Dan ini hanya mungkin dicapai oleh suatu peradaban yang memiliki sistem ilmu pengetahuan dan tradisi intektual yang panjang.

Di dalam kamus bahasa Arab kita bisa menemukan sejumlah ilmu yang usianya sudah cukup tua. Ilmu-ilmu ini dapat dianggap sebagai ilmu-ilmu kuno peninggalan peradaban Arab. Sebagai ilustrasi dari ilmu-ilmu itu, kita dapat menemukan beberapa yang tercantum dalam kamus-kamus bahasa Arab berikut ini:

Pertama, ilmu ‘arrafah. Ini adalah ilmu untuk memprediksi masa depan ataupun peristiwa yang akan datang. Namun, ilmu ini bukan sejenis ilmu nujum atau mistis yang berdasar pada tahayul, yang biasanya di dalam masyarakat Arab dikenal dengan nama lain, yakni kahanah. Ilmu ‘arrafah ini adalah penggabungan antara ilmu astrologi, astronomi, meteorologi, geografi, dan juga sejarah. Perpaduan dari ilmu-ilmu itulah yang membuat seorang ‘arraf mampu memprediksi masa depan, waktu-waktu yang tepat untuk melakukan perdagangan, maupun mengenali akibat baik atau buruk suatu rencana. Konon, salah satu orang yang cukup mahir menguasai ilmu ini adalah Adnan kakek buyut Nabi Saw.[1]

Kedua, ilmu qiyafah.[2] Ini adalah ilmu untuk melacak asal-usul seseorang dari anatomi tubuh yang dimilikinya. Dengan mengalakukan analisis fisiologis, mereka mampu mengenali seseorang itu keturunan siapa, dari suku mana, dan berasal dari daerah mana. Dalam salah satu kisah, Abdul Muthalib suka duduk bersama keluarganya di samping Kabah untuk menyambut para peziarah yang berkunjung. Suatu kali Nabi duduk di samping kakeknya. Saat serombongan ahli ilmu qiyafah ini melintas menuju Kabah, tiba-tiba salah seorang dari mereka berhenti sejenak. Dia menatap Nabi lalu menatap kea rah Maqam Ibrahim yang saat itu masih terlihat jelas jejak kaki Bapak Bangsa Arab dan Yahudi itu. Lalu spontan ahli qiyafah ini berujar kepada Abdul Muthalib: “Anak yang duduk di sampingmu itu pasti keturunan dari Ibrahim.”  Abdul Muthalib bertanya: “Darimana kau mengetahuinya?” Dia menjawab dari kesamaan anatomi kaki mereka berdua.

Dan ketiga, ilmu ‘iyafah. Ilmu ini mirip seperti ilmu qiyafah, tapi untuk memprediksi asal-usul binatang. Tidak hanya itu, ilmu ini juga kerap mereka gunakan untuk memahami tanda-tanda alam melalui tabiat binatang, khususnya suara-suara burung.[3]

Terkait ilmu ‘iyafah ini, M. Quraish Shibab ketika menafsirkan Alquran Surat Yasin ayat 18-19, yang berbunyi:

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

Artinya: “Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami bernasib sial karena kamu, sehingga jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.’ Mereka berkata: ‘Kesialan kamu itu adalah bersama kamu. Apakah jika kamu diberi peringatan, (kamu menuduh kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum pelampau batas.’”

Quraish Shihab mengatakan bahwa kata (تَطَيَّرْنَا) tathayyarna dan ( طَائِرُكُمْ) thairukum berasal dari kata their, yaitu burung. Dan yang dimaksud adalah nasib. Alasannya, masyarakat Arab Jahiliyah biasanya melepas burung saat akan bepergian. Bila burung itu terbang dari arah kiri ke kanan, maka mereka percaya bahwa itu pertanda nasib baik. Dan bila dari sebaliknya, maka itu pertanda nasib buruk/sial. Dari sini kedua kata yang digunakan Alquran ini bermakna nasib. Dalam konteks ayat ini adalah nasib buruk. Sementara ulama berpendapat bahwa kesialan yang mereka maksud adalah bencana seperti wabah penyakit, paceklik dan semacamnya. Biasanya mereka yang menganut kepercayaan sial dan mujur menyandarkan sebab-sebab terjadinya peristiwa kepada hal-hal yang berbarengan dengan peristiwa itu. Bukan mencari adanya faktor-faktor penyebab yang sebenarnya.[4]

Lebih lanjut Quraish Shihab menjelaskan, mereka (orang-orang Jahiliyah) biasanya memilih salah satu dari hal-hal yang berbarengan dengan kejadian tertentu untuk menetapkan faktor kesialan atau kemujuran. Kesialan, menurut dugaan mereka, adalah adanya hal yang berbarengan dengan sesuatu yang tidak sejalan dengan keinginan mereka, atau sesuatu yang mereka benci. Sedang kemujuran adalah akibat adanya hal-hal yang mereka nilai baik atau sejalan dengan keinginan mereka yang terjadi berbarengan dengan peristiwa tertentu. Dalam konteks uraian ayat di atas, para penduduk negeri durhaka itu menganggap semua peristiwa buruk yang mereka alami adalah karena kehadiran para rasul. Ini karena kehadiran rasul dan ajarannya sejak awal mereka tolak dan benci. Anehnya, jika mereka memperoleh sesuatu yang positif, mereka tidak menjadikan kehadiran rasul itu sebagai sebab kemujuran, tetapi mereka mencari sebab lain yang berbarengan dengan kejadian baik itu.[5]

Berbagai ilmu kuno bangsa Arab Jahiliah itu ada dan termuat dalam bahasa mereka. Sejak Islam datang, sebagian ilmu itu tidak lagi digunakan, karena Islam mengajarkan sesuatu yang lebih rasional dan metodis. Umpamanya, Islam menolak ilmu qiyafah untuk mengenali asal-usul orang, lantaran Islam menekankan pada akad yang disaksikan, sehingga pelacakan asal-usul dan keturunan orang dapat dilakukan secara lebih metodologis, sekaligus dapat disaksikan banyak orang. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Salah satu kamus yang bisa dirujuk adalah Mu’jam Lisan Al-Arab fi Al-Lughah, karya Muhammad bin Mukrim bin Ali Abu Fadhl (Ibnu Manzhur)

[2] Terkait ulasan lebih jauh mengenai ilmu qiyafah, lihat, Aqil bin Abdurrahman Al-Aqil, Ahkam Al-Qiyafah, dalam majalah Al-Jamiah Al-Islamiyah edisi 183, jilid II. 

[3] Lihat, Mu’jam Lisan Al-Arab fi Al-Lughah

[4] Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 15, Juz Amma (Jakarta: Penerbit Lentera Hati, 2005), hal. 522

[5] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*