Kaum Quraisy (8): Abdul Muthalib dan Harta Karun Kota Makkah

in Studi Islam

Last updated on May 9th, 2019 06:20 am

Di era Abdul Muthalib, nilai kapital Kota Makkah meningkat sangat signifikan. Salah satu penyebabnya, adalah ditemukannya kembali Sumur Zamzam, yang sebelumnya sudah hilang ditelan zaman.


Gambar ilustrasi. Sumber: jagungmanis.com

Satu ketika, Muthalib teringat dengan kemenakannya yang berada di Madinah, dan bermaksud mengunjunginya untuk mengetahui keberadaannya. Di Madinah sendiri, Syaibah bin Hasyim sudah tumbuh menjadi remaja yang masyur namanya. Di kota itu dia mendapat julukan mulia, yaitu Al Faiz yang artinya “sang dermawan” karena kemurahan hatinya.[1]

Setelah menemui kemenakannya, akhirnya Muthalib memutuskan untuk memboyong kemenakannya kembali ke Makkah dan merawatnya. Begitu memasuki kota Makkah dengan Syaibah, orang-orang Makkah yang tidak mengenal Syaibah menyangka bahwa yang datang bersama Muthalib itu adalah budaknya. Sehingga mereka memanggilnya dengan Abdul Muthalib. Nama itu ternyata terus melekat pada dirinya, dan nama Syaibah pun sejak itu hilang begitu saja.[2]

Di sisi lain, gugatan Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim atas pengelolaan Sikaya dan Rifada terus berlangsung. Gugatan ini lalu berkembang menjadi persaingan antar kedua partai terkuat Kaum Quraisy tersebut, bahkan tak jarang menjadi perselisihan. Satu-satunya hal yang membuat Bani Hasyim tetap dipercaya masyarakat untuk mengelola Sikaya dan Rifada, karena Muthalib cukup mampu meneruskan tradisi kedermawanan dan kecakapan Hasyim. Sehingga Bani Hasyim, terus mendapat dukungan dari masyarakat Kota Makkah kala itu.

Di sisi lain, Syaibah bin Hasyim, atau yang kini dikenal dengan panggilan Abdul Muthalib, namanya sekarang juga masyhur di Kota Makkah sebagai sosok yang bijaksana dan dermawan. Martabat dan kemuliaan akhlaknya tak bisa disaingi oleh siapapun di antara Kaum Quraisy.

Secara umum, meski tidak mengetahui asal usulnya, masyarakat Makkah melihat bahwa Abdul Muthalib lah pewaris sah kepemimpinan Hasyim dan Qushay di kota itu. Maka ketika Muthalib dikabarkan meninggal dunia di Kazwan, Yaman, pada akhir tahun 520 M, tidak ada sosok di antara anak keturunan Abdul Manaf yang layak menggantikan posisi Muthalib kecuali Abdul Muthalib. Meskipun Bani Umayyah yang saat itu sudah masuk pada kepemimpinan Harb bin Umayyah begitu ingin mengambil posisi tersebut, namun nyaris tidak mungkin bagi mereka menampilkan sosok yang mampu menyaingi kompetensi Abdul Muthalib.[3]

Di era Abdul Muthalib, nilai kapital Kota Makkah meningkat sangat signifikan. Salah satu penyebabnya, adalah ditemukannya kembali Sumur Zamzam, yang sebelumnya sudah hilang ditelan zaman. Terkait bagaimana kisah penemuan kembali harta karun Kota Makkah ini, redaksi ganaislamika.com pernah mempublikasikan salah satu serial tulisan berjudul “Abdul Muthalib (2); Menggali Sumur Zamzam”.[4] Untuk kepentingan artikel ini, berikut kami papar kembali kisah tersebut;

Di suatu malam, Abdul Muthalib tiba-tiba membayangkan matahari sudah terbit. Sontak dia lalu beranjak dari tempat tidurnya. Tapi alangkah terkejutnya dia, ketika menyadari ternyata waktu itu masih malam. Dia keluar dari kemah, lalu melihat keheningan yang luar biasa menyelimuti gurun pasir yang membentang. Lalu dia kembali ke tempat tidurnya dan bermimpi, ada suatu yang memerintahkannya melakukan hal yang sangat penting, “Galilah Zamzam!”, kata suara tersebut. Namun dia bingung memahami apakah itu Zamzam?

Abdul Muthalib lalu bangun untuk kedua kalinya. Dia tidak bisa tidur lagi. Hanya berusaha memahami maksud dari mimpinya. Di tengah keheningan malam itu, dia keluar dari kemahnya, sambil mengingat-ingat tentang satu kisah kuno soal sebuah sumur pertama di kota itu. Konon sumur itu memancarkan air yang segar setelah leluhurnya, Ismail menghentak-hentakkan kakinya ke bumi. Tapi sumur itu sudah tidak digunakan dan akhirnya ditutup seiring perjalanan zaman. Abdul Muthalib mencoba menerka, lalu apa nilai sumur itu sekarang? Bukankah sudah cukup banyak sumur di kota ini? Bahkan air di Makkah, sejauh ini bisa mencukupi untuk melayani para peziarah yang datang ke kota itu. 

Namun perintah dalam mimpinya begitu nyata, dan dia tidak mungkin mengabaikannya. Persoalannya, letak sumur kuno yang dimaksud itu sekarang posisinya tepat berada di antara dua berhala dari berhala-berhala yang biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu di antara berhala yang bernama Ashaf dan Nallah. Berhala ini tidak hanya disembah oleh masyarakat Makkah, bahkan peziarah yang datang pun ikut mengagungkannya. Akan terjadi resistensi yang luar biasa bila dia memaksakan diri membongkarnya demi untuk menggali sumur tua, yang dia dapat melaluinya mimpi.

Tapi dorongan dari perintah itu demikian kuat. Hingga mau tak mau Abdul Muthalib pun melaksanakannya. Dan benar saja, ketika dia memaksakan diri menggali sumur tua tersebut, para pemimpinan kabilah berikut keluarganya menetang usaha Abdul Muthalib. Ketika itu dia hanya berdua dengan putra tertuanya Harits, dan harus berhadapan dengan semua kabilah.[5]

Masyarakat Makkah memang masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai ashobiyah (fanatik kesukuan).[6] Dari landasan inilah semua perangkat aturan bermasyarakat diambil dan disepakati. Karena dasar perhitungannya adalah kesukuan, maka kuantitas keturunan (umumnya laki-laki) dan harta akan menjadi variable penting yang menentukan kedudukan seseorang di antara kaumnya. Inilah yang dihadapi Abdul Muthalib. Dia hanya memiliki satu orang anak, di tengah-tengah kabilah yang begitu banyak dan fanatik pada agama dan klannya. Sedang misinya, adalah menggali sumur yang letaknya berada di antara dua berhala yang begitu dipuja dan diagungkan di kota itu.

Menyadari kelemahan ini, Abdul Muthalib akhirnya bergegas ke Kabah dan bermunajad kepada Allah SWT. Lalu dia mengajukan nazar yang begitu terkenal, “Ya Allah, jika aku mendapat sepuluh anak laki-laki, dan mereka menginjak usia dewasa, sehingga mereka mampu melindungiku saat aku menggali sumur Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Kabah sebagai bentuk kurban.” [7]

Langitpun terbuka bagi nazar Abdul Muthalib. Satu persatu anaknya lahir setiap tahun, hingga akhirnya mencapai jumlah 10. Dan yang terkecil waktu itu bernama Abdullah, sosok yang paling cemerlang dari semuanya, dan Abdul Muthalib sangat menyayanginya.

Seiring dengan bertambahnya jumlah putranya, bertambah pula kemasyhuran Abdul Muthalib. Anak-anak yang dimilikinya memang bukan orang sembarangan. Setiap mereka adalah pemuda-pemuda yang menonjol di masyarakat, baik dalam hal keberanian, ketangkasan, kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemuliaan akhlak. Maka tidak mengherankan ketika itu, Abdul Muthalib dengan mudah menjalankan misinya menggali kembali sumur Zamzam. Tidak ada satupun kabilah yang berani menetang usahanya. Dan benarlah mimpi tersebut, sumur Zamzam kembali memancar, dan menjadi sumur yang paling produktif dengan jumlah air yang melimpah.

Dalam waktu singkat, sumur ini menjadi aset paling berharga di Kota Makkah. Keberadaannya, membuat nilai strategis dan kapital di Kota Makkah naik berkali-kali lipat. Abdul Muthalib menyadari adanya potensi perpecahan di kalangan Kaum Quraisy bersamaan dengan ditemukan sumur ini. Untuk itu dia harus membuat terorbosan untuk memitigasi bahaya tersebut. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam or The Life and Teachings of Mohammed, (Calcutta: S.K. Lahiri & Co, 1902), hal. 4-5

[2] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume One, (Riyadh: Darussalam, 2000), Hal. 62

[3] Ibid

[4] Untuk membaca, bisa mengakses link berikut: https://ganaislamika.com/abdul-muthalib-2-menggali-sumur-zamzam/

[5] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit, Hal. 91

[6] Penjelasan lebih jauh terkait dengan masalah ashobiyah ini, Lihat. Muhammad bin Khaldun, Al-Allamah Abdurrahman, dalam Mukaddimah Ibnu Khaldun; Pasal 47,  (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2011), Hal. 523-628

[7] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*