Perlak, Kerajaan Islam Indonesia Pertama

in Islam Nusantara

Last updated on April 26th, 2019 12:22 pm

Benarkah kerajaan Samudera Pasai yang didirikan pada 1267 M merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia? Ataukah ada jejak kerajaan Islam lain yang lebih tua daripada Samudera Pasai?

—Ο—

Ada banyak kerajaan Islam di Indonesia. Tentu ini salah satu faktor yang menjadikan Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia.

Sementara kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak yang berlokasi di Aceh Timur. Kini daerah tersebut tetap bernama Perlak.

Namun ada sedikit yang mengganjal di sini. Dalam buku-buku teks pelajaran sekolah, misalnya, disebutkan bahwa kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Samudera Pasai. Sedangkan ada data yang menyebutkan Perlak lebih dulu berdiri daripada Samudera Pasai.

Kerajaan Perlak berdiri mulai tahun 255 H/ 869 M.[1] Bandingkan dengan kerajaan Samudera Pasai yang sama-sama berlokasi di Aceh. Berdiri tahun 1267, Kerajaan ini akhirnya lenyap pada tahun 1521.

Entah mengapa, dalam buku-buku pelajaran sekolah, Samudera Pasai-lah yang ditulis sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Sebuah kesengajaan atau kebetulan? Berbeda dengan kerajaan Islam pertama di Jawa, kerajaan Islam pertama di Indonesia masih simpang siur kepastiannya.

Kerajaan Perlak berdiri tahun 255 H/ 869 M dengan rajanya yang pertama, Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah. Sebelumnya, memang sudah ada Negeri Perlak yang pemimpinnya merupakan keturunan dari Meurah Perlak Syahir Nuwi atau Maharaja Pho He La.

Pada tahun 840 M, datanglah rombongan berjumlah seratus orang yang dipimpin oleh Nakhoda Khalifah. Tujuan mereka adalah berdagang sekaligus berdakwah menyebarkan agama Islam di Perlak. Pemimpin dan para penduduk Negeri Perlak pun akhirnya meninggalkan agama lama mereka dan masuk Islam.[2]

Selanjutnya, salah satu anak buah Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad bin Ja`far Shadiq dinikahkan dengan Makhdum Tansyuri, adik dari Syahir Nuwi. Dari perkawinan mereka inilah lahir Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan pertama Kerjaan Perlak.[3]

Sultan kemudian mengubah ibukota Kerajaan, yang semula bernama Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, sebagai penghargaan atas Nakhoda Khalifah. Sultan dan istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, dimakamkan di Paya Meuligo, Perlak, Aceh Timur.

Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah merupakan sultan yang beralirah paham Syiah. Aliran Syiah datang ke Indonesia melalui para pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia. Mereka masuk pertama kali melalui Kesultanan Perlak dengan dukungan penuh dinasti Fatimiah di Mesir.[4]

Ketika dinasti Fatimiah runtuh pada tahun 1268, hubungan antara kelompok Syiah di pantai Sumatera dengan kelompok Syiah di Mesir mulai terputus. Kondisi ini menyebabkan konstelasi politik Mesir berubah haluan. Dinasti Mamaluk memerintahkan pasukan yang dipimpin oleh Syaikh Ismail untuk pergi ke pantai timur Sumatra dengan tujuan utamanya melenyapkan pengikut Syiah di Kesultanan Perlak dan Samudera Pasai.[5]

Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah, aliran Suni mulai masuk ke Perlak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Suni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.[6]

Kaum Syiah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syiah dan Suni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Suni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Suni.

Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syiah dan Suni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian wilayah kerajaan menjadi dua bagian. Bagian pertama, Perlak Pesisir (Syiah), dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988). Bagian kedua, Perlak Pedalaman (Suni), dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023).[7]

Kedua kepemimpinan tersebut bersatu kembali ketika salah satu dari pemimpin kedua wilayah tersebut, yaitu Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal. Ia meninggal ketika Perlak berhasil dikalahkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Kondisi perang inilah yang membangkitkan semangat bersatunya kembali kepemimpinan dalam Kesultanan Perlak. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat, yang awalnya hanya menguasai Perlak Pedalaman kemudian ditetapkan sebagai Sultan ke-8 pada Kesultanan Perlak. Ia melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006.[8]

Sultan Perlak ke-17, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat, melakukan politik persahabatan dengan negeri-negeri tetangga. Ia menikahkan dua orang puterinya dengan para pemimpin kerajaan tetangga.  Putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, al-Malik al-Saleh.[9]

Kesultanan Perlak berakhir setelah Sultan ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat meninggal pada tahun 1292. Kesultanan Perlak kemudian menyatu dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah kekuasaan sultan Samudera Pasai yang memerintah pada saat itu, Sultan Muhammad Malik Al Zahir yang juga merupakan putera dari al-Malik al-Saleh.

Kerajaan Perlak merupakan negeri yang terkenal sebagai penghasil kayu Perlak, yaitu kayu yang berkualitas bagus untuk kapal. Tak heran kalau para pedagang dari Gujarat, Arab dan India tertarik untuk datang ke sini.

Pada awal abad ke-8, Kerajaan Perlak berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju. Kondisi ini membuat maraknya perkawinan campuran antara saudagar muslim dengan penduduk setempat. Salah satu dampaknya ialah perkembangan Islam yang pesat hingga berdirinya Kerajaan Islam Perlak sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. (AL)

 

Catatan: Artikel ini diadaptasi dari artikel berjudul, “Kerajaan Perlak, Kerajaan Islam yang Pertama.” Sumber: https://adisuseno.wordpress.com/2010/07/30/kerajaan-perlak-kerajaan-islam-indonesia-yang-pertama/. Adapun beberapa infomasi lain yang tidak ada dalam artikel tersebut, keterangannya tercantum pada catatan kaki. 

 

Catatan kaki:

[1] Lihat, Prof. A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Medan, PT. Al Ma’arif, 1993, Hal. 146.

[2] Ibid, hal. 147

[3] Ibid, hal. 156

[4] Prof. Dr H. Aboebokar Aceh, Sekitar Masuknya Islam Ke Indonesia, Solo, CV. Ramdhani, 1971, Hal. 23

[5] Ibid

[6] Lihat, Prof. Madya DR. Wan Hussein Azmi, Islam di Aceh Masuk dan Berkembangnya Hingga Abad XVI, dalam Prof. A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Medan, PT. Al Ma’arif, 1993, Hal. 196-198

[7] Ibid, hal. 199

[8] Ibid, hal. 200

[9] Ibid, hal. 201

 

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*