Kesultanan Demak (10): Raden Fatah (5)

in Islam Nusantara

Last updated on September 11th, 2019 05:46 am

Di Pulau Jawa, Raden Fatah akhirnya berguru dengan Sunan Ampel. Selanjutnya dia mulai berdakwah di wilayah Demak dan Bintoro. Melalui satu peperangan, Raden Fatah berhasil menggulingkan penguasa setempat, dan menjadi penguasa di wilayah tersebut. Setelah itu, dia menggabungkan kedua wilayah tersebut, sehingga dikenal kemudian dengan sebutan Demak-Bintoro.

Gambar ilustrasi. Sumber: harianmerapi.com

Berbeda dengan yang dituturkan oleh Serat Kadaning Ringgit Purwa, menurut Babad Tanah Jawi, alasan kepergian Raden Fatah dan Raden Kusen dari Palembang, karena mereka tidak mau menggantikan posisi ayahnya sebagai Adipati Palembang.[1] Bisa jadi, alasan penolakan itu karena Raden Fatah masih ingin menimba banyak ilmu. Sebab sebagaimana dikatakan Agus Sunyoto, semakin dewasa, kebutuhan Raden Fatah akan ilmu kian bertambah. [2] Dia butuh pemuasannya.

Maka pergilah Raden Fatah dari negeri Palembang ditemani oleh adik tirinya, Raden Kusen. Dalam pengembaraannya mencari ilmu, Raden Fatah dan Raden Kusen dikisahkan sampai ke pinggir laut dan berjumpa dengan seorang pelaut Cina yang membawa mereka berdua ke Jawa dengan kapalnya.

Menurut naskah Klenteng Sam Po Kong di Semarang, dalam perjalanannya, Raden Fatah sempat singgah dulu di Semarang dan sholat di dalam masjid. Dia meratap ketika melihat di dalam masjid ada patung Sam Po Kong. Dia berdoa, mudah-mudahan kelak ketika dia mampu mendirikan masjid, tempat itu tidak akan berubah menjadi klenteng sepeninggalnya. Setelah dari Semarang, Raden Fatah dan Raden Kusen terus berjalan lagi, hingga tiba di Surabaya.[3]

Di Surabaya, mereka berdua dihadapkan ke Sunan Ampel guna menyampaikan keinginan untuk berguru Agama Islam. Raden Fatah dan Raden Kusen kemudian diterima menjadi murid oleh Sunan Ampel. Bahkan, Raden Fatah kemudian dinikahkan dengan putri Sunan Ampel yang bernama Dewi Murthosimah dan Raden Kusen dinikahkan dengan cucu Sunan Ampel yang bernama Nyai Willis. Demikianlah, kabar putra dan cucu raja Majapahit asal Palembang yang berguru kepada Sunan Ampel itu tersiar sampai ibu kota dan dilaporkan pada Raja Majapahit.[4]

Menerima laporan itu, Prabu Brawijaya kemudian mengundang Raden Kusen, cucunya ke Istana. Sewaktu datang memenuhi undangan ke Istana, di hadapan raja, Raden Kusen menyatakan keinginannya untuk mengabdi kepada raja, yang tidak lain adalah kakeknya. Dia bersedia mempersembahkan jiwa dan raga untuk raja. Prabu Brawijaya berkenan dengan cucunya itu. Keinginan Raden Kusen untuk mengabdi pun diterima dengan sukacita. Lalu Prabu Brawijaya mengangkatnya menjadi seorang adipati, sang pancathanda[5] di negeri Terung.[6]

Setelah Raden Kusen menjadi adipati di Terung, Sunan Ampel memerintahkan Raden Fatah untuk membuka pedukuhan (desa) baru dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat di sekitar pedukuhan tersebut. Sunan Ampel memerintahkan Raden Fatah berjalan ke arah barat sampai Glagah Wangi dan membuka dukuh di situ.[7]

Konon, daerah Glagahwangi ini dulunya adalah sebuah wilayah yang kosong. Lokasinya berada di dalam sebuah hutan yang dikenal sebagai Hutan Bintoro. Di hutan ini terdapat tanaman glagah yang berbau harum. Itulah mengapa daerah Bintoro dulu juga disebut sebagai kawasan Glagah Wangi.[8] Di tempat inilah Raden Fatah membangun basis dakwah pertamanya. Dalam waktu cepat, seruannya mendapat sambutan yang luas. Orang-orang banyak berdatangan dan berguru padanya.

Namun, di sana ada bupati yang berkuasa, dan menghalangi kegiatan dakwah menyebarkan agama Islam. Menurut Sedjarah Banten, karena merasa khawatir dengan progresifitas dakwah yang dilakukan oleh Raden Fatah, bupati yang bernama Lembu Sora itu mengadukan hal ini pada Prabu Brawijaya. Tak lama kemudian Raden Fatah dipanggil oleh raja ke Istana. Tapi bukannya dihukum, Raden Fatah malah diangkat menjadi salah satu dari pejabat Tandha yang berada dibawah koordinasi Lembu Sora.[9]

Besar kemungkinan, setelah diangkat menjadi pejabat negara ini, Raden Fatah pindah ke Demak. Di tempat itu, dakwahnya kian bersinar dan pendukungnya kian banyak. Pada satu titik, eskalasi ketegangan antara Lembu Sora dengan Raden Fatah mencapai puncaknya, sehingga pecah perang di antara keduanya. Dalam perang tersebut, Lembu Sora terbunuh, dan tampuk pimpinan berhasil diambil oleh Raden Fatah.[10]

Menurut Agus Sunyoto, kisah perebutan kekuasaan antara Raden Fatah dengan Lembu Sora inilah yang dikacaukan dengan cerita perebutan tahta Majapahit oleh Raden Fatah. Padahal, peristiwa perselisihan antara Majapahit dengan Demak, terjadi di era pemerintaha Sultan Trenggana – yang ditandai serangan laskar-laskar Islam ke Majapahit di bawah pimpinan Sunan Ngundung dan dilanjutkan oleh Sunan Kudus – terjadi pada tahun 1447 dan 1449 Saka atau 1525 dan 1527 M, jauh setelah Raden Fatah mangkat.[11]

Setelah Lembu Sora terbunuh dalam peperangan, Raden Fatah mengangkat putra Lembu Sora bernama Lembu Peteng sebagai anaknya. Kemudian, Raden Fatah menggabungkan kekuasaan Demak dan Bintoro menjadi satu, sehingga dikenal kemudian dengan nama Demak-Bintoro. Menurut Babad Tanah Jawi, setelah berkuasa, Raden Fatah menggunakan gelar “Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.”[12] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Prof. Dr. Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta, LKiS, 2013, hal. 90

[2] Lihat, Agus Sunyoto, “Atlas Wali Songo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah”, Tanggerang Selatan, IIMaN, 2018, hal. 381

[3] Prof. Dr. Slamet Muljana, Op Cit, hal. 90-91

[4] Lihat, Agus Sunyoto, Op Cit, hal. 382

[5] Pejabat tandha atau Panca-Tandha adalah lima orang pejabat tinggi kerajaan yang terdiri dari pejabat “Demung, Rangga, Tumenggung, Kanuruhan, dan Patih”. Sistem kepejabatan ini sudah ada sejak awal era Majapahit.

[6] Lihat, Agus Sunyoto, Op Cit

[7] Ibid

[8] Menurut sejarah, nama Bintoro sering dituturkan sebagai sebuah hutan yang dibuka oleh Raden Fatah. Kini “Bintoro” adalah nama sebuah kelurahan di Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Lihat, https://kabardemak.wordpress.com/tag/hutan-bintoro/, diakses 6 September 2019

[9] Lihat, Agus Sunyoto, Op Cit, hal. 383

[10] Ibid, hal. 384

[11] Ibid

[12] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*