Mozaik Peradaban Islam

Kyai Haji Ali Maksum (4): Tahun Kesedihan dan Tugas Berat Memimpin Krapyak

in Tokoh

Last updated on March 6th, 2020 01:11 pm

Tanah air sedang kacau akibat penjajahan Jepang. Begitu sampai di pesantren Krapyak, Ali Maksum tercengang melihat kondisi yang begitu memprihatinkan. Kondisi antara hidup dan mati.

Kyai Haji Ali Maksum. Foto: laduni

Oleh Khoirul Imam | Staf Pengajar Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta dan Pengasuh PPTQ Ibnu Sina Yogyakarta

Sekembalinya Ali dari Makkah, tahun 1941, kondisi tanah air sedang kacau balau karena penjajah Jepang baru saja masuk Indonesia. Salah satu efek dari pendudukan Jepang adalah sepinya kehidupan pesantren di seluruh tanah air.

Tidak terkecuali pesantren KH. Maksum sendiri yang semula santrinya ratusan, kini habis semua. Beberapa kali Ali Maksum, sebagai putra tertua dari KH. Maksum, mencoba mengembalikan dan memulihkan keadaan, namun usahanya menemui kegagalan. Segala langkah selalu dikomunikasikan dan dikonsultasikan kepada KH. Maksum dan saudara-saudaranya yang lain.

Sampai akhirnya, setelah melampaui beberapa kali usaha, kerja keras ini pun menuai hasil. Pondok Pesantren Al-Hidayah mulai didatangi santri kembali. Hal ini mengakibatkan kecintaannya kepada pesantren ayahnya semakin mendalam.

Akan tetapi, justru saat ketertambatan hatinya pada pesantren ini semakin mendalam, dia justru mendengar berita buruk, bahwa pesantren mertuanya, Al-Munawwir, juga ditinggalkan oleh santrinya. Selain menjadi korban kekejian Jepang, juga dipengaruhi dengan kejadian besar, yaitu wafatnya KH. M. Munawwir pada hari Jum’at, 11 Jumadil Akhir, tepatnya tahun 1942 M.

Di sisi lain, putra-putra beliau waktu itu belum ada yang mumpuni menggantikan posisinya. Akhirnya putra-putra Krapyak meminta Ali Maksum untuk memimpin pesantren yang ditinggal wafat KH. M. Munawwir, tetapi permintaan tersebut ditolak secara tegas, karena dia mempunyai tugas berat membenahi pesantren Al-Hidayah.

Delegasi berikutnya pun datang kembali. Kali ini yang datang langsung adalah Nyai Sukis, istri almarhum KH. M. Munawwir. Dia pun lantas menerima untuk diboyong ke Krapyak, dan keluarga Lasem pun merelakannya.

Pesantren Al-Munawwir didirikan pada tahun 1910 oleh KH. M. Munawwir setelah menimba ilmu di Makkah selama 21 tahun. Pada waktu belajar di Makkah, beliau lebih menfokuskan diri pada Alquran dan piranti-piranti keilmuannya. Oleh sebab itu, pesantren ini lebih dikenal sebagai pesantren Alquran.

Meski demikian, bukan berarti ilmu-ilmu lainnya tidak dijangkau. KH. M. Munawwir juga mempelajari disiplin ilmu fikih, bahasa Arab, dan tasawuf. Akan tetapi, pesantren ini memang dikenal banyak menghasilkan kader-kader dalam ilmu-ilmu Alquran, seperti KH. Umar, Mangkuyudan Solo; KH. Zuhdi Kertosono; KH. Abu Umar Kroya; KH. Dimyathi Bumiayu; dan lain sebagainya.

Begitu sampai di pesantren Krapyak, Ali Maksum tercengang melihat kondisi yang begitu memprihatinkan. Kondisi antara hidup dan mati semacam ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Setelah mempertimbangkan secara matang, maka dengan gebrakan yang revolusioner dia mengambil keputusan untuk memulangkan seluruh santri yang masih tersisa.

Selama dua tahun penuh, yaitu antara 1942-1944, dia mulai mengambil inisiatif dengan membentuk kader baru dari kalangan keluarga dan beberapa orang dari tetangga pesantren. Dia membimbing dan menggembleng adik-adik iparnya yang masih kecil. Mereka digodok dengan disiplin tinggi dan ketekunan. Dari sejak subuh sampai malam hari mereka dijejali berbagai macam pengajian kitab, dan hanya berhenti pada waktu salat dan makan. Tak satu pun dari mereka yang kendur semangatnya.

Hasilnya pun sangat memuaskan, di mana kelak di kemudian hari mereka menjadi kyai-kyai yang alim meski tidak menuntut ilmu di pesantren lainnya. Mereka antara lain; Abdul Qadir, Mufid Mas’ud, Nawawi Abdul Aziz, Dalhar, Zainal Abidin, Ahmad, dan Warsun. Sedangkan dari tetangga pondok di antaranya; Wardan Joned (Kauman), Zuhdi Dahlan, dan Abdul Hamid.

Dalam mengembangkan pesantren Krapyak, dia dibantu oleh kakak-kakak iparnya yang lain, seperti Abdullah Affandi dan Abdul Qadir. Meski Ali Maksum berstatus sebagai adik ipar, tetapi dia dianggap sebagai yang tertua dari kalangan putra-putra keluarga Al-Munawwir. Karena secara umur dia memang lebih tua dari kedua putra KH. M. Munawwir di atas.

Dengan sentuhan tiga kyai muda itulah pondok ini mengalami kemajuan yang luar biasa, seperti penambahan bangunan dan lembaga pendidikan lainnya. Hingga akhirnya pada 2 Februari 1961 KH.R. Abdul Qadir dipanggil menghadap Allah Swt. Tujuh tahun kemudian, disusul KH.R. Abdullah Affandi yang meninggal dunia pada tanggal 1 Januari 1968. Kedua putra KH. M. Munawwir tersebut yang banyak mewarisi ilmu ayahnya dalam bidang Alquran.

Tiba akhirya Ali Maksum menjadi satu-satunya pemimpin tertinggi di Krapyak. Akan tetapi, beberapa putra-putra krapyak yang lain, yang dulu pernah diajar kini telah menjadi kyai-kyai yang alim. Seperti KH. Dalhar, KH. Zaini Munawwir, KH. Zainal Abidin, KH. Ahmad, KH. Ahmad Warsun, KH. Mufid Mas’ud, KH. Nawawi Abdul Aziz. Sehingga mereka banyak membantu mengajar dan mengembangkan pesantren.

Sejak Kyai Ali memimpin, terjadi keseimbangan antara pengajian Alquran dan kitab-kitab kuning. Kyai Ali sendiri sendiri lebih suka mengajar kitab-kitab kuning, sedangkan pengajian Alquran diamanatkan kepada KH. Ahmad, KH. Zaini, Kyai Najib Abdul Qadir, serta putri-putri Kyai Ali.

Lambat-laun pesantren ini semakin menunjukkan eksistensinya yang mengakar kuat. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa pesantren Al-Hidayah milik ayahnya hidup kembali di tangan Kyai Ali. Demikian pula dengan Pondok Pesantren Al-Munawwir, berkat sentuhan Kyai Ali mengalami perkembangan yang luar biasa pesat.

Sehingga pesantren ini tidak didominasi dengan satu kajian saja, melainkan telah menjadi lembaga pendidikan Islam yang hampir sempurna. Dalam satu komplek area terbentang berbagai sarana pendidikan, seperti Taman Kanak-kanak, Madrasah Diniyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Takhassus, dan Tahfidzul Quran.

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Sumber Referensi:

Disarikan dari A. Zuhdi Mukhdlor, KH Ali Maksum: Perjuangan dan Pemikiran-Pemikirannya (Cet.1, Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1989)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*