Masjid Cambridge; Dengan Design Eco-technology Pertama di Eropa

in Arsitektur

Peradaban Islam melarang hal yang sia-sia dan mubazir sebagai refleksi syukur terhadap berkah Tuhan. Inilah ide sentral yang secara prinsipil berada dibalik design Masjid Cambridge.”

—Ο—

 

Kabarnya, dalam waktu dekat, sebuah masjid bernilai 15 juta poundsterling (Rp 273 miliar) akan dibuka tahun ini di Cambridge, Inggris. Menurut rencana, pembangunan masjid yang bernama Cambridge Mosque ini akan selesai pada November 2018. Masjid yang dibangun di Mill Road ini sudah dimulai pada 5 September 2016 dan sudah meraup sumbangan – yang disalurkan melalui Cambridge Mosque Trust – dari ribuan umat Islam di Cambridge, Hongkong, Amerika Serikat, bahkan Indonesia.

Maket Masjid Cambridge. Sumber gambar: cambridge-news.co.uk

Yang istimewa dari masjid ini adalah design arsitekturnya yang menerapkan prinsip eco-technology, atau teknologi yang ramah lingkungan. Bila terwujud, Masjid Cambridge akan manjadi masjid pertama di benua Eropa yang menggunakan design teknologi ini. Di dunia, sudah ada beberapa masjid yang memakai eco-technology sebagai basis design arsitekturnya, seperti; “Mosque For All” yang berada di Albania; Masjid yang dijuluki “Ray of Light” di Dubai, yang dianggap sebagai Masjid yang dibangun dengan eco-technology pertama di era modern; Serta salah satu yang paling unik adalah Masjid Agung di Mali yang dibangun sekitar abad 13, yang saat ini mulai dianggap sebagai salah satu masjid yang paling rendah karbon. Masjid ini dibuat dari bahan lumpur yang dianggap sangat murah namun sangat kokoh.[1]

Ketua Cambridge Mosque Trust, Tim Winter, mencatat bahwa peradaban Islam melarang hal yang sia-sia dan mubazir sebagai refleksi syukur terhadap berkah Tuhan. Inilah ide sentral yang secara prinsipil berada dibalik design Masjid Cambridge. Desain keseluruhan untuk situs ini dikembangkan dari konsep ‘oasis’ yang tenang. Secara khusus, Masjid Cambridge didedikasikan bagi kesejahteraan sosial dan spiritual umat Muslim di kota Cambridge yang jumlahnya diperkirakan mencapai enam ribu jiwa. Namun demikian, masjid ini juga akan dijadikan area inklusif bagi semua warga kota. Rencananya, selain  kawasan khusus masjid, akan ada juga kafe, ruang pengajaran dan ruang pertemuan untuk digunakan oleh masyarakat setempat baik yang Muslim maupun non-Muslim.[2]

Diperkirakan masjid ini dapat menampung hingga 1000 orang jamaah. Masjid ini dilengkapi dengan area ibu dan anak yang kedap suara dan ruang perawatan wanita untuk terapi alami. Selain itu, masjid tersebut juga dilengkapi fasilitas pemakaman Islam, kafe, sekolah Al Qur’an untuk anak-anak dan taman bagi penghuni. Akan ada generator bertenaga surya di atap, fasilitas daur ulang air, pompa panas dan ventilasi pasif.[3]

Terkait dengan kualifikasi “eco” itu sendiri, dalam undang-undang Negara Inggris, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum membuat sebuah bangunan. Itupun tergantung jenis bangunannya, seperti bangunan untuk rumah, bangunan selain rumah dan sebagainya. Bila dirinci, terdapat sekitar 16 bab persyaratan yang setidaknya harus dipenuhi oleh masyarakat yang akan mendirikan bangunan, yang dikodefikasi dengan huruf (“Bagian A” sampai “Bagian Q”). Persyaratan ini mencakup aspek mulai dari standar pengerjaan, standar bahan yang digunakan, design struktur bangunan, standar safety (fire safety hingga sarana evakuasi), insulasi suara, ventilasi, air yang aman (untuk diminum), area yang mudah diakses (accessible access), termasuk juga memenuhi standar fasilitas yang ramah untuk orang cacat, dan seterusnya.

Menurut keterangannya, Masjid Cambridge ini akan melampuai (lebih baik) dari persyaratan yang ditentukan dalam “Peraturan Bangunan Bagian L” untuk insulasi termal dan kedap udara. Adapun “Peraturan Bangunan Bagian L” yang dimaksud oleh hukum Negara Inggris adalah terkait dengan sistem insulasi elemen bangunan, area jendela, pintu dan bukaan lainnya yang diizinkan, struktur kemudahan alur udara (permeabilitas udara), dan efisiensi sistem pencahayaan. Semua hal ini menjadi standar prosedur perizinan atau SAP (Standard Assessment Procedure) yang akan dihitung sebelum bangunan diizinkan berdiri. Target utama dari Peraturan Bangunan Bagian L ini adalah menekan emisi karbon untuk tempat tinggal.[4] Terkait hal tersebut, berdasarkan keterangan dari rancangan arsitektur bangunan Masjid Cambridge, bangunan ini memiliki rating EPC A, yang berarti sangat dekat dengan bangunan nol karbon alias eco friendly (ramah lingkungan).

 

Suasana di Ruang Utama Masjid dengan Pencahayaan Alami. Sumber gambar: worldarchitecturenews.com

 

Suasana di Ruang Utama Masjid dengan Pencahayaan Alami. Sumber gambar: pinterest.com

Dalam hal pencahayaan, masjid ini didesign dengan sistem atap yang terbuka namun dengan insulasi termal[5] yang baik, sehingga memaksimalkan sinar matahari menyinari seantero ruangan, namun bebas dari jangkauan panas matahari. Design ini akan membuat ruangan dalam masjid tersebut seakan menyala sepanjang tahun. Sedangkan pada malam hari, pecahayaan akan dipasok oleh aliran listrik dengan LED yang rendah energi. Terkait dengan pasokan listriknya, sebuah panel surya seluas 115 m2 akan menangkap energi matahari yang datang, untuk kemudian digunakan pada malam hari.

Disamping itu, listrik tersebut juga akan membantu mengimbangi pasokan listrik yang digunakan untuk menyalakan pompa panas yang berada di ruang bawah tanah, dan berfungsi untuk mengendalikan suhu internal. Jenis pompa panas ini mengekstrak energi dari suhu udara atau air tanah yang relatif stabil, sehingga dapat memanaskan atau mendinginkan bangunan seperlunya. Penggunaan energi akan diminimalkan dengan menggunakan sistem mode campuran – pemanasan statis dan ventilasi alami, ditambah dengan perpindahan pasokan udara dingin pada saat tingkat hunian sedang tinggi atau ketika terjadi kenaikan suhu panas.[6] Design ini akan mengurangi keseluruhan emisi karbon sekitar 10%. Ini hanya tahap awal, proses reduksi karbon akan terus meningkat seiring produksi listrik dari sumber terbarukan meningkat. Menurut Tim Winter, “Kami menggunakan teknologi konservasi terbaru dan atap hijau (green roofs) sehingga kami memiliki jejak karbon hampir nol”.[7]

Dinding bangunan ini menggunakan struktur rangka kayu yang berbeda dari bangunan bata dan blok tradisional. Dinding rangka kayu bisa memberikan kinerja insulasi (peredam) yang lebih baik dari pada dinding batu dengan ketebalan sebanding. Selain itu, rangka kayu juga dikenal luas sebagai konstruksi paling ramah lingkungan dan metode konstruksi yang ramah energi.[8] Di Inggris struktur dengan rangka kayu diizinkan sampai tiga lantai termasuk flat dan harus sesuai dengan peraturan bangunan di setiap aspek termasuk ketahanan terhadap api.

Struktur Rangka kayu yang memenuhi semua aspek bangunan, termasuk dinding dan tiang. Sumber gambar: blumer-lehmann.ch

 

Struktur Rangka Kayu juga meliputi Quba masjid yang berwarna emas. Sumber gambar: blumer-lehmann.ch

Aspek lainnya, air hujan yang jatuh akan ditampung, yang kemudian digunakan sebagai air untuk menyiram Toilet dan menyiram tanaman. Dari aspek eksterior, Masjid Cambridge didesign memiliki halaman yang luas dan ruang yang nyaman untuk bersepeda, serta nyaman bagi pejalan kaki. Saat memasuki masjid, pengunjung akan berjalan melalui jalur yang disemarakan oleh warna hijau dan air mancur, dengan sirkulasi udara yang lancar. Taman yang terkesan luas akan menjadi daya tarik eksterior bangunan ini. Rencananya, di taman ini akan ditanam 20 pohon cemara untuk meningkatkan kesan nuansa ‘oasis’ bagi bangunan tersebut.

 

Suasana di pintu masuk masjid. Sumber gambar: cibsejournal.com

Meski terdengar mewah, namun arsitek Marks Barfield telah merancang berbagai fitur dalam desain mereka dengan memastikan bahwa bangunan tersebut akan tampak serasi secara alami dengan bangunan yang terdapat di sekitar area Romsey/Mill Road. Dengan demikian, muncul citra inklusif dari bangunan ini, tidak menjadi menara gading di tengah-tengah pemukiman penduduk. Oleh sebab itu, dalam hal ketinggiannya, bangunan ini dirancang tidak lebih dari tiga lantai, dan fasadnya akan disesuaikan dengan struktur tetangga sekitar.[9] (AL)

 

Berikut ini video singkat tentang Masjid Cambridge. Sumber Video: youtube,com

 

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://www.greenprophet.com/2011/05/5-eco-mosques/, diakses 17 Januari 2018

[2] Lihat, https://www.cambridge-news.co.uk/news/cambridge-news/cambridges-new-15-million-mosque-13211275, diakses 17 Januari 2018

[3] Ibid

[4] Lihat, http://webarchive.nationalarchives.gov.uk/20150728221852/http://www.planningportal.gov.uk/buildingregulations/approveddocuments/partl/bcassociateddocuments9/acd, diakses 17 Januari 2018

[5] Peredam panas, yang berperan sebagai penghambat laju perpindahan kalor dari luar masuk ke dalam bangunan dan sebaliknya, sehingga panas matahari yang sampai kepada kulit bangunan dapat diminimalisir dan suhu ruang di dalam bangunan tetap dapat terjaga yang secara tidak langsung penggunaan energi listrik untuk pendingin ruangan dapat dihemat.

[6] Lihat, http://openecohomes.org/production/wp-content/uploads/Cambridge-Mosque-2017-final-pdf.pdf,

[7] Lihat, http://cambridgemosquetrust.org/index.php/mission-statement/eco-mosque/, diakses 17 Januari 2018

[8] Lihat, http://www.knaufinsulation.co.uk/sites/knaufuk/files/solution/3.1.2-timber-frame-walls.pdf, diakses 17 Januari 2018

[9] Lihat, http://cambridgemosquetrust.org/index.php/mission-statement/eco-mosque/, Op Cit