Masjid Hassan II, Casablanca, Maroko

in Arsitektur

Casablanca adalah kota terbesar di Maroko, terletak di sebelah Samudra Atlantik dan merupakan kota pelabuhan pelayaran utama bagi Maroko. Casablanca mirip dengan kota-kota industri modern lainnya di dunia yang sedang berkembang, bedanya di sini belum ada gedung pencakar langit dan infrastrukturnya belum sepenuhnya tersedia.[1] Tapi secara garis besar, Casablanca sudah masuk dalam kategori kota metropolis, di sana sudah tersedia jalur kereta api, jalan tol, dan bandar udara internasional. Sebagian besar perdagangan internasional Maroko terjadi di kota ini.[2]

Kota Casablanca dilihat dari udara. (Photo: paradiseintheworld.com)

Casablanca juga merupakan  kota pusat industri di Maroko, dengan produk utamanya adalah perikanan, produk ikan dalam kemasan, penggergajian kayu, pabrik furniture, material kosntruksi, kaca, dan produk-produk tembakau. Sedangkan bubuk gandum, kulit, wol, dan fosfat adalah produk ekspor utama mereka.[3]

Kota Casablanca di malam hari. (Photo: somalinet.com)

Dengan lokasinya yang dekat dengan Eropa serta akses yang mudah untuk masuk ke kawasan Afrika lainnya, kota ini merupakan tempat singgah yang ideal bagi wisatawan internasional sebelum melanjutkan perjalanan mereka. Kota ini menawarkan berbagai macam hal yang menarik bagi para wisatawan, yakni pantai untuk umum yang luas dan mal terbesar di Afrika. Namun ada satu hal yang paling menarik, yaitu keberadaan Masjid Agung Hassan II.[4]

Area pantai di Casablanca. (Photo: paradiseintheworld.com)

Masjid Agung Hassan II, mulai dibangun pada tanggal 9 Juli 1980 dan selesai pada tanggal 30 Agustus 1993. Masjid tersebut dibangun atas dasar prakarsa Raja Hassan II dengan misi untuk menjadikannya sebagai pusat identitas dan kultur orang-orang Maroko.[5] Masjid Agung Hassan II adalah salah satu bangunan keagamaan terbesar di dunia, dengan menara setinggi 200 m yang mana sudah bisa terlihat dari jarak 35 km. Pada malam hari menara tersebut memancarkan laser yang langsung mengarah ke Makkah, yakni kiblat sholat bagi Muslim. Hall utama untuk sholatnya dapat menampung 25.000 orang, dan keseluruhan kompleksnya bisa menampung sekitar 80.000 orang. Masjid ini juga menjadi pusat studi Al-Quran, perpustakaan, dan Museum.[6]

Masjid Hassan II, Casablanca, Maroko. (Photo: almouhtadoune.xooit.fr)
Masjid Hassan II di malam hari. (Photo: askideas.com)
Area Halaman Masjid Hassan II. (Photo: almouhtadoune.xooit.fr)
Laser dari menara Masjid Hassan II yang mengarah ke Makkah. (Photo: almouhtadoune.xooit.fr)
Pengunjung Masjid di malam hari. (Photo: askideas.com)

Hassan II menyatakan bahwa pembangunan masjid ini terinspirasi oleh sebuah kutipan salah satu ayat dalam Al-Quran yang menyatakan, “Dia berada di atas air,” sehingga kira-kira setengah dari masjid Hassan II dibangun di atas Samudera Atlantik. Hassan II menjelaskan bahwa, “(Dia) ingin Casablanca menjadi kaya dengan bangunan besar dan indah yang bisa dibanggakan sampai akhir zaman … (Dia) ingin membangun masjid ini (berada) di atas air, karena singgasana Allah berada di atas air.”[7]

Wajah Raja Hassan II dalam perangko Maroko

Di beberapa area masjid, terdapat lantai dari kaca, selain itu terdapat kaca yang mengarah ke pemandangan di langit dan lautan, sehingga dari dalam masjid para pengunjung memungkinkan untuk melihat pemandangan air di dasar masjid, lautan, dan langit. Hassan II melanjutkan, “karena itu, umat beriman yang pergi ke sana untuk sholat, untuk memuja pencipta daratan, (juga) dapat merenungkan langit dan lautan milik Allah.”[8]

Area dalam masjid Hassan II, atapnya dapat terbuka penuh hanya dalam waktu 5 menit. Dapat menampung sebanyak 25.000 orang. (Photo: almouhtadoune.xooit.fr)
Kaca dari dalam masjid yang menghadap lautan. (Photo: askideas.com)
Lantai kaca masjid, di bawahnya terlihat air laut. (Photo: askideas.com)
Koridor menuju areal dalam Masjid. (Photo: askideas.com)
Salah satu sudut di bagian dalam masjid. (Photo: askideas.com)

Ayat Al-Quran yang dimaksud oleh Raja Hassan II adalah ayat berikut ini:

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Makkah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (Al-Quran Surat Hud ayat 7)

Tidak hanya nantinya masjid ini difungsikan sebagai pusat identitas dan kultur orang-orang Maroko, bahkan material bangunannya pun diambil dari dalam negeri, misalnya marmer dari Agadir, cedar dari Atlas Tengah, dan granit dari Tafraoute. Satu-satunya material impor hanyalah kaca dari Venesia yang digunakan untuk kolom tempat lilin dan granit  putih.[9]

Salah satu ornamen eksterior di Masjid Hassan II. (Photo: almouhtadoune.xooit.fr)
Area tempat berwudhu dengan pahatan marmer. (Photo: askideas.com)

Meskipun berukuran sangat besar dan megah, namun mosaik bangunannya sangat rinci, ukiran kayu dan batu ditemukan di setiap detail titik bangunan. Selama pembangunan, sekitar 6.000 pengrajin dan seniman bekerja sepanjang waktu untuk merancang fitur dekoratif ini. Dengan atap yang dapat dibuka, lantai berpenghangat, dan dua area hammam (semacam tempat sauna tradisional dari Turki) dan area cuci, ia menawarkan berbagai macam fasilitas untuk semua pengunjung. Selain itu, bangunan ini diklaim dapat menahan gempa dan erosi, monumen kolosal Masjid Hassan II ini tak dapat disangkal lagi dapat bertahan untuk waktu yang sangat lama.[10]

Ornamen Interior Masjid Hassan II. (Photo: askideas.com)
Panoramic View Masjid Hassan II. (Photo: askideas.com)
Detail Ornamen di dalam masjid. (Photo: askideas.com)
Ornamen Kubah dilihat dari dalam. (Photo: askideas.com)
Ornamen Kubah Lainnya. (Photo: askideas.com)
Pahatan di bagian atas pilar masjid. (Photo: askideas.com)
Pahatan di pilar dililhat dari sudut lain. (Photo: askideas.com)
Detail ornamen pada langit-langit masjid. (Photo: askideas.com)

Tradisi seni Islam Maroko yang dipamerkan di masjid ini mencerminkan berbagai gaya arsitektur yang populer di berbagai daerah bersejarah Maroko. Gaya arsitektur yang melekat pada bangunannya antara lain gaya Berber, Mediterania, Timur, Afrika, dan Andalusia. Walaupun demikian, nilai-nilai Islam tetap dipertahankan, yakni dengan dilarangnya membuat dekorasi dengan gambar ikon tokoh manusia.[11] (PH)

Catatan Kaki:

[1] Sarah Fauska, “Hassan II Mosque: The Gem of Casablanca”, dari laman: https://www.moroccoworldnews.com/2016/09/197120/hassan-ii-mosque-gem-casablanca/, diakses 25 Oktober 2017.

[2] “Casablanca.” Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.

Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[3] Ibid.

[4] Sarah Fauska, Loc. Cit.

[5] Ibid.

[6] “Casablanca.” Loc. Cit.

[7] Sarah Fauska, Loc. Cit.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Mounir Haissour, “The Hassan II Mosque: a Jewel of Moroccan Sacred Art”, dari laman: https://www.moroccoworldnews.com/2016/07/191933/the-hassan-ii-mosque-a-jewel-of-moroccan-sacred-art/, diakses 25 Oktober 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*