Masjid Muhammad Cheng Ho Palembang (3): Persatuan Islam Tionghoa Indonesia

in Arsitektur

“Di sini (Masjid Cheng Ho Palembang), hampir setiap bulan ada (etnis Tionghoa) yang masuk Islam.”

–O–

Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) didirikan di Jakarta pada tanggal 6 Juli 1963 (berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PITI). PITI didirikan oleh Abdul Karim Oei Tjeng Hien, Abdusomad Yap A Siong, dan Kho Goan Tjin. PITI merupakan gabungan dari dua organisasi, yaitu Persatuan Islam Tionghoa yang berbasis di Medan dan Persatuan Tionghoa Muslim yang berbasis di Bengkulu.[1]

Salah satu halaman dari buku karya Abdul Karim Oei Tjeng Hien, pendiri PITI, yang berjudul “Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa”. Ki-Ka: Buya Hamka, Abdul Karim Oei Tjeng Hien, dan Bung Karno. Photo diambil di Bengkulu tahun 1938

Pada waktu didirikan PITI mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat luas, sehingga PITI dapat tumbuh dengan pesat dari kota ke kota dan akhirnya dapat menjadi organisasi keagamaan yang berskala nasional. Pada awalnya PITI didirikan dengan tujuan dakwah Islam kepada etnis Tionghoa di Indonesia. Pertimbangannya adalah bahwa dakwah terhadap etnis Tionghoa akan lebih efektif apabila dilakukan oleh sesama etnis Tionghoa yang muslim.[2]

Pada 15 Desember 1972 PITI mengubah namanya dari yang sebelumnya “Persatuan Islam Tionghoa Indonesia” menjadi “Pembina Iman Tauhid Islam”, yang apabila disingkat masih sama-sama PITI. Dasar perubahan nama tersebut adalah karena desakan pemerintah yang berkuasa pada saat itu melarang organisasi-organisasi yang bersifat etnis atau bahasa tertentu.[3]

Walaupun demikian, kendati sudah berganti nama, PITI masih identik dengan organisasi Islam yang diperuntukkan etnis Tionghoa. Pada tahun 1998, pemerintahan Soeharto digulingkan oleh gerakan rakyat yang disebut dengan Reformasi. Semenjak itu segala kebijakan negara yang bersifat mengekang dihilangkan. Pada bulan Mei tahun 2000, PITI mengubah kembali namanya ke nama lama, yaitu “Persatuan Islam Tionghoa Indonesia”.[4]

Dalam kiprahnya sebagai organisasi keislaman, PITI tercatat telah mendirikan masjid dengan nama Cheng Ho sebanyak 10 kali semenjak tahun 2002. Masjid tersebut tersebar di berbagai kota di Indonesia, sesuai dengan urutan berdirinya yaitu Surabaya, Jambi, Palembang, Kutai Kartanegara, Purbalingga, Gowa, Banjarmasin, Batam, Banyuwangi, dan Samarinda. Selain 10 masjid tersebut, masih ada lagi 5 masjid di kota lainnya yang sama-sama menggunakan atribut Cheng Ho.[5]

Di Palembang sendiri, dari sejak tahun 1985 sampai dengan tahun 1990-an PITI sempat mengalami kekosongan keorganisasian. Hingga pada 21 Juli 2001, Koordinator Wilayah PITI Sumatra Selatan didirikan kembali. Dengan semangat baru, mereka bertekad mendirikan masjid Cheng Ho di Palembang yang pada akhirnya terwujud pada tahun 2008.

Di bagian tenggara Masjid terdapat kantor Korwil PITI. Photo: Panji Haryadi/Gana Islamika

Pada tanggal 17 November 2017, reporter Gana Islamika berkesempatan menemui Ustadz Miftahudin Ghozaly, SQ., Al-Hafidz yang bertindak sebagai Imam tetap Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho Palembang sejak tahun 2015. Dia menjelaskan bahwa etnis Tionghoa Muslim di Palembang diperkirakan saat ini jumlahnya sudah ribuan, itu yang tidak aktif. Sementara yang aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh masjid Cheng Ho dalam satu kegiatan dapat mencapai ratusan.

Ustadz Miftahudin Ghozaly, SQ., Al-Hafidz, Imam Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho Palembang. Photo: Panji Haryadi/Gana Islamika

Ustadz Miftahudin juga menceritakan bagaimana proses orang-orang Tionghoa Palembang menjadi mualaf, “di sini (Masjid Cheng Ho Palembang), hampir setiap bulan ada (etnis Tionghoa) yang masuk Islam.” Lebih lanjut pria asal Cilacap itu menjelaskan bahwa orang-orang Tionghoa Palembang yang memilih menjadi muslim memiliki alasan yang beragam, di antaranya karena kagum melihat kedisiplinan orang-orang Islam dalam melaksanakan shalat, ada yang bergetar hatinya karena mendengar Adzan, dan ada juga yang masuk Islam karena menemukan ketentraman di dalamnya.

Adapun untuk kegiatan yang diselenggarakan oleh Masjid Cheng Ho tidak dibatasi hanya untuk etnis Tionghoa saja, masjid ini terbuka untuk muslim etnis apapun, “ini masjid umum, karena kebetulan yang memprakarsai itu PITI, jadi seolah masjid ini milik PITI. Secara fisik iya milik PITI, tapi secara pemanfaatan ya milik semua,” kata Ustadz Miftahudin.

Ustadz Miftahudin menjelaskan berbagai macam kegiatan di Masjid Cheng Hoo. Photo: Panji Haryadi/Gana Islamika

PITI sendiri walaupun pada namanya melekat identitas kesukuan, namun secara sifat mereka menekankan bahwa organisasi ini terbuka dan demokratis, tidak terbatas hanya pada muslim keturunan Tionghoa saja, bahkan para anggotanya dituntut untuk bisa berbaur dengan muslim Indonesia manapun. Sebagaimana yang tercantum dalam visi PITI, “mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi sekalian alam),” dan misinya, “mempersatukan muslim Tionghoa dengan muslim Indonesia, muslim Tionghoa dengan etnis Tionghoa non muslim, dan etnis Tionghoa dengan umat Islam.”[6] (PH)

Selesai.

Sebelumnya:

Masjid Muhammad Cheng Ho Palembang (2): Siapakah Cheng Ho?

Catatan Kaki:

[1] Mahyudi, Strategi Dakwah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Periode 2005-2010 Dalam Meningkatkan Ibadah Anggota, (Skripsi Jurusan Manajemen Dakwah, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2008, tidak diterbitkan), hlm 35.

[2] Ibid., hlm 36.

[3] Ibid.

[4] Ibid., hlm 37.

[5] Petrik Matanasi, “15 Masjid yang Mengabadikan Cheng Ho di Indonesia”, dari laman https://tirto.id/15-masjid-yang-mengabadikan-cheng-ho-di-indonesia-cpDS, diakses 21 November 2017.

[6] Mahyudi, Ibid., hlm 39-40.