Shah Cheragh: Masjid Dengan Interior Kristal yang Berkilau Laksana Berlian

in Arsitektur

Last updated on December 26th, 2017 05:58 am

Rasanya seperti masuk ke dalam istana dongeng. Begitulah kira-kira penggambaran interior Masjid Shah Cheragh.  Seperti ribuan permata yang ditebar ke segala penjuru, interior bangunan ini bertaburan warna warni cahaya yang mempesona.”

—Ο—

 

Shah Cheragh dalam bahasa Persia berarti Raja Cahaya merupakan bangunan yang menyerupai monumen sekaligus Masjid yang terletak di Shiraz, Iran. Tapi julukan “Raja Cahaya” untuk masjid ini memang tidak berlebihan. Masjid ini mungkin terlihat biasa saja dari luar. Tetapi begitu melangkah ke dalam, siapa pun akan dibuat terperangah. Kristal hijau yang menghiasi dinding dan langit-langit saling memantulkan cahaya, menciptakan ilusi optik yang memukau dari berbagai sudut. Rasanya seperti masuk ke dalam istana dongeng.[1]

Pintu masuk utama Shah Cheragh / Photo Credit: Thomas Pagano

 

Kubah masjid. Sumber gambar: http://dreamofiran.com

Menurut cerita, sekitar tahun 900 masehi, seorang pengembara melihat benda misterius yang bersinar dari kejauhan. Kemudian, ia menghampiri untuk mencari tahu dan akhirnya menemukan kuburan yang bercahaya.[2] Ia lantas menggalinya dan menemukan jasad yang masih mengenakan baju zirah. Petunjuk didapat ketika peziarah ini melihat cincin yang dikenakan jasad tersebut yang bertuliskan “al-‘Izzatu Lillāh, Ahmad bin Musa” yang berarti “Kebangaan itu adalah milik Tuhan, Ahmad putra Musa”. Dari sinilah disimpulkan bahwa makam ini adalah milik anak-anak Imam Mūsā al-Kāzhim, Imam ketujuh umat Islam mahzab Syi’ah.[3]

Berikut ini beberapa poto tentang suasana interior Shah Cheragh. Sumber gambar: platechno.com;

Sejak itu, situs ini menjadi tempat ziarah paling penting di kota Shiraz, Iran. Tempat ini baru dibangun secara serius pada abad 12 masehi, selama pemerintahan Atabeg Abū Sa’id Zangi ( 1130-an M) dari dinasti Zengid. Menteri utama raja dengan nama Amir Muqarrab al-din Badr al-din membangun ruang makam, kubah, dan juga sebuah teras bertingkat. Masjid tersebut tetap seperti ini kira-kira 200 tahun sebelum pekerjaan lebih lanjut diprakarsai oleh Ratu Tash Khātūn pada abad 14 masehi.[4]

Ia membangun baanyak hal di tempat ini, mulai dari aula bagi pengunjung, universitas dan juga makam untuk dirinya sendiri. Ia juga menyumbang Al Qur’an unik yang terbagi dalam tiga puluh jilid, ditulis menggunakan karakter thuluth[5] dengan dekorasi emas. Sayangnya tidak ada yang tersisa dari bangunan yang didirikan oleh Ratu Tash Khātūn, kecuali Al-Qur’an unik yang tetap ada dan terpelihara hingga sekarang di Museum Pars. Tanggal yang tertulis di dalam Al Qur’an tersebut menunjukkan bahwa ia ditulis pada tahun 1344-1345 M (754-746 H).[6]

Masjid dan hampir semua bangunan di kawasan ini sempat mengalamai beberapa kali renovasi. Umumnya, kerusakan disebabkan oleh gempa bumi. Tapi setiap kali perbaikan, justru selalu menyempurnakan karya sebelumnya.[7] Hingga bangunan masjid yang sekarang kita lihat begitu kemilau adalah karya yang dibuat pada tahun 1958 dengan perhitungan konstruksi yang lebih sempurna dari sebelumnya, termasuk kubah masjid yang diganti dengan struktur besi. Dan tak lupa, karya dekoratif dalam mosaik kaca cermin, prasasti di plesteran, ornamen, pintu yang ditutupi panel perak, serambi, dan halaman yang luas, sehingga menambah pesona masjid ini bagi setiap pengunjung yang datang. Adapun makam yang menjadi tujuan utama para peziarah ke sini, terletak di ceruk antara ruang di bawah kubah dan masjid. Makam tersebut dilindungi dengan pagar berlapis. Saat ini, Shah Cheragh sudah didaftarkan sebagai salah satu monument nasional bangsa Iran.[8]

Makam Ahmad bin Musa Al-Kazhim. Sumber gambar: platechno.com

 

Dekorasi kaca cermin di Shah Cheragh. Sumber gambar: http://dreamofiran.com

Salah satu komentar atau hasil renungan menarik disampaikan oleh Thomas Pagano, seorang ilmuan dan peneliti dari CSIRO, Australia. Setelah mengunjungi tempat ini dan menatap kreasi kaca cermin yang dilihatnya tidak utuh memantulkan bayangan, melainkan memantul kesemua arah. Ia mengatakan, “Mungkin saja di sana terdapat kebenaran sejati, tapi aku tidak akan pernah menangkap bayangannya dengan jelas. Sebagiannya mungkin mudah untuk dipahami, tapi sebagian lainnya samar sepenuhnya. Bisa jadi terdapat banyak perspektif, dan seseorang tidak akan pernah melihat (memahami) dengan tepat apa yang orang lain alami (bayangkan). Terlebih lagi, saya adalah pengamat dan saya melihat apa yang saya inginkan (atau harapkan) untuk dilihat, tapi dibutuhkan kedisiplinan dan kesadaran diri untuk mengenali suatu ilusi.” Diakhir komentarnya ia mengatakan, “Jangan berpikir bahwa kompleksitas yang mempesona adalah semua yang ada.”[10] (AL)

 

Berikut video singkat tentang profil Shah Cheragh. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=b9IFK8i0iSM

 

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://www.merdeka.com/gaya/mengagumi-kilauan-shah-cheragh-masjid-kristal-hijau-di-iran.html, diakses 24 Desember 2017

[2] Lihat, http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mozaik/16/11/09/ogczc1359-mengintip-keindahan-shah-cheragh-masjid-berpantulkan-jutaan-cahaya, diakses 24 Desember 2017

[3] Lihat, https://kumparan.com/@kumparantravel/menengok-masjid-shah-cheragh-di-iran-yang-berhiaskan-kilauan-berlian, diakses 24 Desember 2017

[4] Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Shah_Cheragh, diakses 24 Desember 2017

[5] Thuluth artinya “sepertiga”, adalah jenis naskah kaligrafi Islam yang ditemukan oleh Ibn Muqlah Shirazi. Artinya bahwa lebar huruf terkecil adalah sepertiga dari bagian terluas. Ini adalah naskah yang elegan dan berwibawa, yang digunakan pada abad pertengahan dan kerap dijadikan sebagai hiasan masjid. Berbagai gaya kaligrafi kemudian berevolusi dari teknik Thuluth ini. Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Thuluth, diakses 24 Desember 2017

[6] Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Shah_Cheragh, Op Cit

[7] Masjid tersebut lagi-lagi mengalami perbaikan yang diperlukan pada tahun 1506 (912 H. – di bawah pemerintahan Shāh Ismā’īl I), yang diprakarsai oleh penjaga masjid pada saat itu, Mirza Habibullah Sharifi. Masjid tersebut diperbaiki lagi pada tahun 1588 (997 H) ketika setengah dari struktur runtuh akibat gempa. Selama abad kesembilan belas, masjid tersebut rusak beberapa kali dan kemudian diperbaiki. Pada tahun 1827 (1243 H), Fat’h ‘Alī Shāh Qājār menumbangkan pagar hias untuk makam tersebut. Gempa lainnya mengguncang masjid pada tahun 1852 (1269 H), dan perbaikan dilakukan oleh Muhammad Nasir Zahir ad-Dawla. Lihat, Ibid

[8] Ibid

[9] Lihat, http://blog.platechno.com/2014/09/gemerlapnya-desain-interior-masjid-shah.html, diakses 24 Desember 2017

[10]Perhaps there is one true reality, but I will never get a clear reflection of it. Some parts may be easy to figure out but other parts are completely obscure. There can be many different perspectives and no one ever sees exactly what anyone else does. Moreover, I’m the observer and I see what I want (or hope) to see, but it takes discipline and self-awareness to recognize illusions. Discovering the truth requires moving away from familiar stances, getting new perspectives and then making sense of the connections between old and new information. Sometimes it’s even fine to take a break from reducing and deducing to bask in the glorious complexity and splendor of the mirrors themselves. Just don’t think that the dazzling complexity is all there is.” Lihat, http://dreamofiran.com/shah-cheragh-mausoleum-the-mirrored-mosque-of-shiraz/, diakses 24 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*