Masjid Sheikh Zayed, Abu Dhabi

in Arsitektur

“Biaya pembangunan masjid ini diperkirakan mencapai 2,167 miliar dirham UAE. Di dalam Guinness Book of World Records, masjid ini meraih tiga rekor dengan karpet terbesar, lampu gantung terbesar, dan kubah terbesar.”

–O–

Masjid Sheikh Zayed. Photo: Mohammad Nadzir/Flickr

Abu Dhabi merupakan sebuah kota yang memiliki masjid terbesar ketiga di dunia – setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Masjid ini dinamai dengan nama pendiri dan Presiden pertama Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Semasa hidupnya, dia sendirilah yang memilih tempat dan memiliki pengaruh besar dalam menentukan arsitektur dan desain masjid. Sheikh Zayed menginginkan masjid ini dapat terlihat dari semua arah, maka dia membuat masjid ini dibangun dengan ketinggian mulai dari 11 meter di atas permukaan laut, dan 9,5 meter di atas permukaan jalan.[1]

Sejak negara ini didirikan pada tahun 1971, UEA telah dengan hati-hati melakukan investasi untuk pembangunan dan kemajuan. UEA dikondisikan untuk menjadi pusat dari investasi internasional dan bursa tenaga kerja. Kemudian pada periode tersebut terjadi ledakan ekonomi yang sangat besar, harga minyak dunia menembus rekor baru dalam beberapa tahun terakhir. Atas pencapaian besar ini, Sheikh Zayed ingin merayakannya dengan mendirikan sebuah masjid yang indah di ibu kota UEA, Abu Dhabi.[2]

Masjid ini baru dibuka pada tahun 2007, dia masuk ke dalam sepuluh masjid terbesar di dunia dengan kapasitas total mencapai 40.000 jamaah. Masjid ini merupakan merupakan proyek raksasa yang memakan waktu 12 tahun untuk penyelesaiannya. Biaya pembangunan diperkirakan mencapai 2,167 miliar dirham UAE. Di dalam Guinness Book of World Records, masjid ini meraih tiga rekor dengan karpet terbesar, lampu gantung terbesar, dan kubah terbesar dari jenis ini di dunia.[3]

 

Desain Arsitektur

Dengan lebih dari 80 kubah marmer yang berada di atas garis atap yang dipagari oleh 1.000 pilar dan diselingi oleh empat menara setinggi 107 m, Masjid Agung Sheikh Zayed adalah mahakarya arsitektur dan desain di era Islam modern. Lebih dari 100.000 ton marmer putih murni Yunani dan Macedonia digunakan dalam konstruksinya. Marmer tersebut dihiasai dengan batu-batu semi mulia yang disusun supaya menyerupai bunga. Bebatuan tersebut antara lain lapis lazuli, batu akik merah, batu kecubung, abalone, jasper, dan mutiara. Dikombinasikan dengan keramik geometris tradisional, maka kesan kontrasnya menjadi lebih kentara.[4]

Dilihat dari kejauhan. Photo: GetYourGuide
Suasana masjid di malam hari. Photo: World for Travel

Gaya arsitektur masjid ini dipengaruhi oleh gaya Maroko yang dikombinasikan dengan kubah-kubah khas Ottoman. Di dalamnya terdapat aula shalat utama; dan dua ruang shalat kecil, satu khusus untuk wanita, dan satu lagi untuk shalat harian. Aula ini terhubung langsung melalui pintu dengan halamannya yang luas. Luas total bangunan melebihi 22.412 m², sekitar lima kali  ukuran lapangan sepakbola, dibangun dalam dua fase. Tahap pertama terdiri dari membangun cangkang beton bertulang, kemudian dilanjutkan dengan fase lain yang meliputi pembuatan kelongsong marmer untuk seluruh struktur, hiasan, dan ukiran serta pekerjaan lansekap.[5]

Interior di dalam masjid. Photo: Bert Roelse/Flickr
Batu semi mulia yang dibentuk menyerupai bunga ditempel di atas marmer putih. Photo: Abdul Awaes/Flickr
Lorong menuju aula shalat utama. Photo: Naufal MQ / Getty Images

Ketika interior masjid ini dibuat, proses pembangunannya dipimpin oleh penulis kaligrafi ternama dari Uni Emirat Arab, Suriah, dan Yordania, mereka dibantu oleh seniman-seniman lainnya yang berasal dari seluruh dunia. Selain motif bunga yang telah disinggung di atas, di sana juga terdapat tulisan al-Quran yang ditulis dengan tiga gaya kaligrafi Arab. Selain itu, para desainer juga menggunakan mosaik untuk menutupi seluruh halaman masjid seluas 17.000 meter persegi, dan dengan demikian itu dianggap menjadi halaman masjid terbesar di seluruh dunia.[6]

Berbagai perusahaan besar internasional yang mengkhususkan diri dalam pembuatan lampu kristal juga dilibatkan dalam pembangunan masjid ini. Sebanyak tujuh lampu kristal gantung berlapis emas dalam berbagai ukuran, yang terbuat dari kristal Swarovski, terpasang di masjid ini. Lampu kristalnya yang paling mengkilap merupakan lampu kristal terbesar di dunia.[7]

Lampu kristal terbesar di dunia. Photo: abudhabi2.com
Karpet terbesar di dunia, dibuat oleh 1.500 pengrajin asal Iran. Photo: Chelsea Cleaning

Fitur menakjubkan lainnya dari masjid ini adalah karpet besar di aula shalat utama yang ukurannya lebih dari 5.625 m2. Karpet ini dibuat oleh tangan oleh sekitar 1.300 pengrajin Iran, dibuat dari 35 ton wol dan 12 ton kapas. Dengan total 2.268  knot, karpet ini menjadi yang terbesar di dunia. Nilainya diperkiraan sebesar 30 juta dirham.[8] (PH)

Galeri photo lainnya:

HISHAM BINSUWAIF/Flickr
szgmc.gov.ae
szgmc.gov.ae
szgmc.gov.ae

Catatan Kaki:

[1] “Sheikh Zayed Grand Mosque”, dari laman https://www.abudhabi.ae/portal/public/en/homepage/culture-and-recreation/cultural-and-historical-sites/sheikh-zayed-grand-mosque;jsessionid=aHFUSe23F3cGPXVRe_2n2kZVyM8oEaPHzTTPoEAWeb5KRsw2G4Gs!573265167!761634802!1526127521207, diakses 12 Mei 2018.

[2] Rabah Saoud, “Sheikh Zayed Great Mosque in Abu Dhabi: Islamic Architecture in the 21st Century”, dari laman http://www.muslimheritage.com/article/sheikh-zayed-great-mosque-abu-dhabi-islamic-architecture-21st-century, diakses 12 Mei 2018.

[3] Ibid.

[4] “Sheikh Zayed Grand Mosque”—Lonely Planet, dari laman https://www.lonelyplanet.com/united-arab-emirates/abu-dhabi/attractions/sheikh-zayed-grand-mosque/a/poi-sig/1307306/361165, diakses 12 Mei 2018.

[5] Rabah Saoud, Ibid.

[6] “Sheikh Zayed Grand Mosque”, Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid.