Muhammad Sang Cahaya

in Tasawuf

Betapapun tingginya dan agungnya Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya untuk menerangi alam raya, beliau tetap harus ditegaskan sebagai ‘abduhu (hamba-Nya). Dan, menurut beberapa riwayat, predikat ‘abduhu ini memang demikian disenangi oleh Nabi Muhammad. Sungguh, dalam kehambaan itu, Nabi dan semua manusia menemukan kebebasan dari segala beban dan ketenangan yang tiada terkira, lantaran keyakinan si hamba bahwa Tuhannya adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 —Ο—

 

Nur (cahaya) adalah penerang kegelapan. Yang terpekat dari semua kegelapan adalah kebodohan. Karenanya, penerang ruang gelap kebodohan mestilah nur yang paling terang, yang mampu mencerahi segenap titik gelap kehidupan. Dan itulah yang oleh para sufi disebut sebagai Nur Muhammad, yang dengannya kebodohan umat manusia dapat dicerahkan dan kemanusiaannya dapat dikukuhkan. Allah berfirman:

Se­sungguhnya telah datang dari Allah kepada kalian sebuah cahaya dan kitab yang jelas. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapgulitaan menuju cahaya dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.(QS. Al Maidah: 15-16)

Dalam dua ayat tersebut, Allah mengaitkan pancaran Nur Muhammad dengan dasar-dasar mistis dalam Islam: “Kitab yang jelas (kitabun mubin)”, “jalan keselamatan (subul as-Salam)”, “petunjuk (yahdi bihi)”, dan “jalan yang lurus (shirathin mustaqim)”. Dengan kata lain, untuk memahami “kitab realitas”, manusia membutuhkan perantara cahaya kenabian, yang dalam hal ini adalah Nur Muhammad.

Adalah mustahil melihat apalagi membaca dan memahami ayat dan petunjuk alam semesta dalam kegelapan. Karenanya, sebagai cahayaa Ilahi, Muhammad diutus untuk “menjelaskan (liyubayyina)” seluruh tanda dan pentunjuk alam ciptaan (QS. Ibrahim: 4).

Itulah pula mengapa kenabian Muhammad dimulai dengan sebuah titah: Iqra bismi rabbika (Bacalah dengan nama Tuhammu)! Mulailah segala sesuatu dengan perspektif Ilahi (dengan nama Tuhanmu) yang menyeluruh.

Tanpa perspektif tersebut, segala sesuatu akan tampak acak dan kabur. Dengan mudah orang kehilangan konteks dan tujuan, lalu terjerat dan tersesat oleh rumitnya pantulan-pantulan realitas. Minat yang kuat pada detail, pantulan, atom, molekul, virus, kasus, bidang, isu, dan segala hal yang partikular-individual mengemuka sebagai pelarian yang alami. Dan dengan landasan trials and errors, misi penciptaan manusia tersedot pada penyelidikan mengenai clueless nitty-gritty dan potongan-potongan informasi yang bertebaran.

Rasanya sulit membedakan orang seperti di atas dengan pejalan yang tertatih-tatih di dalam kegelapan. Keduanya akan sama-sama suka bermain dalam trials and errors lalu merasa aman dengan menjamah segala apa yang ada di depannya. Allah berfirman:

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyulut api (untuk memperoleh penerangan), namun manakala (api itu) mulai menerangi sekelilingnya, Allah padamkan cahaya mereka dan membiarkan mereka (tersesat) dalam (lipatan) kegelapan dan (sehingga) mereka tidak dapat melihat. (QS. Al Baqarah: 17)

Muhammad sebagai nur berkaitan erat dengan peta yang jelas (kitabun mubin) dan jalan yang lurus. Dengan bantuan Nur Muhammad, petunjuk-petunjuk peta baru akan dapat terbaca dan perjalanan akan menjadi mudah. Sebaliknya, dalam kegelapan, peta takkan dapat terbaca dan semua petunjuk menjadi tak nyata.

Namun demikian, peta yang jelas dan pelita yang terang tidak akan berarti tanpa fungsi pengelihatan yang baik pada pelaku perjalanan. Itulah mengapa, selain diutus sebagai nur yang menerangi alam, Muhammad juga diutus untuk menerangi diri manusia. Allah berfirman:

Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul di antara kalian untuk membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami dan mensucikan kalian dan mengajari kalian kitab dan hikmah, dan mengajari kalian apa yang belum kalian ketahui. (QS. Al Baqarah: 151)

Atas dasar itu, kehadiran Muhammad sebagai pelita yang terang dan menerangi (sirajan muniran, QS. Al Ahzab:46) bukan bersifat aksidental, melainkan inheren dan esensial, terhadap penciptaan alam semesta. Nur Muhammad adalah raison d’atre penciptaan alam semesta, lantaran tanpa nur itu alam menjadi gelap dan manusia menjadi buta dan sia-sialah penciptaan tersebut.

Dalam konteks inilah, kita dapat memahami makna hadis qudsi yang berbunyi: “lawlaka ya Muhammad, lama khalaqtu al-aflak (Tanpamu, hai Muhammad, tak akan Ku ciptakan angkasa raya).”[1] Dalam hadis qudsi yang lain, Allah berfirman: Pertama yang Kuciptakan adalah cahaya Muhammad. Menurut Mulla Sadra, hadis di atas tidak bertentangan dengan hadis yang menegaskan akal sebagai awal ciptaan. Karena, seperti dikemukakannya dalam Syarh Ushul al-Kafi, akal dan Nur Muhammad mempunyai fungsi yang identik. Melalui keduanya, tujuan utama penciptaan, yakni pengenalan dan penyembahan kepada Allah, dapat tercapai.[2]

Di ranjang kematiaanya, Syibli melantunkan bait-bait puisi berikut:

Setiap rumah yang engkau diami

Tiada membutuhkan lampu sama sekali

Dan pada hari ketika bukti-bukti dibawakan

Maka buktiku adalah wajahmu.[3]

Dalam Mathiq ath-Thayr, Fariduddin Attar bersyair:

Yang pertama-tama muncul dari kedalaman Yang Tak Terlihat adalah cahaya beliau yang murni – tak perlu dipertanyakan dan tak perlu diragukan lagi!

Cahaya yang tinggi ini membuka tanda-tanda – Tahta, Kursi, Pena dan Lembaran Catatan dengan demikian muncul.

Satu bagian dari cahayanya yang murni menjadi dunia, dan bagian lain menjadi Adam dan benih umat manusia.[4]

Kendati demikian, betapapun tingginya dan agungnya Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya untuk menerangi alam raya, beliau tetap harus ditegaskan sebagai ‘abduhu (hamba-Nya). Dan, menurut beberapa riwayat, predikat ‘abduhu ini memang demikian disenangi oleh Nabi Muhammad. Sungguh, dalam kehambaan itu, Nabi dan semua manusia menemukan kebebasan dari segala beban dan ketenangan yang tiada terkira, lantaran keyakinan si hamba bahwa Tuhannya adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (MK)

 

Catatan kaki:

[1] Annemarie Schimmel, Dan Muhammad adalah Utusan Allah, (Mizan, 1991), hl. 183.

[2] Mulla Sadra, Syarh Ushul al-Kafi, Intisyarat Badar, Qum, 1413 H.,hal. 90.

[3] Schimmel, Op Cit., hal. 177-178

[4] Ibid. 179