Pasukan Salib Merebut Yerusalem (3)

in Sejarah

Perebutan wilayah Yerusalem, menandai dimulainya rangkaian panjang sejarah Perang Salib. Perang ini, tidak hanya membawa identitas agama Kristen, tapi juga identitas bangsa Eropa secara keseluruhan. Perpaduan dua identitas kolektif ini (Kristen dan Eropa) dibentuk pada masa Kekaisaran Carolingian yang mencapai puncaknya pada era Charlemagne. 

 

Eropa abad pertengahan sebenarnya sudah menjadi pusat populasi terbesar umat Kristen di Dunia. Agama ini dianut tidak hanya di Eropa Tengah, tapi juga hingga ke Saxon, Hunggaria dan bangsa Viking di Utara. Meski saat itu kesultanan Umayyah II sudah berkuasa di Andalusia dan sudah pula kokoh menacapkan pengaruh di Suriah, tapi mereka tidak bisa menembus sistem pertahanan Kekaisaran Carolingian yang menguasa Eropa Tengah.

Adalah Charles Martel, sosok yang berhasil secara fenomenal menghentikan laju ekspedisi militer kaum Muslimin di Eropa, dalam sebuah pertempuran yang terjadi di daerah yang bernama Tours di Perancis. Pertempuran yang dikenal sebagai Battle of Tours ini, terjadi pada 732 M. Ketika itu Charles Martel yang merupakan pemimpin bangsa Frank, berhasil mematahkan mitos tak terkalahkan kaum Muslimin di Eropa sejak pertama kali penaklukkan yang dipimpim oleh Tariq bib Ziyad pada 711 M. Yang lebih mengagumkan, Martel dan pasukannya mengalahkan kaum Muslimin tanpa satupun pasukan kavaleri, dan dengan persejataan seadanya.[1]

 

Peta kekuatan di kawasan Eropa barat sekitar tahun 732 M. Sumber gambar: classichistory.net

 

Kemenangan Charles Martel dalam Battle of Tours menjadi sumber inspirasi perlawanan bangsa Eropa yang ketika itu sudah pesimis dengan daya tahan mereka menghadapi gempuran kaum Muslimin yang terus berekspansi di selatan (Semenjung Iberia). Setelah Battle of Tours, tidak terdengar lagi adanya rencana kaum Mulimin di Andalusia untuk meluaskan kekuasaanya di Eropa.[2] Tidak mengherankan bila di kemudian hari, para sejarawan menganggap bahwa kemenangan Charles Martel dalam pertempuran ini tidak hanya menyelamatkan Eropa dari kooptasi kaum Muslimin, tapi juga menyelamatkan agama Kristen dari kepunahan.[3]

 

 

Di Eropa, nama Charles Martel melambung menjadi simbol nasionalisme dan agama. Kemenangannya dalam Battle of Tours menjadi sumber legitimasi untuk mendirikan kekuasaan yang lebih besar dari sekedar wilayah tradisional Prancis atau yang lebih dikenal sebagai bangsa Frank. Dari sinilah lahir kekaisaran Carolingian, yang menjadi dasar berdirinya identitas bangsa Eropa yang kita kenal hari ini.

Kekaisaran ini mencapai puncaknya di bawah pemerintahan cucu Charles Martel yang bernama Charlemagne. Dia dilantik menjadi raja Carolingian pada 768 M, menggantikan ayahnya, Pepin III. Kekaisaran Carolingian pada masa pemerintahan Charlemagne meliputi sebagian besar Eropa Barat, setara dengan luasnya wilayah Kekaisaran Romawi di masa lalu. bahkan bila dibandingkan secara kualitatif, bisa dikatakan Charlemagne melampaui capaian Romawi atas Eropa. Bila bangsa Romawi, sempat menaklukkan jerman salam sebuah pertempuran, Charlemagne secara meyakinkan menghancurkan semua perlawanan Jerman dan memperluas wilayahnya ke Elbe, bahkan memiliki pengaruh hingga ke kawasan Stepa di Rusia.[4]

Dari segi pemerintahan, nilai-nilai ajaran Kristen menjadi pondasi etik pemerintahan Carolingian. Kelak, selain dikenal sebagai kerajaan Carolingian, wilayah kekuasaan Charlemagne juga dikenal sebagai Gereja Katolik Roma (Roman Catholic) yang menguasai wilayah barat Eropa. Dengan menyatunya nilai-nilai agama Kristen dengan kekaisaran Carolingian,  secara otomatis agama Kristen pun tumbuh seiring dengan semakin kuatnya pengaruh kekaisaran Carolingian di Eropa. Kokohnya eksistensi kekaisaran inilah yang membuat penetrasi pengaruh kaum Muslimin terhenti di Semenanjung Iberia di bagian selatan, dan hanya sampai di Turki di sebelah timur.

Tapi seperti kisah Raja Airlangga di pulau Jawa, yang ketika wafatnya terpaksa harus membagi dua wilayah kekuasaannya. Di Eropa, beberapa tahun sebelum Charlemagne wafat pada 814 M, potensi perebutan kekuasaan muncul. Sehingga dia memutuskan agar wilayah kekuasaannya dibagi untuk anak-anaknya. Sayangnya dari sinilah sumber pertikaian itu dimulai. Dimana sebagian para pewaris Charlemagne merasa tidak puas dengan hasil pembagian yang diberikan.

Sepeninggal Charlemagne, Eropa tengah diwarnai dengan perang saudara dan perebutan wilayah kekuasaan di antara para pewaris tahta. Dan ironisnya, seiring meningkatnya segreasi politik antara para penguasa di Eropa, otoritas gereja pun terbelah menjadi dua. Sebagaimana sudah dijelaskan pada edisi sebelumnya, pada tahun 1054 M, otoritas tertinggi agama Kristen, yang menjadi satu-satunya unsur pemersatu di antara mereka kini terpecah dalam dua kubu, yaitu Gereja Katolik Roma (Roman Catholic) yang berkuasa di barat, dan Romawi Ortodok (The Eastern Orthodox Faith) yang berkuasa di Timur dengan pusat kekuasaan di Byzantium.[5]

Dilihat dari perspektif strategis, agregat kekuatan yang mewarnai dua otoritas tertinggi agama Kristen ini tidak hanya ditentukan oleh faktor internal, tapi juga oleh faktor eksternal. Yaitu dinamika yang terjadi di dunia Muslim yang berbatasan dengan mereka. Dalam konteks ini, Gereja Katolik Roma agaknya lebih diuntungkan. Pada awal abad 11 M, Dinasti Umayyah II yang berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaannya, sedang mengalami masa kemunduran yang akut. Disisi lain, ideologi reconquista (upaya penaklukan kembali) – yang  menurut legenda sudah lahir hanya 10 tahun pasca serangan Tariq bin Ziyad ke Semenajung Iberia – makin menguat dan mendapat partisipasi luas baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat jelaya. Tak ayal, kondisi ini membuat kedudukan Gereja Katolik Roma di wilayah barat Eropa makin tak tergoyahkan.

Adapun Byzantium, situasi yang dihadapinya di Timur berbanding terbalik dengan yang dihadapi saudaranya di Barat. Selain harus menghadapi penetrasi saudaranya dari barat, Byzantium juga harus menghadapi determinasi Kebangkitan Dinasti Saljuk di kawasan Asia. Setelah berhasil meredam pengaruh Abbasiyah di Persia, Saljuk mulai memporak-porandakan sistem pertahanan wilayah penyanggah Byzantium di Balkan dan Anatolia barat laut (Turki modern). Pada 1095, Byzantium menyadari bahwa sebenarnya dia sudah kalah. Satu-satunya jalan adalah dengan menyudahi permusuhan dengan saudaranya di Barat, untuk kemudian bersama-sama menghalau penetrasi kaum Muslimin di Timur. (AL)

 

Bersambung…

Pasukan Salib Merebut Yerusalem (4)

Sebelumnya:

Pasukan Salib Merebut Yerusalem (2)

Catatan kaki:

[1] Lihat, http://www.holyromanempireassociation.com/carolingian-empire.html, diakses 18 Desember 2018

[2] Lihat, https://www.britannica.com/event/Battle-of-Tours-732, diakses 18 Desember 2018

[3] Lihat, http://www.classichistory.net/archives/battle-of-tours, diakses 18 Desember 2018

[4] Lihat, http://www.holyromanempireassociation.com/carolingian-empire.html, diakses 18 Desember 2018

[5] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal. 111

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*