Penyebaran Islam di Tanah Sunda (3): Keturunan Sang Prabu Yang Memilih Islam

in Islam Nusantara

“Meskipun Prabu Siliwangi tidak menyetujui keinginan Syarif Hidayatullah, ia tidak menghalangi cucunya itu untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Pajajaran”

—Ο—

 

Dalam naskah Carita Puwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon yang ditulis pada tahun 1720 M, menuturkan bahwa Ki Gedeng Sindangkasih syahbandar sebelum Ki Gedeng Tapa (digantikan ki Gedeng Tapa setelah wafat) memiliki kewenangan yang besar. Tidak hanya sebagai Syahbandar di Cirebon semata. Ternyata juga memiliki kewenangan mengangkat menantunya Raden Pamanah Rasa sebagai Maharaja Pakwan Pajajaran dengan gelar Sang Prabu Siliwangi. [1]

Adapun istri pertama Prabu Siliwangi adalah Nyi Ambet Kasih putri kandung Ki Gedeng Sindangkasih. Istri kedua adalah Nyi Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa. Istri ketia yaitu Nyai Aciputih putrid dari Ki Dampu Awang.[2]

lukisan Prabu Siliwangi yang berada di Keraton Kasepuhan, Cirebon. Sumber gambar http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/stcontent.php?id=99&lang=id

Dari peristiwa pergantian kedudukan di atas , antara Ki Gedeng Tapa dan Prabu Siliwangi memiliki kesamaan pewarisan. Keduanya memperoleh kekuasaan yang berasal dari Ki Gedeng Sindangkasih setelah wafat. Hubungan antara keduanya dikuatkan dengan pertalian pernikahan. Prabu Siliwangi mempersunting putri Ki Gedeng Tapa yaitu Nyi Subang Larang. Dengan demikian Prabu Siliwangi adalah menanti Ki Gedeng Tapa.[3]

Dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyai Subang larang, lahir tiga keturunan yaitu Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Sengara atau Raden Kian Santang. Setelah dewasa Raden Walangsungsang diperkenankan meninggalkan Pajajaran untuk memperdalam ilmu Islamnya yang kemudian disusul oleh adiknya yaitu Lara Santang. Diperjalanan menuju Cirebon Raden Walangsungsang menikah dengan Nyai Endang Geulis.[4]

Tempat pertama Islam diperkenalkan di wilayah Cirebon adalah pelabuhan Muara Jati dan Dukuh Pasambangan. Orang pertama yang mengenalkan Islam adalah Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurul Jati yang kemudian menetap dan mendirikan pesantren. Raden Walangsungsang, Lara Santang dan Endang Geulis yang kemudian berguru pada Syekh Nur Jati membuka pedukuhan[5] di daerah Tegal Alang-Alang. Sementara dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Syekh Nurjati merupakan murid dari pangeran Walangsungsang.[6] Nama daerah Tegal Alang-Alang sendiri dirubah menjadi Caruban setelah daerah tersebut di bangun oleh Raden Walangsungsang.

Atas anjuran Syekh Nurjati, Raden Walangsungsang dan Lara santang akhirnya melaksanakan ibadah haji. Dalam masa ibadah haji di Makkah, Lara Santang dipersunting oleh Maulana Sultan Mahmud  sultan dari Mesir atau disebut pula Syarif Abdullah bin Nurul Alim dari keluarga Bani Hasyim. Setelah haji, Lara Santang dikenal dengan nama Syarif Mudaim. Dari pernikahannya dengan Syarif Abdullah, lahir putranya yaitu Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati dan putra keduanya adalah Syarif Nurullah.

Sedangkan Walangsungsang setelah haji, dikenal dengan nama Haji Abdullah Uman. Karena sebagai kuwu di Pakungwati, dikenal dengan nama Cakrabuana. Prestasi Cakrabuana yang demikian menarik perhatian sang Prabu Siliwangi akhirnya ia diberi gelar Sri Mangana. Pengakuan Prabu Siliwangi yang demikian ini, menjadikan adik Walangsungsang yakni Raja Sangara atau Raden Kian Santang masuk Islam dan naik haji kemudian berubah nama menjadi Haji Mansur.[7]

Pada masa Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati memimpin kesultanan Cirebon, proses penyebaran Islam terjadi secara meluas.  Terutama terlihat di wilayah kesultanan Cirebon, antara lain Luragung, Kuningan, Banten, Sunda Kelapa, Galuh, Sumedang, Japuta, Talaga, Losari dan Pasir Luhur.

Syarif Hidayatullah dilahirkan di Makkah pada tahun 1448 M putra pertama dari pernikahan Syarif Abdullah dengan Syarifah Mudaim atau Lara Santang. Kesultanan Cirebon lahir setelah Syarif Hidayatullah menikahi sepupunya Nyai Pakungwati anak dari Raden Walangsungsang, yang pada waktu itu menjadi kuwu Cirebon.

Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati merupakan salah satu wali dari 9 wali (walisongo) yang termasyhur di Jawa. sumber gambar http://dongengterbaru.blogspot.co.id/2017/01/kisah-sunan-gunung-jati-syarif.html

Pada masa awal pemerintahannya Syarif Hidayatullah berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya yaitu Prabu Siliwangi. Sang Prabu diajak untuk masuk Islam, akan tetapi ia tidak berkenan. Meskipun Prabu tidak menyetujui keinginan cucunya, ia tidak menghalangi Syarif Hidayatullah untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Pajajaran. Selanjutnya Syarif Hidayatullah meneruskan perjalanannya ke Serang (Banten). Pada waktu itu penduduk Serang sudah ada yang masuk Islam, ini dikarenakan banyaknya Saudagar Arab dan Gujarat yang singgah ke tempat itu. Kedatangan Syarif Hidayatullah disambut baik oleh Adipati Banten, bahkan ia dijodohkan dengan putrinya yaitu Nyi Kewungten. Dari pernikahan inilah kemudian Syarif Hidayatullah dikarunia dua orang anak yaitu Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking[8] atau Maulana Hasanuddin.[9]

Syarif Hidayatullah pada tahun 1479 M mendapat restu Raden Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan dewan Walisongo[10] untuk menghentikan upeti kepada Pajajaran dan menandakan telah berdirinya Cirebon. Saat itulah kesultanan Cirebon berdiri terlepas dari Pajajaran dan menjadi kerajaan yang berdaulat.[11]

Lambang Kesultanan Cirebon yang dikenal dengan nama Macan Ali. sumber gambar https://izalewat.weebly.com/history/lambang-lambang-kerajaan-islam-kesultanan-di-indonesia

Tindakan menghentikan upeti oleh Syarif Hidayatullah ini dianggap sebagai pembangkangan oleh Raja Pajajaran. Maka dikirimkannya pasukan pilihan yang dipimpin oleh Ki Jagabaya. Tugas mereka adalah menangkap Syarif Hidayatullah yang dianggap lancang mengangkat diri sebagai raja tandingan Pajajaran. Tapi usaha ini tidak berhasil. Ki Jagabaya dan anak buahnya malah tidak kembali ke Pajajaran, mereka masuk Islam dan menjadi pengikut Syarif Hidayatullah. Dengan bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon, maka makin menguatlah pengaruh kesultanan Cirebon.[12]

masjid agung sang cipta rasa, cirebon. sumber gambar https://sandraskosmos.wordpress.com/2017/03/03/pesona-wisata-masjid-agung-sang-cipta-rasa-cirebon/

Dakwah yang dilakukan Syarif Hidayatullah dilakukan dengan cara yang mudah diterima yaitu dengan memperbaiki hal-hal yang sudah ada. Kegiatan-kegiatan keagamaan seperti perayaan Sekaten merupakan percampuran budaya yang sampai sekarang masih bisa kita lihat. Lalu dalam ornamen keagamaan seperti Masjid Agung Sang Ciptarasa yang menggunakan bentuk bangunan limasan khas budaya Hindu. (SI)

Bersambung…

 

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://su.wikipedia.org/wiki/Obrolan:Prabu_Siliwangi

[2] Lihat, ibid

[3] Lihat, ibid

[4] Lihat, P.S Sulendiningrat, Sejarah Cirebon, Lembaga kebudayaan Wilayah Tingkat III Cirebon, Cirebon, 1978, hal 15

[5] Pedukuhan merupakan beberapa kelompok rumah yang membentuk perkampungan. Sumber : https://kbbi.web.id/dukuh

[6] Lihat, M. Saleh Putuhena, Historiografi Haji Indonesia, Lkis, Yogyakarta, 2007, hal 83

[7] Lihat, Op.cit https://su.wikipedia.org/wiki/Obrolan:Prabu_Siliwangi

[8] Maulana Hasanuddin merupakan seorang pendiri Kesultanan Banten. Ia juga bergelar Pangeran Sabakingking dan berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1552 – 1570 M (Wikipedia)

[9] Lihat, Edi S. Ekajati, Sejarah Lokal Jawa Barat, Interumas Sejahtera, Jakarta, 1992, hal 32

[10] Dewan Walisongo merupakan bentukan beberapa penyebar ajaran Islam dari Baghdad, Makkah, Mesir dan Suriah pada tahun 1479 M yang semula diketuai oleh Sunan Ampel dan setelah ia wafat digantikan oleh Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati.

[11] Lihat, Op,cit, Sulendiningrat, hal 20.

[12] Lihat, Op.cit Edi S. Ekajati, hal 32