Rabi’ah Al-Adawiyah Ibu Para Sufi (3) : Memilih Untuk Tidak Menikah

in Tokoh

“Bagi Rabi’ah, akad nikah merupakan hak Pemilik alam semesta dan harus dimintakan dari Tuhan, bukan dirinya”

–O–

 

Selama hidupnya Rabi’ah tidak pernah menikah, bukan karena kezuhudannya semata-mata terhadap perkawinan itu sendiri, meskipun banyak orang yang meminangnya namun ia lebih suka menyendiri, sampai akhir hayatnya.[1] Ia tidak ingin ada suatu apapun yang dapat menghalangi dirinya untuk beribadah kepada Allah. Ia pernah berdoa kepada Allah “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dan segala perkara yang menyibukkan ku untuk menyembah-Mu. Dan dari segala penghalang yang meregangkan hubunganku dengan-Mu”[2].

Beberapa kali lamaran orang-orang yang ingin meminangnya ditolak. Seorang Amir Abbasiyah dari Basrah yaitu Muhammad bin Sulaiman Al-Hasyimi pernah mengajukan mahar perkawinan sebesar seratus ribu dinar dan menulis surat kepada Rabi’ah bahwa ia mempunyai gaji sebanyak sepuluh ribu dinar tiap bulan dan akan diberikan kepada Rabi’ah semuanya.[3] Rabi’ah lalu menolak lamaran tersebut dengan mengatakan “seandainya engkau memberi warisan seluruh harta warisanmu, tidak mungkin aku memalingkan perhatianku dari Allah padamu”[4].

Diceritakan pula seorang gubernur yang menulis surat kepada rakyat Basrah agar mencarikannya seorang istri. Lalu rakyatnya mengajukan dan menyetujui Rabi’ah sebagai calon istri gubernur tersebut. Ketika ia mengajukan lamaran, Rabi’ah menjawab “penolakan terhadap dunia ini adalah perdamaian, sedangkan nafsu terhadapnya akan membawa kesengsaraan. Kendalikanlah nafsumu dan jangan biarkan orang lain mengendalikan dirimu. Bagimu, fikirkanlah hari kematianmu, sedangkan bagiku, Allah dapat memberiku semua apa yang telah engkau tawarkan itu dan bahkan berlipat ganda. Aku tidak suka dijauhkan dari Allah walaupun hanya sesaat. Karenanya, selamat tinggal”[5].

Abdul Wahid bin Zayd, seorang yang terkenal dengan kezuhudan dan kesuciannya pun pernah melamar Rabi’ah. Ia merupakan pendiri salah satu dari Jamaah pemondokan dekat Basrah pada tahun 793 M. Rabi’ah pun menolak lamaran tersebut, dan menjauhkan diri darinya seraya berkata “wahai laki-laki sensual, carilah perempuan sensual lain yang sama denganmu. Apakah engkau melihat adanya satu tanda sensual dalam diriku?”[6]

Pernah dalam satu hari Hasan al-Basri (642 M-728 M) bersama Malik bin Dinar dan Tsabit al-Banani datang ke rumah Rabi’ah datang untuk meminangnya. Mereka berkumpul seperti dalam sebuah majelis sufi mencoba mendesak Rabi’ah untuk memilih salah seorang diantara mereka untuk dijadikan suami. Hasan lalu membuka pembicaraan “Wahai Rabi’ah, nikah itu merupakan sunnah Rasulullah untuk itu silahkan engkau memilih salah seorang diantara kami sebagai calon suamimu”. Lalu Rabi’ah berkata kepada Hasan untuk menjawab empat pertanyaan yang ia ajukan kepada mereka, apabila ada yang bisa menjawab maka Rabi’ah akan menjadikan salah seorang diantara mereka suaminya. Lalu Hasan berkata “katakanlah, dan jika Allah mengijinkan aku akan menjawab semua pertanyaanmu”.

Pertanyaan yang pertama diajukan oleh Rabi’ah adalah “apakah yang dikatakan oleh hakim dunia ketika datang kematianku nanti, apakah aku mati dalam keadaan Islam atau dalam keadaan murtad?”. Hassan pun hanya menjawab “hanya Allah yang dapat menjawab”. Lalu Rabi’ah melanjutkan pertanyaannya “ketika aku dalam kubur nanti disaat malaikat menanyaiku nanti, dapatkah aku menjawabnya?”. Hassan menjawab “Allah yang mengetahui perkara itu”.

Rabi’ah melanjutkan pertanyaannya yang ketiga “saat manusia dikumpulkan di padang Mahsyar di hari perhitungan nanti semua akan menerima buku di tangan kanan dan tangan kiri. Lalu bagaimanakah dengan diriku?”. Hassan menjawab “Hanya Allah yang mengetahui”. Rabiah melanjutkan pertanyaannya yang terakhir “nanti saat di hari perhitungan, sebagian manusia akan berada di surga dan sebagian lain di neraka. Lalu dimanakah aku akan berada?”. Hassan pun menjawab dengan jawaban-jawaban sebelumnya “Hanya Allah yang mengetahui rahasia itu”. Lalu Rabi’ah mengatakan kepada Hassan “aku telah ajukan beberapa pertanyaan tentang diriku, bagaimana aku harus bersuami dengan seorang yang tak bisa aku jadikan tempat untuk bersandar”.[7]

Akhirnya sejumlah ulama zuhud yang hadir di rumah Rabi’ah pun menangis dan keluar dari rumah Rabi’ah dengan penuh penyesalan.[8] Beberapa kali Rabi’ah menjawab lamaran-lamaran yang datang kepadanya dengan cara-cara yang lebih halus, dengan merendahkan diri bahwa dirinya yang dalam keadaan prihatin, tak memungkinkan baginya untuk berumah tangga. Ia sadar bahwa menerima pria dalam ikatan pernikahan akan membuat ia tidak adil terhadap suami dan anak-anaknya kelak. Ia tak akan mampu memberikan perhatiannya kepada mereka, karena seluruh hatinya ia serahkan hanya untuk Allah. Rabi’ah tidak menikah bukan semata-mata karena zuhud terhadap pernikahan itu sendiri, melainkan ia zuhud terhadap kehidupan.[9]

Tentang pernikahan, Rabi’ah memiliki pemikirannya sendiri. Baginya akad nikah merupakan hak Pemilik alam semesta. Sedangkan baginya, hal tersebut tidak ada karena ia telah berhenti “maujud” (ada) dan lepas diri. Ia sepenuhnya berada dalam Tuhan dan ia merupakan milik Tuhan, serta ia hidup dalam naungan-Nya. Baginya akad nikah harus dimintakan dari Tuhan, bukan dirinya.[10] (SI)

Bersambung…

Rabi’ah Al-Adawiyah Ibu para Sufi (4) : Kembali Kepada Cinta Sejatinya, Tuhan

Sebelumnya:

Rabi’ah Al-Adawiyah Ibu Para Sufi (2) : Perjalanan Spiritual

Catatan kaki:

[1] Lihat, Ummu Kulsul, Ilmu Tasawuf, Alauddin Press, Makassar, 2011, hal 107

[2] Lihat, Abdul Mun’im Qandil, Figur Wanita Sufi, terj. Royhan Hasbullah dan M. Sofyan Amrullah, Pustaka Progresif, Surabaya, 1993, hal 64

[3] Lihat, Margareth Smith, Rabi’ah; Pergulatan Spiritual Perempuan, Risalah Gusti, Surabaya, 1997, hal 13-14

[4] Lihat, Asep Usmar Ismail dkk, Tasawuf, Pusat Studi Wanita, Jakarta, 2005, hal 135

[5] Lihat, Op.cit, Smith, Rabiah, hal 14

[6] Lihat, Ibid, Smith, hal 13

[7] Lihat, Ibid, hal 14

[8] Lihat, Syekh Usman al-Khaubari, Kisah Cinta Rabi’ah Al-Adawiyah; Mutiara Kearifan Hidup Para Hamba Allah, terj. A. Bahrudin Sholohin, Diva Press, Yogyakarta, 2008, hal 24-26

[9] Lihat, Op.cit, Ismail, hal 135

[10] Lihat, M Alfatih Suryadilaga, MIftahus Sufi, Teras, Yogyakarta, 2008, hal 114-115