Sejumlah Sumbangan Dunia Islam Bagi Peradaban Modern (8)

in Budaya Islam

 “Taman dan Kaca, adalah beberapa sumbangan kecil dari dunia Islam bagi peradaban modern yang  masih penting dan digunakan hingga sekarang.”

—Ο—

 

Kebun dan Taman

Berkebun adalah kegiatan yang memadukan dua unsur, ilmu dan seni. Sebagai ilmu, berkebun menuntut keahlian tentang teknik budi daya tanaman yang kompleks seperti, sifat-sifat tanaman, kadar air, serta tanah. Prinsip dasar yang terlibat dalam menanam tanaman secara prinsip sama di semua belahan dunia, namun praktik ini secara alami memerlukan banyak adaptasi dengan kondisi lokal. Karena tanaman sering tumbuh dalam kondisi yang sangat berbeda dengan lingkungan alamnya, perlu diterapkan teknik kultivasi yang berasal dari fisiologi tumbuhan, kimia, dan botani, yang dimodifikasi oleh pengalaman pemilik perkebunan.[1] Adapun sebagai seni, berkebun membutuhkan imajinasi, untuk menemukan harmoni warna, bentuk dan ukuran tanaman di dalam satu areal kebun. Pada tahap pengembangannya, berkebun adalah cikal bakal munculnya taman, yang memadukan sentuhan alami (tumbuhan) dengan buatan (bangunan) ke dalam satu arael tanah.

Seni berkebun dan hortikultura bisa dikatakan dilakukan oleh petani pertama, ketika mereka melakukan upaya bercocok tanam dan menyesuaikan sifat tumbuhan dengan kondisi alam dan lingkungan. Namun seni membuat taman sendiri sudah dikenal sejak masa 4000 tahun yang lalu di Mesir dan Mesopotamia. Taman di Mesir pada masa itu masih mencirikan pohon yang tinggi sebagai iconnya, dan sudah membentuk disiplin pengelompokan tanaman.[2] Adapun konsep taman yang kita lihat sekarang, merupakan konsep yang dikembangkan oleh bangsa Eropa pada Abad petengahan. Dan beberapa ahli mengakui bahwa titik awal penyebaran konsep ini dunia barat, dimulai dari Spanyol selatan ketika masih berada dalam pengaruh budaya Islam.

Berbeda dengan yang ada di Mesir, taman-taman yang dibuat pada masa Islam memiliki ciri air yang mengalir, kesejukan dan keteduhan. Besar kemungkinan konsep ini terinspirasi dari Al Quran yang menggambarkan surga sebagai tempat yang berada sungai-sungai di dalamnya (QS. 9:72).[3] Namun berbeda juga dengan konsep taman Islam dengan yang banyak dibuat di Eropa pada abad pertengahan. Dimana taman dibuat sebagai tempat untuk berjalan berkeliling menikmati suasana. Di Islam, taman lebih banyak digunakan sebagai tempat melakukan perenungan. Sehingga taman-taman di masa Islam lebih banyak menyajikan kursi-kursi sebagai tempat untuk duduk merenung. Kelebihannya, taman di dunia Islam dapat dibuat dimana saja, meksi di areal yang sangat terbatas, seperti di belakang rumah. Penggunaan bunga-bunga di areal taman seperti anyelir dan tulip adalah berasal dari dunia Islam. Beberapa contoh taman yang masih tersisa dari peninggalan dunia Muslim seperti Tajmahal dan di Istana Alhambra di Granada, Spanyol.[4]

Poto Tajmahal saat ini.

 

Poto Tajmahal yang masih mengandung unsur taman berciri khas Islam dengan air mengalir dan kursi-kursi. Sumber: pinterest.com

 

Taman Alhambra di Spanyol. Sumber gambar: The New York Times

 

Kaca

Sedemikian masifnya benda ini beredar di peradaban modern, hingga kadang kita lupa, bahwa ia pernah ditemukan, tidak muncul secara alamiah. Hampir semua bangunan, khususnya yang ada di kota-kota menggunakan kaca sebagai salah satu dekorasi untuk memperkaya cita rasa seni bangunan. Tapi mungkin tidak banyak yang sadar, bahwa kaca merupakan hasil karya ilmuan Muslim yang terbilang otentik. Di tangan mereka, eksplorasi terhadap karya ini mengalami perkembangan yang terbilang maksimal, bahkan menjadi sebuah industri. Mulai dari gelas, lampu, jendela (kaca berwarna), hingga optic adalah produk yang dihasilkan dan sudah dinikmati oleh masyarakat Islam sejak dulu.[5]

Berbagai variasi botol kaca yang dibuat di dunia Muslim sejak abad ke 8 hingga 10 masehi. Sumber Gambar: 1001inventions.com

 

Kitab tertua karya ilmuan Muslim tentang pembuatan kaca dibuat oleh seorang ahli kimia kenamaan bernama Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan. Ia lahir di Tus, Khurasan, Iran pada 721 M.[6] Selama hidup, tak kurang dari 200 kitab berhasil dituliskannya. Sebanyak 80 kitab yang ditulisnya itu mengkaji dan mengupas seluk-beluk ilmu kimia, yang  hingga kini masih banyak dipelajari. Maka tak heran bila ia dianggap sebagai peletak dasar kimia modern.

Dari berjubel karyanya, dua diantaranya membahas secara detail tentang resep pembuatan kaca. Yang menariknya kesemua resep ini terbilang orisinil, atau belum pernah ditemukan dalam risalah-risalah ilmuan dari peradaban sebelumnya. Dua kitab tersebut adalah al-Durra al-Maknuna atau The Book of the Hidden Pearl, dan Kitab Al-Marrakishi. Dalam kitab pertama ia memaparkan setidaknya 46 rumus atau formula untuk memproduksi kaca dari sudut pandang kimia. Sedang di kitab yang kedua, ia menyajikan sebanyak 12 resep atau rumus pembuatan kaca. Total setidaknya terdapat 58 resep kimia untuk membuat kaca dengan berbagai variasinya, temasuk untuk membuat kaca berwarna.[7]

Jendela kaca bewarna di Masjid Nasīr al-Mulk di Shiraz, Iran. Sumber: 1001inventions.com

Adapun orang pertama yang dianggap membuat kaca atau gelas adalah Abbas Ibnu Firnas, yang hidup antara tahun 810 hingga 887 masehi. Sosoknya pernah menjadi sangat fenomenal karena pernah nekad melakukan eksperimen terbang dari menara Masjid Agung Cordoba pada tahun 852. Di dunia modern ia dikenal sebagai ahli astronomi, dan pembuat parasut pertama di dunia.[8]

Ketekunannya di bidang astronomi telah membawanya pada salah satu penemuan penting, yaitu lensa yang terbuat dari kaca dengan bahan dasar pasir silica dan batu-batuan. Benda ini pada awalnya ia gunakan untuk mendukungnya dalam melakukan pengamatan terhadap benda-benda langit. Namun seiring perkembangannya, kaca bening buatan Ibnu Firnas dikembangkan untuk membuat gelas, lampu dan beberapa botol instrument penelitian kimia.[9]

Ilustrasi para Ilmuan Muslim menggunakan botol kaca dalam bidang kimian dan farmasi. Sumber Gambar: 1001inventions.com

Kaca juga dikembangkan lebih jauh oleh Abu Sa`d al-`Ala’ ibnu Sahl yang hidup antara tahun 940 hingga 1000 masehi. Ia adalah seorang matematikawan sekaligus insinyur yang mengkaji studi tentang optik. Karyanya yang paling monumental adalah cermin parabola. Ialah yang menjadi orang pertama yang menciptakan kaca cermin dengan pantulan yang jelas.[10] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Sejumlah Sumbangan Dunia Islam Bagi Peradaban Modern (7)

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://www.britannica.com/science/gardening, diakses 29 November 2017

[2] Lihat, http://www.historyextra.com/article/ancient-egypt/guide-ancient-gardening, diakses 29 November 2017

[3] Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_garden, diakses 27 November 2017

[4] Lihat, http://www.nytimes.com/2011/05/21/arts/design/spanish-paradise-gardens-of-the-alhambra-at-the-new-york-botanical-garden-review.html, diakses 28 November 2017

[5] Lihat, http://www.1001inventions.com/glass, diakses 29 November 2017

[6] Jabir ibnu Hayyan, dikenal juga sebagai orang yang menyempurnakan teknik destilasi (penyulingan). Perbahsan tentang penemuannya di bidang ini dapat dibaca pada edisi ganaislamika berjudul ““Sejumlah Sumbangan Dunia Islam Bagi Peradaban Modern (3)”. Lihat, https://ganaislamika.com/sejumlah-sumbangan-dunia-islam-bagi-peradaban-modern-3/

[7] Lihat, http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/11/09/ogcw44313-tiga-ilmuwan-penemu-teknologi-pembuatan-gelas, diakses 29 November 2017

[8] Terkait penemuannya di bidang aero dinamika, lihat edisi ganaislamika berjudul’ “Sejumlah Sumbangan Dunia Islam Bagi Peradaban Modern (2)”. Lihat, https://ganaislamika.com/sejumlah-sumbangan-dunia-islam-bagi-peradaban-modern-2/

[9] Lihat, http://www.1001inventions.com/glass, Op cit

[10] Lihat, http://www.juliantrubin.com/bigten/telescope_invention.html, diakses 29 November 2017