Suleiman Agung (6): Pencipta Gaya Arsitektur Ottoman

in Tokoh

“Selain kubah-kubahnya yang megah, inovasi arsitektur masjid Ottoman yang luar biasa adalah menara-menaranya yang runcing dan menjulang tinggi. Desain masjid seperti ini mempengaruhi mayoritas desain masjid di dunia, bahkan sampai hari ini.”

–O–

Sultan Suleiman Agung bukan hanya sukses dalam membangun birokrasi yang kuat dan Undang-undang yang sistematis, pada masa dia berkuasa, dia juga berhasil menciptakan sebuah gaya arsitektur baru yang unik, dan bahkan karya-karya tersebut masih diakui sampai hari ini sebagai bangunan dengan arsitektural kelas dunia. Hal tersebut dapat terwujud karena dua hal: visi pribadi dan masa jabatan Suleiman yang panjang.[1]

Bersama dengan buyutnya, Mohammed II, Suleiman memperoleh kehormatan sebagai pembangun terbesar dalam sejarah Kekaisaran Ottoman. Konstantinopel berhutang budi kepadanya atas pembangunan terowongan air dengan empat puluh lengkungan itu. Selain itu, di ibukota dan di kota-kota sekitarnya dia membangun tidak kurang dari tujuh masjid. Sebagian besar yang akhir-akhir dibangun, dibangun sebagai bentuk penghormatan untuk anggota keluarganya.[2]

Desain utama masjid Ottoman kebanyakan terpengaruh oleh model basilika dari era Byzantium dengan kubah-kubahnya. Namun, inovasi arsitektur Ottoman yang luar biasa adalah menara-menaranya yang runcing dan menjulang tinggi. Di setiap masjid, terkadang terdapat dua atau empat menara. Bagi siapapun yang berkunjung ke Konstantinopel, menara-menara tersebut dengan cepat segera menjadi perhatian utama. Meskipun terpengaruh oleh arsitektur gaya Byzantium, namun interior masjidnya benar-benar dibangun berdasarkan gaya arsitektur Islam.[3]

Interior Masjid Suleymaniye. Photo: harvard.edu

“Megah tapi tetap sederhana”, adalah kata kunci dari arsitektur khas Ottoman; warna putih dan warna-warna yang tenang merupakan warna dominan; jendela-jendelanya diatur sedemikian rupa agar cahaya dapat  terdistribusikan secara merata, meninggalkan kesan seperti senja di padang pasir Arab. Namun, seindah apapun, desain masjid dilarang untuk mengacaukan fokus seseorang ketika sedang shalat. Dalam pengembangan semua prinsip dan gagasan arsitektur baru ini, semua pelaksana pembangunan diwajibkan untuk selalu berkonsultasi dengan Suleiman, dan diapun mengarahkan mereka untuk menciptakan sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya.[4]

 

Mimar Sinan

Suleiman mempekerjakan seorang arsitek paling berbakat pada masa itu yang bernama Mimar Sinan. Sinan adalah salah seorang arsitek pertama yang memiliki ide untuk merancang bangunan dengan struktur yang tahan terhadap gempa bumi. Ide tersebut akan sangat bermanfaat apabila diterapkan di Anatolia yang menjadi jantung Kekaisaran Ottoman, sebab daerah tersebut merupakan daerah yang rentan terhadap gempa bumi.[5]

Ketika dia mendekati usia 50, Sinan menemukan panggilan yang paling menentukan di dalam hidupnya. Saat itulah Sultan tertarik kepadanya dan menunjuknya untuk menjadi arsitek utama kekaisaran. Selama masa hidupnya, dia telah memimpin pembangunan sekitar 300 proyek bangunan besar, termasuk masjid, sekolah, pemandian, dan pusat perdagangan.[6]

Dua contoh paling menonjol dari apa yang dibangun oleh Sinan ketika dia bekerja untuk Suleiman adalah Masjid Suleymaniye di Istanbul dan Masjid Selimiye di Edirne, bekas ibukota Ottoman.[7]

Masjid Suleimaniye dibangun dari tahun 1550 sampai 1558, dan tetap menjadi masjid terbesar yang ada di Istanbul sampai hari ini. Ketika membangun Suleimaniye, Sinan terpengaruh dengan kemegahan kubah gaya Byzantium yang ada pada gedung Hagia Sophia (awalnya sekali, bangunan ini merupakan Katedral yang dibangun oleh Kekaisaran Timur Romawi. Selama beberapa masa bangunan ini telah mengalami beberapa kali alih fungsi, sekarang difungsikan menjadi Museum di Turki)[8] yang dia kombinasikan dengan banyak elemen dari arsitektur khas Islam. Yang paling menonjol dari masjid ini adalah dibangunnya menara-menara yang difungsikan untuk mengumandangkan Adzan.[9]

Masjid Suleymaniye di Istanbul. Photo: istanbultourstudio
Museum Hagia Sophia yang menjadi inspirasi pembangunan Masjid Suleymaniye. Photo: turkeycountryguide

Sinan menganggap Masjid Selimiye sebagai proyek magnum opus-nya. Masjid ini dibangun dari tahun 1569 sampai 1575, dan dianggap sebagai titik pencapaian tertinggi dalam sejarah arsitektur Islam. Berbeda dengan desain Masjid Suleimaniye yang terpengaruh oleh gaya Byzantium, Masjid Selimiye adalah masjid yang didesain dengan gaya yang orisinil dan menjadi penanda dari terciptanya arsitektur gaya baru, yakni gaya Ottoman.[10]

Dengan kubah yang besar dan empat menaranya yang megah, masjid Selimiye sebenarnya hanyalah salah satu bagian dari kompleks yang lebih luas. Masjid ini adalah pusat dari serangkaian bangunan di dalam kompleks yang terdiri dari rumah sakit, sekolah, pemandian uap, toko-toko, dan pemakaman.[11]

Masjid Selimiye di Edirne. Photo: akhbarnama

Bahkan setelah kematiannya pada tahun 1588, warisan ilmu pengetahuan Sinan tetap hidup dalam banyak pemuda yang dia didik. Para anak didik Sinan di kemudian hari terus membangun beberapa bangunan paling ikonik di dunia Muslim, termasuk di antaranya Taj Mahal di Mughal India.[12]

Sinan juga turut berkontribusi untuk mengenang Suleiman dan Roxelana, dua tokoh paling ikonik dalam sejarah kekaisaran Ottoman. Di halaman belakang Masjid Suleimaniye, Sinan membangun makam untuk mereka berdua. Sinan sendiri dimakamkan di dekat makam mereka, di sebuah makam yang dia desain sendiri.[13] (PH)

Tulisan seri Suleiman Agung selesai.

Sebelumnya:

Suleiman Agung (5): Bapak Hukum Ottoman (al-Qanuni)

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 213.

[2] Roger Bigelow Merriman, Suleiman The Magnificent 1520-1566, (Harvard University Press: Massachusetts, 1944), hlm 197.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Eamon Gearon, Loc. Cit.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] “Hagia Sophia Museum: History”, dari laman http://ayasofyamuzesi.gov.tr/en/history, diakses 19 April 2018.

[9] Eamon Gearon, Loc. Cit.

[10] Ibid., hlm 198.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*