Syeikh Syamsuddin Wasil (1): Guru Sang Peramal Nusantara

in Islam Nusantara

Kuat dugaan, bahwa Prabu Jayabaya berguru pada seseorang yang memilki kemampuan khusus, sehingga ia bisa membuat Kitab Musyarar yang berisi Ramalan tentang Nusantara, mulai dari zaman Aji Saka hingga munculnya Ratu Adil.”

 —Ο—

 

Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di Pulau Jawa, mengenal nama Prabu Jayabaya. Ia adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Salah satu peningalannya yang paling masyur adalah Kitab Musyarar atau dikenal juga dengan “Serat Jangka Jayabaya” atau ramalan Jayabaya. Kitab ini berisi ramalan tentang masa depan Nusantara. Sejak jauh hari Jayabaya sudah meramalkan kedatangan bangsa asing ke Nusantara. Ia juga sudah meramalkan berdirinya sebuah Negara yang kini kita kenal dengan Indonesia, bahkan ia juga sudah meramalkan hadirnya Sang Ratu Adil.

Tapi para sejarawan tidak sepenuhnya meyakini bahwa kitab tersebut ditulis langsung oleh Prabu Jayabaya. Salah satu alasannya, dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka – Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya – bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Salah satu orang yang diduga sebagai pengarang Kitab Musyarar adalah tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.[1]

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musyarar) karangan Sunan Giri Prapen (Sunan Giri ke-3) yang dikumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak zamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).[2]

Tapi bila kita kembali pada Kitab Musyarar itu sendiri, Serat Jangka Jayabaya tidak lain adalah sebuah kitab yang digubah oleh Sunan Giri Prapen. Jelas bunyi bait pertama kitab Musyarar yang menuliskan bahwasanya Jayabayalah yang membuat ramalan-ramalan tersebut.[3]Kitab Musyarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.”

Dan yang uniknya lagi, dikisahkan dalam Kitab Musyarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebutlah, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat. Kuat dugaan, sosok bernama Maolana Ngali Samsujen inilah yang menjadi sumber inspirasi dan keilmuan Prabu Jayabaya dalam membuat ramalan-ramalan tentang Nusantara. Lantas, siapakah sosok yang bernama Maolana Ngali Samsujen ini?

Agus Sunyoto, dalam karyanya “Atlas Wali Songo” mengatakan bahwa Maolana Ngali Samsujen yang dimaksud tidak lain adalah sosok yang juga dikenal dengan nama Syeikh Syamsuddin Wasil. Di dalam historiografi Jawa disebut, tokoh bernama Syeikh Syamsuddin Wasil disebutkan sebagai ulama besar asal Negeri Ngerum/Rum (Persia), yang datang ke Kediri untuk berdakwah dan atas permintaan Raja Kediri Sri Maharaja Mapanji Jayabaya membahas Kitab Musyarar yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal). Menuurut Agus Sunyoto, naskah Serat Jangka Jayabaya yang muncul pada abad ke-17 yang diyakini masyarakat Jawa sebagai karya Sri Mapanji Jayabaya dalam meramal masa depan Nusantara, berhubungan erat dengan keberadaan tokoh Syeikh Syamsuddin Wasil yang berasal dari Rum (Persia) ini.[4]

Terkait adanya hubungan antara Prabu Jayabaya dengan Syeikh Syamsuddin Wasil, juga benarkan oleh Tim Ekspedisi Islam Nusantara. Dalam sebuah artikel di NU Online (http://www.nu.or.id ), Tim tersebut menemukan bahwa bukti Prabu Jayabaya pernah berguru kepada Syeikh Wasil terdapat dalam prasasti dengan bahasa Kawi kuno. Prasasti yang kini berada di Museum Trowulan, Mojokerto, tersebut kemungkinan ditulis Prabu Jayabaya sendiri. Berdasarkan terjemahan Prof Adib Sutopo, prasasti tersebut menyebutkan bahwa Prabu Jayabaya menemukan buku Musyarar. Prabu Jayabaya tak bisa menerjemahkan kitab tersebut yang ditulis dalam bahasa Arab. Kemudian meminta pertolongan kepada Syeikh Wasil untuk menerjemahkannya. Karena membantu penerjemahan itu, Syeikh Washil diberi tempat tersendiri yang kemudian disebut dengan Setono Gedong. Dengan demikian, menurut salah seorang pengurus masjid Setono Gedong, ada hubungan guru-murid antara Syekh Wasil dan Prabu Jayabaya.[5] (AL)

Bersambung…

Syeikh Syamsuddin Wasil (2): Antara Fakta dan Legenda

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://islamindonesia.id/siapa-dia/siapa-sebenarnya-prabu-jayabaya-sang-peramal-masa-depan-nusantara.htm, Sabtu, 25 Februari 2017

[2] Ibid

[3] Lihat, http://www.hastamitra.net/2011/07/satrio-piningit-kitab-musarar-jayabaya.html, diakses 15 November 2017

[4] Lihat, Agus Sunyoto, Atlas Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah, Jakarta, Pustaka IIMaN, 2016, hal. 64-65

[5] Dalam artikel tersebut juga disebutkan bahwa ada dugaan bahwa Joyoboyo telah menjadi muslim. Tapi itu hanya dugaan, bisa juga Joyoboyo tetap memeluk agamanya, tapi karena kehausan ilmu, ia berguru spiritual kepada Syekh Wasil. “Buku sejarah kita juga mengatakan Hindu dan meninggalnya konon moksa.”  Lihat, http://www.nu.or.id/post/read/67524/joyoboyo-pernah-berguru-kepada-syekh-washil, diakses 9 Mei 2018