Syeikh Syamsuddin Wasil (4)

in Islam Nusantara

 

Terlepas dari sulitnya merekonstruksi sejarah Syeikh Syamsuddin Wasil dari kajian arkeologis, catatan-catatan historiografi dan cerita tutur masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa almarhum yang dikebumikan di kompleks makam Setana Gedong adalah seorang tokoh sufi yang diyakini sebagai guru rohani Sri Mapanji Jayabaya. Lantaran itu, situs makam kuno yang terletak di dekat reruntuhan Candi Kuno di kompleks Pemakaman Setana Gedong Kota Kediri itu, sampai kini masih dijadikan pusat ziarah dan dikeramatkan oleh masyarakat.”

—Ο—

 

Agus Sunyoto, dalam buku “Atlas Wali Songo” menyebutkan bahwa salah satu rujukan yang menyimpulkan bahwa yang dikebumikan di Sentana Gedong tersebut tokoh bernama Syeikh Syamsuddin Wasil, adalah hasil penelitian Prof. Dr. Habib Mustopo, guru besar Universitas Negeri Malang. Ia melakukan penelitian dengan basis data historis dan arkeologis, dan menyimpulkan tokoh bernama Syeikh Syamsuddin Wasil yang dikebumikan di makam Setana Gedong adalah ulama besar yang hidup pada abad ke-12, yaitu pada masa kerajaan Kediri. Lebih lanjut menurut Habib Mustopo, yang dikutip oleh Agus Sunyoto, tokoh Syeikh Syamsuddin Wasil inilah yang kiranya telah berupaya menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di daerah pedalaman Kediri pada abad ke-12. Itu sebabnya, sangat wajar jika setelah meninggal, Syeikh Syamsuddin sangat dihormati masyarakat Islam di pedalaman.[1][6]

Lebih lanjut menurut Agus Sunyoto, berdasarkan cerita tutur yang berkembang di masyarakat, makam Syeikh Syamsuddin semula berada di tempat terbuka. Untuk menghormati jasa-jasanya, dibangunlah makamnya oleh seorang Bupati Suryo Adilogo (menurut sumber historiografi adalah mertua Sunan Drajat putra Sunan Ampel) hidup di abad ke-16, maka masuk akal jika bangunan makam Syeikh Syamsuddin secara arkeologis berasal dari abad ke-16, meski makam itu sendiri sudah ada di kompleks pekuburan Setana Gedong sejak abad ke-12 Masehi.[2][7]

Tapi bila kita kembali menengok kembali catatan Claude Guillot dan Ludvik Kalus, tampak sekali bahwa mereka kehabisan rujukan naskah-naskah kuno nusantara untuk dijadikan sebagai pembanding. Ini mereka akui sendiri dalam catatannya.[3] Mereka bahwa heran, bagaimana sebuah sebuah inskripsi yang demikian mewah ada, namun tidak tercatat oleh masyarakat, Padahal masyarakat Jawa termasuk salah satu masyarakat yang memiliki catatan sangat lengkap tentang sejarah dan kebudayaannya.

Tapi bila kita mencermati kembali catatan penelitian Claude Guillot dan Ludvik Kalus, terdapat beberapa kejanggalan hipotesis di sana. Beberapa kejanggalan ini, tampaknya bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk mengkonstruksi munculnya asumsi bahwa makam tersebut sudah ada di sana sejak “abad ke 12 masehi”. Yaitu kenyataan bahwa pada abad ke 13 hingga abad ke 15, Kediri bukan sebuah negara yang besar sebagaimana posisinya pada abad ke 12. Pada abad ke 13, Majapahit lah yang menjadi pusat episentrum peradaban nusantara. Selama Majapahit berkuasa, sangat kecil kemungkinan Islam bisa tumbuh dan berkembang, kecuali di saat-saat terakhir kejatuhannya. Tapi persoalannya, pada abad ke-15 tersebut, Kediri belum lagi menjadi salah satu pusat perkembangan Islam di Pulau Jawa.

Kedua, berdasarkan argumentasi Claude Guillot dan Ludvik Kalus sendiri, pada rentang antara tahun 26 Februari 1514 hingga 9 November 1523 Masehi, Islam belum menyebar luas di Kediri.[4] Anggaplah inskripsi yang ada di Setana Gedong bukan sebuah epitaph, melainkan sebuah prasasti sebagaimana yang diduga oleh mereka. Kontruksi historisnya justru menjadi janggal, karena sangat sulit membayangkan bila pada masa itu muncul sosok ulama yang demikian agung di Kediri, sehingga perlu dibuatkan catatan khusus dengan tulisan Arab layaknya seperti para pemuka agama Islam di abad pertengahan.

Dengan kata lain, hasil penelitian Claude Guillot dan Ludvik Kalus, tidak serta merta membantah historiografi masyarakat Jawa. Mengingat hanya pada periode itulah kerajaan Kediri demikian digjaya, dan seorang Muslim bisa secara leluasa berdakwah dan mendapat kehormatan begitu tinggi di tengah masyarakat Jawa. Sejurus dengan itu, pada era ini juga kita mengenal cukup banyak tokoh-tokoh Muslim lainnya yang datang dari negeri Persia dan Arab. Mereka ini diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat setempat. Ini terbukti dari adanya makam Fatimah binti Maimun dan sejumlah makam lainnya di Jawa. Dengan demikian, tetap kuat dugaan bahwa Syeikh Syamsuddin Wasil memang hidup pada abad ke-12 Masehi.

Dan satu hal yang mungkin perlu dicermati. Banyak yang meyakini, pondasi situs Setana Gedong adalah reruntuhan candi yang berasal dari zaman Kerajaan Kediri.[5] Meski belum ditemukan studi komprehensif yang menghubungkan antara keberadaan candi tersebut dengan makam-makam yang ada di dekatnya. Tapi bukan tidak mungkin beberapa clue bisa didapat dari sini. Mengingat candi dalam tradisi Hindu-Budha merupakan monument sakral yang tidak dibuat sembarangan, sehingga sangat mungkin banyak hal dari sejarah yang bisa dikonstruksi dari sebuah candi.

Pondasi yang diduga sebagai reruntuhan candi dari zaman kerajaan Kediri di sebelah barat Masjid Setana Gedong di dekat Makam Syeikh Syamsuddin Wasil. Sumber gambar: aroengbinang.com

Namun, bila kita kembali pada uraian Agus Sunyoto dalam karyanya, bahwa terlepas dari sulitnya merekonstruksi sejarah Syaikh Syamsuddin al-Wasil dari kajian arkeologis, catatan-catatan historiografi dan cerita tutur masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa almarhum yang dikebumikan di kompleks makam Setana Gedong adalah seorang tokoh sufi yang sakti asal negeri Rum (Persia), yang diyakini menjadi guru rohani Sri Mapanji Jayabaya Raja Kediri. Lantaran itu, situs makam kuno yang terletak di dekat reruntuhan Candi Kuno di kompleks Pemakaman Setana Gedong Kota Kediri itu, sampai kini masih dijadikan pusat ziarah dan dikeramatkan oleh masyarakat. (AL)

Selesai

Sebelumnya:

Syeikh Syamsuddin Wasil (3): Teka Teki Inskripsi Makam Setana Gedong

Catatan kaki:

[1] Lihat, Agus Sunyoto, Atlas Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah, Jakarta, Pustaka IIMaN, 2016, hal. 64.

[2] Ibid. Lihat juga https://www.merdeka.com/peristiwa/situs-setono-gedong-makam-penyiar-islam-di-kediri.html, diakses 9 Mei 2018

[3] Lihat, Claude Guillot dan Ludvik Kalus, “Inkripsi Islam Tertua di Indonesia”, Jakarta, KPS, 2008, hal. 145

[4] Ibid

[5] Lihat, https://www.aroengbinang.com/2018/01/situs-setono-gedong-kediri.html, diakses 9 Mei 2018