Terusan Suez (4) 

in Monumental

Bagi bangsa-bangsa Eropa, terbukanya Terusan Suez menandai babak baru kejayaannya. Setelah lebih dari seribu tahun lamanya mereka terkunci di sudut dunia. Terusan Suez, bisa dikatakan sebagai titik balik kemenangan bangsa Eropa atas peradaban Islam, dan peradaban bangsa Timur seluruhnya.”

 

Setelah proposal proyeknya disetujui oleh Said Pasha, pada tahun 1854, Ferdinand de Lesseps membentuk perusahaan bernama La Compagnie Universelle du Canal Maritime de Suez (Perusahaan Universal Terusan Maritim Suez). Perusahaan ini memiliki wewenang penuh untuk pembangunan Terusan Suez dan memiliki hak atas profit mengoperasikan Terusan tersebut selama 99 tahun. Setelah 99 tahun, hak kepemilikan atas Terusan tersebut akan kembali pada pemerintah Mesir.[1]

Di atas kertas, studi yang dilakukan memperkirakan bahwa total 2.613 juta kaki kubik tanah harus dipindahkan, dengan rincian 600 juta di darat, dan 2.013 juta lainnya dikeruk dari air. Dana yang dibutuhkan untuk perkiraan awal ini adalah 200 juta franc. Peletakan batu pertama dilakukan pada 25 April 1859. Di tengah perjalanan, mereka menyadari bahwa biaya pembangunan yang dibutuhkan ternyata mencapai dua kali lipat dari perencanaan awal.[2]

Pada awalnya perusahaan De Lesseps mengalami kesulitan menghadapi kenyataan ini. Namun Said Pasha akhirnya bersedia membeli 44% saham perusahaan tersebut agar proyek tetap berjalan. Ia menguras kekayaan negaranya demi ambisi ini. Untuk menghemat biaya, pada empat tahun pertama pengerjaannya, Said Pasha juga menggunakan tenaga masyarakatnya melalui kerja paksa. Tak kurang dari 30.000 pekerja yang bekerja untuk proyek ini setiap tahun, dan jumlah korban yang tewas selama itu mencapai 100.000 jiwa. Meksi begitu, progress pekerjaan mengalami kemajuan yang cukup signifikan.[3]

Pada titik ini, Inggris mulai memainkan maneuver politiknya. Mereka mengkritik kebijakan kerja paksa yang dilakukan oleh Said Pasha. Hal ini kemudian menjadi isu yang cukup mengganggu di Eropa. Untuk menangkal maneuver Inggris tersebut, de Lesseps sempat mengajukan argumennya yang berisi, bahwa dulu juga, ketika Inggris membangun proyek Kereta Api di Mesir, mereka juga menggunakan metode kerja paksa. Tapi argument itu tidak cukup berpengaruh mengubah opini publik yang berkembang di Eropa. Akhirnya, Said Pasha mengubah kebijakannya, dan menghentikan kerja paksa. Karena kebijakan ini, proyek sempat terhenti untuk sementara.[4]

Sebagai ganti dari kebijakan ini, Said Pasha terpaksa harus mengeluarkan koceknya lebih dalam lagi. Kas keuangan Negara Mesir mengalami penurunan yang memprihatinkan. Tapi kerja harus diteruskan. Pada tahun 1862, Said Pasha meninggal dunia. Dia hanya memiliki satu orang putra yang meninggal secara tragis dalam sebuah kecelakaan kereta. Gerbong kereta yang tumpanginya masuk ke dalam Sungai Nil. Sebagai penggantinya, ia menunjuk keponakannya yang memiliki visi yang sama denganya, bernama Ismail. Sebagaimana pamannya, Ismail juga sangat mendukung proyek Terusan Suez dan juga seorang modernis yang tajam seperti kakeknya Muhammad Ali Pasha.[5]

 

Ismail Pasha. Sumber gambar: wikipedia.org

Ismail kemudian membangun sebuah kota di sepanjang tepi Terusan Suez, untuk menampung para pekerja di proyek tersebut. Kota ini kemudian diberi nama sesuai dengan namanya, Ismailiyah. Sedang untuk mengenal pamannya, ia memberi nama Pelabuhan Suez dengan nama Port Said. Pada tahun 1862, pembangunan proyek tahap pertama selesai. Namun dengan keletihan luar biasa dalam masalah keuangan, baik di pihak Mesir maupun perusahaan De Lesseps. Untuk melanjutkan pembanguan ke tahap selanjutnya, Ferdinand De Lesseps kemudian mengajukan permohonan bantuan kepada Napoleon III.[6]

Pada waktu itu, “proyek utopia” bernama Terusan Suez semakin mendekati kenyataan. Sehingga permohonan De Lesseps menjadi sangat realistis. Napoleon III merespon ini dengan membentuk sebuah komisi internasional pada bulan Maret 1864, untuk membantu penyelesaian akhir proyek tersebut. Hanya dalam waktu tiga tahun, semua masalah selesai. Akhirnya, pada tanggal 17 November 1869, atau tepat 10 tahun, Terusan Suez yang mengular sejauh 160 Km, diresmikan.[7]

Tapi siapapun tau, ketika persemian itu, kondisi keuangan Mesir sudah diujung tanduk. Jangankan untuk menunggu 99 tahun hak penguasaan penuh atas Terusan Suez, bahkan untuk memastikan napas hidup Negara tersebut hingga 10 tahun berikutnya saja, banyak yang pesimis. Kas Negara Mesir benar-benar kandas, bahkan Ismail harus berhutang.

Yang mengherankan, Ismail Pasha seperti tidak peduli dengan hal tersebut. Ia menggelar acara peresmian yang luar biasa megah selama 3 minggu di tepi Terusan Suez. Tak kurang dari 60.000 undangan datang dan menikmati perayaan tersebut. Termasuk diantaranya banyak kepala negara, seperti Permaisuri Eugenie, Kaisar Austria, Pangeran Wales, Pangeran Prusia, dan Pangeran Belanda. Mereka datang dari utara, masuk dengan menggunakan Jalur Terusan Suez, dan tiba di Kota Ismailiyah.[8]

Terusan Suez. Ilustrasi Pemandangan di pintu masuk Port Said tahun 1869. Sumber gambar: gettyimages.com

Dan benar saja, tak sampai 10 tahun, pada tahun 1875, Mesir koleps. Pemerintah Inggris yang ketika itu dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Disraeli dengan cepat menangkap kesempatan tersebut.[9] Ia menggelontorkan £ 4 juta atau sekitar £ 90 juta dan $ 140 juta hari ini – untuk mengambil alih 44% saham Mesir atas Terusan Suez. Yang artinya, Mesir kehilangan semua haknya atas Terusan tersebut. Sedang saham sisanya masih dipenggang oleh pemerintah Perancis.

Tapi nyatanya, hasil penjualan saham tersebut belum mencukupi untuk menutupi hutang-hutang Mesir. Maka setelah penyelidikan oleh serangkaian komisi di Inggris dan Perancis, Ismail Pasha dipaksa untuk menerima keuangan negaranya dikontrol bersama oleh Anglo-Perancis. Dan hanya 3 tahun setelah itu, atau pada tahun pada tahun 1878, Ismail kembali dipaksa menyerahkan tanah pribadinya kepada kendali Anglo-Perancis. Dia harus rela menerima kehilangan status sebagai raja konstitusional di Mesir, menjadi sekedar perpanjangan tangan bangsa Eropa.

Melihat kondisi negaranya yang centang perenang oleh hutang, seorang Kolonel dari kesatuan militer Mesir bernama Urabi Pasha, melakukan pemberontakan yang cukup sengit terhadap pemerintah pada tahun 1879. Tapi ketika itu, Mesir bukan lagi milik Ismail, melainkan miliki banyak kekuatan adidaya dunia. Yang dihadapi oleh Urabi, bukan tentara pemerintahan Ismail, melainkan langsung angkatan bersenjata Inggris yang dengan mudah memadamkan pemberontakan tersebut. Setelah tahun itu, maka musnahlah mimpi untuk membawa Mesir dan peradaban Islam memimpin sekali lagi di pentas dunia.

Bagi bangsa-bangsa Eropa, terbukanya Terusan Suez menandai babak baru kejayaannya. Setelah lebih dari seribu tahun lamanya mereka terkunci di sudut dunia. Ketika Islam muncul dan menguasai wilayah Mediterania, dan Timur Tengah, bangsa Eropa harus mengambil jalan memutar ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan untuk bisa sampai ke Timur Jauh dan Asia Tenggara. Tapi ketika Terusan Suez terbuka, mereka mendapatkan semuanya. Terusan ini telah berhasil meringkas sejauh 4500 Mil perjalanan memutar melalui Afrika.  Itu artinya sirkulasi barang dan jasa berlangsung lebih cepat beberapa kali lipat dari sebelumnya. Belum lagi bila ditambahkan varibel lain, yaitu penemuan Mesin uap yang membuat kapal mampu berjalan tanpa henti dengan kecepatan beberapa kali lipat.

Terusan Suez meringkas jarak tempuh hingga sejauh 4500 Mile atau lebih dari 6000 Km. Sumber gambar: Pinterest.com

Menurut Eamonn Gaeron, pada awal tahun 1870-an, atau sejak pertama kali diresmikan, Inggris sudah menjadi pengguna terbesar Terusan Suez. Tak kurang dari 35.000 armada Inggris lalu lalang di jalur ini setiap tahunnya. Angka ini terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya kapal-kapal bertenaga uap dibuat oleh kerjaan Inggris. Pada tahun 1854, atau ketika De Lesseps mengajukan permohonan untuk membuat Terusan Suez, jumlah kapal uap Inggris masih berjumlah 187 dari total 10.000 kapal yang dimilikinya. Tapi pada tahun 1890, sekitar 5000 kapal Inggris melewati Terusan Suez, yang 70% di antara adalah jenis kapal uap.[10]

Poto Kapal Uap melintas di Port Said pada tahun 1869. Sumber gambar: Pinterest.com

Pada saat yang bersamaan, pengaruh Inggris di Timur Tengah dan Asia Timur terus menanjak seiring dengan melemahkan kekuatan Islam di Timur Tengah. Setelah menguasai India, Inggris, Perancis, dan beberapa Negara Eropa lainnya terus melebarkan wilayahnya jajahannya hingga ke seluruh dunia. Dengan cepat mereka menjadi imperium baru di dunia, baik di kawasan Asia dan Afrika. Dari semua pencapaian tersebut, Terusan Suez, bisa dikatakan sebagai titik balik kemenangan bangsa Eropa atas peradaban Islam, dan peradaban bangsa Timur seluruhnya. (AL)

Selesai

Sebelumnya:

Terusan Suez (3)

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://www.suezcanal.gov.eg/English/About/SuezCanal/Pages/CanalHistory.aspx, diakses 5 April 2018

[2] Ibid

[3] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hal. 265

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Lihat, https://www.suezcanal.gov.eg/English/About/SuezCanal/Pages/CanalHistory.aspx, Op Cit

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Lihat, http://www.bbc.co.uk/history/historic_figures/de_lesseps_ferdinand.shtml, diakses 5 April 2018

[10] Eamon Gearon, Op Cit, Hal. 271