Universitas Qairouan, Universitas Pertama di Dunia

in Monumental

Universitas Qairouan (Al-Qarawiyyin) adalah Universitas pertama di dunia. Berdasarkan UNESCO dan the book Guinness World Records, Universitas Qairouan adalah Universitas pertama dan juga tertua yang memberikan gelar bagi para lulusannya. Universitas Qairouan didirikan oleh Fatimah al-Fihri, seorang wanita Muslim kaya yang bertekad menggunakan harta warisannya untuk pendidikan. Pada tahun 859, di kota Fes, Maroko, Fatimah mendapatkan izin dari penguasa setempat untuk mendirikan sebuah Universitas.[1]

Hal yang dilakukan oleh Fatimah pada waktu itu adalah suatu hal yang akan mengubah wajah pendidikan di dunia selamanya. Kehadiran Universitas pertama di dunia ini mengubah wajah seluruh pendidikan tinggi di dunia. Universitas ini nantinya akan mempunyai pengaruh yang besar bagi dunia pendidikan di wilayah Timur Tengah, Eropa, dan bahkan dunia. Salah satu lulusan terbaik dari Universitas ini di kemudian hari akan membuat revolusi pendidikan dan kesarjanaan di Eropa.

Sebelum menjadi Universitas, Qairouan memiliki fungsi keagamaan yang sama dengan masjid dan madrasah-madrasah lainnya, yaitu pengajaran tentang ilmu-ilmu tradisional Islam yang menjadi landasan ajaran Islam di mana pun. Tiga bidang studi utama bagi siapa saja yang sedang mempelajari ajaran Islam adalah sebagai berikut ini: Studi Ilmu Tafsir Al-Quran, Studi Ilmu Hadis, dan Studi Ilmu Fiqh.

Namun, pada perkembangannya sekolah Qairouan juga menawarkan pelajaran non-Islam sebagai bagian dari pendidikan yang lebih luas, termasuk matematika, astronomi, astrologi, fisika, puisi, dan sastra. Inovasi ini merupakan hal yang penting bagi Qairouan untuk menjadi lebih dari sekedar sekolah keagamaan. Hal itu juga yang merupakan titik balik dalam sejarah Universitas Qairouan—dan untuk masa depan pendidikan tinggi di seluruh dunia.

Pada perkembangan lebih lanjut, pendidikan di Qairouan tidak lagi mewajibkan pelajaran agama, dalam artian non-muslim pun bisa saja sekolah di situ. Mata pelajaran pendidikan tingkat tinggi secara teknis terbuka bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk belajar. Pada akhirnya, yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Qairouan terbukti menjadi momen revolusioner bagi masyarakat manusia, berkembang melampaui zamannya, dan tidak terbatas pada penduduk Afrika Utara saja, tapi merambah ke kalangan Muslim Timur Tengah yang lebih luas, Eropa, dan bahkan dunia.

Universitas Al-Qarawiyyin pada masa kini. (Photo: alaraby.co.uk)

Tokoh Dunia Lulusan Universitas Qairouan

Sejumlah nama besar tokoh dunia merupakan alumni institusi terhormat ini, di antaranya adalah: Maimonides, polymath[2] Yahudi dari zaman modern Spanyol; penulis dan ahli teori dari Tunisia, Ibn Khaldun; ekspedisionis dan penulis dari suku Berber[3] Hassan ibn Muhammad al-Wazzan al-Fasi, yang di dunia Barat dikenal sebagai Leo Africanus, atau Leo sang Afrika.

Maimonides, polymath Yahudi dari zaman modern Spanyol merupakan lulusan Universitas Qairouan. (Photo: hubpages.com)
Lukisan Leo Africanus atau Hassan ibn Muhammad al-Wazzan al-Fasi karya Peter Paul Rubens (1577–1640), koleksi Museum of Fine Arts Boston. Leo Africanus juga merupakan lulusan Universitas Qairouan. (Photo: Jean-Pol GRANDMONT)

Tapi mungkin siswa dari Qairouan yang paling berpengaruh adalah orang yang mengenalkan sistem desimal dan angka Arab ke Eropa. Sistem desimal dan angka Arab inilah yang menggantikan sistem angka Romawi kuno yang telah ada selama lebih dari 1.000 tahun. Sistem desimal dan angka Arab kini secara umum digunakan di seluruh dunia.

Orang yang sama pula yang mengenalkan kembali sempoa dan bola lengan (armillary sphere) ke Eropa. Dan jika ada kejadian yang cukup dramatis dalam hidupnya, dia pernah diangkat menjadi Paus Prancis pertama. Lahir dengan nama Gerbert d’Aurillac di Prancis Selatan sekitar tahun 946, dan lebih dari setengah abad kemudian, ketika dia menjadi Bapa Suci (Gelar untuk Paus) pada tahun 999, Gerbert mengganti namanya dengan Sylvester II.

Gerbert d’Aurillac atau menjadi Sylvester II setelah menjadi Paus Prancis pertama. Sylvester II merupakan salah satu lulusan Universitas Qairouan. (Photo: Roger-Viollet/Rex)

Bakat Gerbert terhadap keilmuan terlihat segera setelah dia memasuki sebuah biara di negara asalnya, Prancis, sekitar usia 17 tahun. Empat tahun kemudian, dia dikirim untuk belajar di sebuah biara lain di Barcelona.

Gerbert yang merupakan seorang biarawan Kristen, disambut untuk belajar di Universitas Qairouan yang didirikan oleh seorang Muslim. Memang terdapat beberapa faksi minoritas yang anti terhadap Yahudi ataupun Kristen, namun secara umum Afrika Utara merupakan wilayah yang memiliki norma terhadap toleransi beragama.

Bani Idris, penguasa Maroko saat itu merupakan penganut Islam Syiah. Sadar akan posisinya sebagai Dinasti Syiah di dunia Muslim yang mayoritas Sunni, maka mereka merasa berkepentingan bahwa mereka lebih baik terbuka terhadap kepercayaan lain di luar Islam. Secara geografis, Maroko terletak di pinggiran barat dunia Muslim. Realitas geografis ini menjadikan Maroko, yang berada di bawah penguasaan Bani Idris, menjadi lokasi yang menarik bagi mereka yang ingin tetap berada di luar jangkauan Dinasti Abbasiyah (Dinasti terbesar Islam pada masa itu). Jadi kedatangan Gerbert untuk belajar di Fes bukan sesuatu yang luar biasa.

Gerbert memiliki kemampuan skolastik yang sangat tinggi, sehingga dia mampu menyerap segala ilmu di Universitas Qairouan. Pada masa itu Universitas Qairouan merupakan lembaga pendidikan yang paling maju dalam hal keilmuan, dibandingkan tempat mana pun di muka bumi. Gerbert cukup produktif dalam menghasilkan karya-karya tulis ilmiah, utamanya setelah lulus dari Universitas Qairouan. Beberapa karya tulis yang dia buat di antaranya mengenai aritmatika, geometri, astronomi, dan musik. Sementara setelah menjadi seorang Paus, dia juga menuliskan beberapa karya keagamaan.

Gerbert d’Aurillac atau kemudian dikenal sebagai Paus Sylvester II sangat berjasa terhadap perkembangan dunia pendidikan di Eropa dan di dunia, karena melalui dialah pintu wawasan mengenai pendidikan di Eropa menjadi terbuka. Tapi ada baiknya juga bagi kita untuk mengingat tentang filantropi Fatimah al-Fihri, wanita yang dengan visi dan kekayaannya mengubah kisah pendidikan di Timur Tengah dan seluruh dunia melalui Universitas Qairouan. (PH)

Catatan: Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan dari buku: Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), chapter 10. Adapun informasi lain yang didapat dari luar buku tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Lebih lengkap mengenai kehidupan Fatimah al-Fihri, lihat https://ganaislamika.com/fatimah-al-fihri-wanita-muslim-pendiri-universitas-pertama-di-dunia/.

[2] Seseorang dengan pengetahuan yang luar biasa luas dan komprehensif, dari laman http://kamus-internasional.com/definitions/?indonesian_word=polymath, diakses 31 Oktober 2017.

[3] Lebih lengkap mengenai suku Berber, lihat https://ganaislamika.com/aljazair-1-pengantar/.