Dinasti Abbasiyah (29): Musa Al-Hadi (4)

in Sejarah

Last updated on April 10th, 2019 07:23 am

Ash-Shuli berkata: “…tidak ada satu malam pun dalam sejarah umat manusia ketika seorang khalifah mangkat (Al-Hadi), seorang khalifah baru dinobatkan (Harun Al-Rasyid) dan seorang calon khalifah dilahirkan (Al-Ma’mun), kecuali malam itu..”

Gambar ilustrasi. Sumber:
http://ulumnabawiahmakh.blogspot.com


Al-Hadi hanya memerintah sekitar satu tahun tiga bulan (30 Muharram 169 H sampai 16 Rabiul Awal 170 H). Dalam kurun waktu tersebut tidak banyak yang bisa dibuatnya. Selain karena dia disibukkan oleh pemberontakan yang dilakukan oleh para pendukung keluarga Ali bin Abi Thalib (Ahlul Bait Rasulullah Saw), waktunya pun habis untuk menggeser Harun Al-Rasyid dari posisi sebagai putra mahkota dan menggantinya dengan putranya, Ja’far bin Musa Al-Hadi.[1]

Sebagaimana sudah dikisahkan pada beberapa edisi sebelumnya, bahwa sekam di dada Al-Hadi sudah muncul sejak ayahnya (Al-Mahdi) berencana memindahkan posisi putra mahkota dari Al-Hadi ke Harun Al-Rasyid. Dimana hal ini membuat Al-Hadi sangat kecewa. Ditambah lagi, ketika masa transisi, sebagian besar penghuni istana, termasuk ibu mereka Khaizuran, lebih cenderung memihak pada Harun. Semua ini diketahui oleh Al-Hadi, sehingga membuatnya berniat untuk menyingkirkan Harun, bahkan berencana membunuhnya.

Tapi rencana tersebut masih bisa diredam oleh nasehat Yahya bin Khalid al Barmaki. Yahya adalah wazir dan orang kepercayaan Harun Al-Rasyid ketika memerintah wilayah Azarbaijan dan Armenia. Dia adalah tokoh yang cukup dipercaya oleh Al-Mahdi. Ini sebabnya nasehat-nasehatnya masih didengar oleh para putra Al-Mahdi. Meski begitu, Al-Hadi sebenarnya menaruh curiga pada Yahya. Hingga akhirnya Yahya memberikan alasan yang tepat pada Al-Hadi untuk tidak meneruskan rencana jahatnya. Yahya memberikan alasan sebagai berikut:

”Putramu (Ja’far bin Musa Al-Hadi) saat ini masih berusia sangat muda. Bila kau meninggal sekarang, kekhalifahannya tidak akan memperoleh legitimasi penuh dari para pendukung kita. Alih-alih, hal tersebut akan melahirkan banyak gejolak politik. Ayah mu, Al-Mahdi sudah menominasikan Harun sebagai khalifah setelah mu. Bila kau melantik putra mu, sebagai putra mahkota menggantikan Harun, itu lebih aman baginya. Dan apabila ternyata kau berumur panjang, sehingga Ja’far bisa mencapai usia yang ideal untuk menggantikan mu, aku berjanji akan meminta pada Harun agar rela mengundurkan diri dari posisinya sekarang, dan memberikannya pada Ja’far.”[2]

Mendengar pendapat Yahya, Al-Hadi merasa cukup puas. Sehingga dia sempat membuang jauh-jauh keinginan untuk menggeser Harun dari posisi sebagai putra mahkota. Tapi ini tidak berlangsung lama. Beberapa waktu kemudian, keinginan itu muncul kembali. Kali ini, keinginan tersebut bahkan didukung oleh para pengikut Al-Hadi. Mereka bahkan sampai menteror Harun Al-Rasyid, dan sempat berencana mempersekusinya. Mendengar hal ini, Yahya memerintahkan pada Harun agar pergi ke tempat yang lebih aman sampai waktu yang tidak ditentukan. Akhirnya dia pun memohon izin pada Al-Hadi untuk pergi dengan alasan berburu. Permintaannya diperkenankan oleh Al-Hadi. Harun pun pergi ke arah Suriah. Tidak banyak yang mengetahui tempatnya, selain orang-orang yang sangat terpercaya. Beberapa di antaranya, adalah ibunya dan Yahya.[3]

Di tempat lain, Khaizuran, ibu Al-Hadi dan Harun mendengar perlakukan Al-Hadi kepada Harun. Dan dia sangat marah sekali pada Al-Hadi. Tapi menanggapi kemarahan ibunya, Al-Hadi malah naik pitam. Sejak itu hubungan antara ibu dan anak ini tidak pernah baik lagi. Ketika Al-Hadi mengetahui bahwa ibunya banyak mencampuri urusan kenegaraan,[4] Al-Hadi mendatangi ibunya dan berkata, “Kalau kulihat ada Amir yang keluar dari pintu rumah ibu, akan ku penggal kepalanya! Tidak punyakah ibu alat pemintal untuk menyibukkan diri atau Kitabullah yang bisa memberi ibu pengetahuan? Atau tidakkah ibu disibukkan dengan tasbih-tasbih?”[5]

Mendengar kata-kata sekasar ini dari putranya, Khaizuran sampai berdiri karena tidak bisa menahan amarah. Belum puas menyakiti ibunya dengan perkataan yang kasar, Al-Hadi juga mengirimkan makanan yang sudah dibubuhi racun pada ibunya. Khaizuran yang curiga atas perilaku anaknya, tidak memakan makanan tersebut, tapi segera memberikannya pada anjing. Dan anjing itupun mati. Setelah menyaksikan sendiri tindakan putranya yang melampaui batas ini, Khaizuran mulai berencana untuk membunuh Al-Hadi.[6]

Suatu ketika, keinginan Al-Hadi untuk membunuh Harun Al-Rasyid kian tak terbendung. Dia bahkan mengirimkan utusan khusus untuk memburu Harun dan membunuhnya. Mendengar ini, Khaizuran tidak bisa menahan lagi amarahnya. Suatu ketika dia mendengar bahwa Al-Hadi sakit tidak berdaya. Khairuzan melihat inilah saatnya. Dia memerintahkan kepada beberapa budak perempuannya untuk secara persuasif mendekati Al-Hadi. Dan ketika saatnya tepat, budak itupun membekap leher Al-Hadi dengan selendangnya. Al-Hadi yang sedang sakit tak mampu berkutik. Dia akhirnya mati di tangan budak perempuan tersebut.[7]

Setelah mastikan kematian Al-Hadi, Khaizuran segera mengirimkan surat kepada Yahya bin Khalid al Barmaki, yang isinya kurang lebih sebagai berikut: ”Pria itu (Al-Hadi) sudah mati, jadi segeralah bertindak tegas. Jangan sampai gagal. Lakukan dengan tepat dan presisi!”[8] Mendapat kabar mengejutkan ini, Yahya segera mengamankan proses transisi.

Menurut Tabari, Al-Hadi wafat pada malam Jum’at, sekitar pertengahan bulan Rabiul Awal 170 H/ September 786 M. Pada malam itu juga, berita kematian Al-Hadi langsung disiarkan, sekaligus mengumumkan pengangkatan Harun Al-Rasid sebagai penggantinya. Khaizuran, memerintahkan Harun agar segera ke Baghdad. Harun pun langsung bergegas menjemput takdirnya.[9]

Menariknya, pada malam yang sama lahirlah putra Harun Al-Rasyid yang bernama Abdullah Al-Ma’mum. Kelak, dia akan naik tahta menggantikan ayahnya. Ash-Shuli berkata: “…tidak ada satu malam pun dalam sejarah umat manusia ketika seorang khalifah mangkat, seorang khalifah baru dinobatkan dan seorang calon khalifah dilahirkan, kecuali malam itu..”[10] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, Riyadh, Darussalam, 2000, hal. 338

[2] Ibid, hal. 339

[3] Ibid

[4] Menurut Tabari, Khairuzan adalah budak wanita yang sangat disayangi oleh Al-Mahdi. Ketika masa pemerintahan Al-Mahdi, Khairuzan banyak mencampuri urusan pemerintahan. Dia bahkan ikut memberikan perintah dan larangan tentang situasi yang terjadi selama masa pemerintahan Al-Mahdi. Tak ayal dia memiliki pengaruh yang besar, dan mengetahui sistem pemerintahan sedemikian rupa. Ketika Al-Mahdi wafat, Khiruzan tidak menghentikan kebiasaannya. Dia masih aktif mengatur pemerintahan, bahkan mengundang para amir dari berbagai daerah, dan memberi perintah pada para pejabat tinggi, bahkan kepada khalifah. Inilah yang membuat Al-Hadi demikian marah. Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXX, The Abbasid Caliphate in Equilibrium, translated and annotated by C. E. Bosworth, State University of New York Press, 1995, hal. 42

[5] Lihat, Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, Jakarta, Qisthi Press, 2017, hal. 302

[6] Ibid

[7] Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXX, Op Cit, hal. 44

[8] Ibid

[9] Ibid, hal. 58

[10] Lihat, Imam As-Suyuthi, Op Cit, hal. 304 f

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*