Dinasti Abbasiyah (30): Harun Al-Rasyid (1)

in Sejarah

Harun Al-Rasyid dilantik pada malam hari, sesaat setelah kematian Al-Hadi. Hal yang pertama dilakukannya adalah mengangkat Yahya bin Khalid sebagai wazir. Tidak main-main, Yahya langsung diberikan kepercayaan penuh untuk mengawal jalannya transisi. Harun bahkan menyerahkan cincin khalifah kepada Yahya. Cincin ini sekaligus berfungsi sebagai segel resmi istana. Dengan cincin ini, Yahya bisa berbuat sekehendak hati layaknya khalifah itu sendiri

Gambar ilustrasi Harun al Rasyid. Sumber: about-history.com 

Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Harun bin Al-Mahdi bin Al-Manshur bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Dia mendapat gelar Al-Rasyid dari ayahnya (Al-Mahdi) ketika dia sukses dalam ekspedisi militer menaklukkan Romawi. Bersamaan dengan pemberian gelar tersebut, dia pun dilantik sebagai putra mahkota setelah Musa Al-Hadi.

Dia naik tahta pada malam Jum’at, 16 Rabiul Awal 170 H/ September 786 M. Ketika itu usianya masih sekitar 21 tahun. Dia lahir di Rayy (Iran sekarang) pada 1 Muharram 149 H/ 16 Februari 766 M. Ibunya bernama Khaizuran, seorang budak Al-Mahdi, yang juga ibu dari Musa Al-Hadi. [1]

Sebagaimana dikisahkan oleh Tabari, pada malam pelantikan Harun Al-Rasyid, terjadi intrik politik yang luar biasa di dalam istana Baghdad. Ketika itu, ibu suri Dinasti Abbasiyah yang bernama Khaizuran memerintahkan kepada budak-budak perempuannya untuk mendekati dan membunuh Al-Hadi yang sedang sakit tak berdaya. Sedang di sisi lain, Al-Hadi memerintahkan orang-orang kepercayaannya agar memburu Harun Al-Rasyid beserta orang-orang dekatnya.[2] Dengan kata lain, pada malam ini terjadi pertarungan penghabisan antara dua kekuatan politik dalam tubuh istana. Dan apapun hasilnya. Kedua pihak sudah memiliki rancangan skenario selanjutnya.

Sejarah pun membuktikan, bahwa skenario yang dibuat Khaizuran lah yang berhasil memenangkan persaingan. Al-Hadi berhasil dibunuh, dan Harun selamat. Maka di malam yang sama itu, Harun Al-Rasyid langsung dilantik sebagai khalifah. Pelantikan ini tidak dilakukan secara terbuka di hadapan publik. Hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat istana. Setelah mendapat baiat dari sejumlah tokoh terkemuka, Harun segera melantik Yahya bin Khalid al Barmaki sebagai wazirnya.[3]

Sedikit perlu dijelaskan di sini tentang latar belakang kedekatan hubungan antara Harun dengan Yahya. Menurut Akbar Shah Najeebabadi, hubungan kedua orang ini sudah terjadi sejak dini, yaitu ketika Harun Al-Rasyid lahir. Seminggu sebelumnya, istri Yahya bin Khalid yang bernama Zainab binti Munir baru saja melahirkan seorang putra bernama Fadl bin Yahya bin Khalid. Mungkin karena baru melahirkan, air susu Khaizuran belum mengalir sempurna. Sehingga Zainab ditunjuk untuk menyusui Harun Al-Rasyid. Dan ketika air susu Kaizuran sudah mengalir sempurna, Fadl bin Yahya juga disusui oleh Khaizuran.[4]

Dari sinilah, hubungan antara Yahya dan Harun terjalin. Bagi Harun Al-Rasyid, Yahya dan istrinya sudah seperti ayah dan ibunya sendiri, demikian juga sebaliknya. Maka tidak mengherankan ketika Harun dipercaya oleh Al-Mahdi untuk mengelola seluruh wilayah barat Abbasiyah, Yahya bin Khalid yang dipercaya untuk mendampinginya sebagai wazir. Agaknya keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan hubungan emosional ini juga. Bersama Yahya, Harun akan berada di bawah pengawasan yang terpercaya. Karena dia tidak hanya menjadi wazir, tapi juga sahabat dan juga ayah bagi Harun.

Latar belakang kedekatan ini pula yang akhirnya menjelaskan kedudukan Yahya di awal masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid. Sesaat setelah dilantik sebagai khalifah kelima Dinasti Abbasiyah, Harun langsung mengangkat Yahya sebagai wazir. Tidak main-main, Yahya langsung diberikan kepercayaan penuh untuk mengawal jalannya transisi. Harun bahkan menyerahkan cincin khalifah kepada Yahya. Cincin ini sekaligus berfungsi sebagai segel resmi istana. Dengan cincin ini, Yahya bisa berbuat sekehendak hati layaknya khalifah itu sendiri.[5]

Yahya pun tidak menyia-nyiakan kepercayaan ini. Dengan sigap dia langsung mencari cara paling efektif untuk memantapkan legitimasi Harun Al-Rasyid. Dia segera menulis surat ke berbagai propinsi yang isinya berita tentang kematian Al-Hadi dan pengumuman tentang pengangkatan Harun Al-Rasyid. Yahya lalu memerintahkan orang kepercayaannya bernama Yusuf bin Al-Qasim bin Subayh Al-Katib agar mengumpulkan para jenderal dan komadan pasukan Abbasiyah. Keesokan paginya, para komandan pasukan sudah berkumpul di Istana Baghdad. Di hadapan mereka sudah berdiri Yusuf bin Al-Qasim.[6]

Yusuf kemudian berpidato di hadapan para komandan militer Abbasiyah, yang intinya mengabarkan bahwa Musa Al-Hadi sudah meninggal semalam. Tapi sebelum kematiannya, dia sudah berwasiat, sebagaimana juga wasiat ayahnya, bahwa Harun Al-Rasyid yang berhak menggantikannya. Dengan demikian, Harun sudah dilantik, dan sudah resmi menjadi khalifah yang baru hari ini.[7]

Dan berdasarkan perintah khalifah Harun Al-Rasyid, pada pagi ini juga perbendaharaan negara dibuka lebar. Semua gaji prajurit yang sudah beberapa bulan belum dibayar Musa Al-Hadi, akan langsung dibayar kontan sekarang. Plus, gaji tambahan juga diberikan secara cuma-cuma kepada prajurit dalam jumlah cukup besar, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan sanak keluarga mereka semua selama sebulan.[8]

Di akhir pidatonya, Yusuf bin Al-Qasim meminta agar semua prajurit menentapkan kesetiaannya pada khalifah yang baru. Karena Harun sudah berjanji, jika imperium Abbasiyah menguat dan harta kekayaan negara meningkat di bahwa pemerintahannya, maka kesejahteraan prajurit akan diprioritaskan.[9]

Mendengar pengumuman ini, tak ayal arus dukungan pun langsung menguat ke Harun Al-Rasyid. Para prajurit seperti lupa bahwa pada malam yang sama Al-Hadi baru saja meninggal dunia. Tapi mereka tersengat oleh pidato Yusuf bin Al-Qasim, dan larut dalam euforia kegembiraan menyambut datangnya khalifah baru. Para aktor politik yang dulunya berposisi dipihak Al-Hadi langsung diam seribu bahasa. Dalam waktu yang demikian singkat, Harun Al-Rasyid langsung meraup simpati dan legitimasi untuk menjabat sebagai khalifah kelima Dinasti Abbasiyah. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXX, The Abbasid Caliphate in Equilibrium, translated and annotated by C. E. Bosworth, State University of New York Press, 1995, hal. 58

[2] Ibid, hal. 42-44

[3] Ibid, hal. 92

[4] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, Riyadh, Darussalam, 2000, hal. 340

[5] Ibid

[6] Lihat, The History of al-Tabari, VOLUME XXX, Op Cit, hal. 92

[7] Ibid, hal. 93

[8] Ibid hal. 94

[9] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*