Profil Emas KH. Wahid Hasyim (2)

in Tokoh

Last updated on February 21st, 2018 05:05 am

Wahid Hasyim lahir pada awal terbitnya masa keemasan Pesantren Tebuireng. Beliau tumbuh dan menjadi permata bagi keluarga pondok ini. Inilah semesta masa kecilnya. Ratusan kitab ilmu ditambah seorang ayah sekaligus guru yang dijuliki ”Hadratusy Syeikh” (Tuan Guru Besar) oleh para ulama – menjadikan semesta masa kecil ini demikian gemerlap dan luas.

—Ο—

 

Latar Belakang Keluarga dan Lingkungan

Sebagaimana sudah diketahui Abdul Wahid yang di kemudian hari lebih dikenal dengan nama Wahid Hasyim berasal dari keluarga yang sangat terpandang. Ayahnya, K.H. Hasyim Asy’ari adalah pendiri dan pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang. Kakek dari ayahnya K.H. Asy’ari adalah pendiri pesantren Keras di Jombang. Sementara kakek ayahnya (mertua KH. Asy’ari), yaitu Kyai Usman adalah seorang kyai terkenal dan pendiri pesantren Gedang, sekitar dua kilometer sebelah timur Jombang. Ibunya (istri KH. Hasyim Asy’ari) adalah putri kyai Ilyas dari Sewulan (Madiun). [1]

Konon, berdasarkan informasi yang dituturkan secara turun temurun, silsilah Wahid Hasyim bersambung hingga ke Raja-raja di Pulau Jawa. Dirunut dari ayahnya, Wahid Hasyim silsilahnya sampai pada Jaka Tingkir atau Sultan Adiwijaya, raja pertama Kesultanan Pajang (1549-1582), yang tidak lain keturunan dari Prabu Brawijaya V.[2] Sedang dari pihak ibu, Wahid Hasyim masih keturunan Ki Ageng Tarub I. Sebagian sejarawan tidak terlalu meyakini otentisitas silsilah ini. Karena sifatnya yang dituturkan secara turun temurun. Tapi bila kita asumsikan silsilah tersebut benar, maka simpul kekerabatan yang ada pada diri Jaka Tingkir bisa bersambung ke Raja-raja Majapahit di satu sisi, dan disisi lain, bersambung juga ke para raja di kesultanan Demak.[3]

Tapi terlepas dari benar tidaknya silsilah tersebut, figur sang ayah, KH. Hasyim Asy’ari sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa KH. Wahid Hasyim berasal dari keturunan yang mulia. Di antara para ulama besar Indonesia kelahiran paruh kedua abad ke-19, KH. Hasyim Asy’ari adalah salah satu ulama yang paling terkemuka dan paling luas pengaruhnya di nusantara. Beliau dikenal sangat ahli dalam bidang tafsir dan hadits, disamping memiliki pengetahuan yang sangat mendalam mengenai ilmu-ilmu keislaman lainnya. Pesantren yang dipimpinnya telah melahirkan banyak ulama besar yang kemudian mendirikan dan mengasuh pesantren. Tidak hanya mendidik para santrinya sampai tuntas menguasai berbagai ilmu, beliau juga ikut aktif membantu pendirian pesantren-pesantren yang didirikan oleh murid-muridnya, seperti Pesantren Lasem (Rembang, Jawa Tengah), Darul Ulum (Peterongan, Jombang), Mambaul Ma’arif (Denanyar, Jombang), Lirboyo (Kediri), Salafiyah-Syafi’iyah (Asembagus, Situbondo), Nurul Jadid (Paiton Probolinggo), dan lain sebagainya.[4]

Bagi Wahid Hasyim, ayahnya ini adalah guru pertamanya, dan bagi KH. Hasyim Asy’ari putranya ini adalah murid utamanya. Kepada Wahid Hasyim lah berbagai ilmu yang dimiliki Kiai Hasyim diwariskan. Puluhan atau mungkin ratusan kitab sudah dijejalkan oleh Kiai Hasyim kepada putranya yang super cerdas ini sejak usia dini. Salahuddin al-Ayyubi atau Gus Solah, putra ketiga Wahid Hasyim mengatakan, “Kalau saat itu bisa dihitung, nilai IQ ayah saya pasti tinggi,”[5]

Lima belas tahun sebelum lahirnya Wahid Hasyim, atau pada tahun 1899, Kiai Hasyim yang ketika itu masih berusia 28 tahun nekat memboyong keluarganya pindah dari Nggendang, Jombang, menuju Desa Tebuireng yang disebut sebagai “desa tanpa perikemanusiaan”. Di tempat ini, semua jenis kejahatan sangat mudah ditemui. Seperti tanpa aturan, Tebuireng menjadi pusat peradaban jahiliyah di Jawa Timur yang sangat terkenal kala itu. Masyarakatnya tidak hanya hobi bermaksiat, tapi juga bersedia melawan semua dakwah para ulama yang datang kepada mereka. Ini juga yang membuat tidak sedikit orang yang meragukan rencana dakwah Hasyim Asy’ari. Tapi Hasyim Asy’ari mengatakan kepada para pengkritiknya, “Menyiarkan agama Islam ini artinya memperbaiki manusia,” [6]

Dan benar saja apa yang dikhawatirkan oleh orang-orang. Pada mulanya dahkwa beliau tidak mudah. Banyak gangguan terhadap diri beliau, juga kepada santri-santrinya. Tapi jawaban Kiai Hasyim pada pengkritiknya juga tidak main-main. Beliau dengan tekun dan pandang mundur menyebarkan dakwahnya. Sehingga hanya dalam waktu tiga bulan, dari semula santrinya berjumlah 8 orang, meningkat menjadi 28 orang. Nama Kiai Hasyim pun kian kesohor ke berbagai daerah. Dan santripun kian banyak berdatangan. Pada pada tahun 1910, jumlah santri beliau sudah membengkak menjadi 200 orang, dan 10 tahun berikutnya melonjak menjadi 2000-an orang, sebagian di antaranya berasal dari Malaysia dan Singapura. Pembangunan dan perluasan pondok pun ditingkatkan, termasuk peningkatan kegiatan pendidikan untuk menguasai kitab kuning.[7]

Wahid Hasyim lahir pada awal terbitnya masa keemasan Pesantren Tebuireng. Beliau tumbuh dan menjadi permata bagi keluarga pondok ini. Inilah semesta masa kecilnya. Ratusan kitab ilmu ditambah seorang ayah sekaligus guru yang dijuliki ”Hadratusy Syeikh” (Tuan Guru Besar) oleh para ulama – menjadikan semesta masa kecil ini demikian gemerlap dan luas. Tapi dalam tubuh kecil Wahid Hasyim ternyata memeram semesta yang tak berhingga. Beliau hanya membutuhkan 12 tahun mengenyam pendidikan di rumah. Setelah itu, beliau sudah diminta ayahnya untuk mengajar para santri. Dan pada usia 13 tahun, beliau memantapkan diri untuk menjadi “santri kelana”. Beliau berjalan dari satu pondok ke pondok lainnya untuk mendalami setiap tema yang ia ingin kuasai. (AL)

Bersambung…

Profil Emas KH. Wahid Hasyim (3)

Sebelumnya:

Profil Emas KH. Wahid Hasyim (1)

Catatan kaki:

[1] Lihat, http://digilib.uinsby.ac.id/3919/5/Bab%202.pdf, diakses 14 Februari 2018

[2] Lihat, http://id.rodovid.org/wk/Istimewa%3AChartInventory/950978, diakses 14 Februari 2018

[3]Ibid

[4] Lihat, https://tebuireng.online/sejarah/, diakses 14 Februari 2018

[5] Lihat, https://serbasejarah.files.wordpress.com/2012/05/wahid-hasim-file-tempo.pdf, Op Cit

[6] Ibid

[7] Lihat, https://tebuireng.online/sejarah/, Op Cit

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*