Abdul Muthalib (5); Menghadapi Abrahah

in Tokoh

Last updated on February 8th, 2018 01:04 pm

Abdul Muthalib berkata: “Kami tidak ingin memeranginya karena kami tidak memiliki kekuatan. Ka’bah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah kekasih-Nya Ibrahim. Jika Ia mencegahnya, maka itu adalah rumah-Nya dan tempat suci-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya.

—Ο—

 

Berita meninggalnya Abdullah di Madinah sangat mengejutkan semua orang. Berita duka ini tentu sangat menyakitkan bagi masyarakat Mekkah yang beberapa bulan sebelumnya secara berbondong-bondong menyelamatkannya dari nazar Abdul Muthalib. Namun dari semua orang, tentu yang paling merasa kehilangan adalah Aminah yang saat ini sedang dalam kondisi mengandung putra pertamanya. Tidak terbayang berat perasaannya ketika mendengar berita menyedihkan ini. Bagaimana ia membayangkan putranya akan lahir tanpa seorang ayah, di tengah-tengah masyarakat jahiliyah yang menjunjung tinggi silsilah mereka (ashobiyah).

Tapi yang tak kalah sedihnya dari Aminah, tidak lain adalah Abdul Muthalib. Disamping sangat merasa kehilangan atas kepergian Abdullah. Abdul Muthalib juga resah memikirkan perasaan menantunya, dan tentu saja nasib cucunya kelak. Ia sangat paham bagaimana jadinya hidup di tengah padang pasir Arabia dalam kondisi yatim. Ia sendiri dahulu pernah mengalaminya sendiri, ketika ayahnya, Hasyim meninggalkannya di usia sangat dini. Dan sekarang, cucunya ini akan menghadapi semua itu langsung ketika ia lahir ke dunia. Sejarah mencatat, setelah wafatnya Abdullah, tidak ada hal lain dipikirkan dan meresahkan hati Abdul Muthalib selain cucunya ini. Ditambah lagi, ketika itu usianya sudah tidak lagi muda.

Belum lagi reda duka cita melanda keluarga Abdul Muthalib dan kota Mekkah, datang berita bahwa Abrahah, seorang Raja Yaman sedang berderak bersama bala tentaranya ke Mekkah. Tujuan mereka adalah untuk menghancurkan Ka’bah.

Abrahah memiliki nama lengkap Abrahah al-Ashram Abu Yaksum. Pada mulanya, ia adalah gubernur wilayah Abyssinia atau yang lebih dikenal dengan Kekaisaran Ethiopia. Abrahah memiliki tentara yang sangat kuat dengan pasukan gajah sebagai andalannya.[1] Pasukan ini baru saja mereguk kemenangan besar dengan menaklukkan kerajaan Saba, atau Yaman. Di Yaman, ia mendirikan sebuah gereja yang megah. Harapannya agar tempat tersebut dapat menjadi pusat kunjungan para peziarah. Tapi meski sudah berusaha keras merias gereja barunya, pamor gereja tersebut belum bisa mengalihkan manusia dari keinginan untuk datang ke Mekkah, khususnya untuk berziarah ke Ka’bah.

Merasa tersaingi, Abrahah akhirnya berangkat menunju Mekkah dengan bala tentara Abyssinia yang terkenal dengan pasukan gajahnya. Para sejarawan mencatat peristiwa ini terjadi pada sekitar tahun 570 M.[2] Secara strategis, tampaknya apa yang dilakukan oleh Abrahah sangat mubazir. Menghadapi suku kecil seperti Mekkah, tentu sangat mudah bagi Maharaja seperti Abrahah. Tapi sebenarnya bukan tanpa alasan Abrahah membawa pasukan sedemikian besar. Ia sangat memahami, bahwa yang akan dihancurkannya adalah rumah ibadah umat manusia dari berbagai penjuru dunia. Berbagai gangguan dan rintangan sangat berpotensi akan dia hadapi dalam upaya melaksanakan niatnya.

Dan perkiraannya tepat. Di tengah perjalanan, ia dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh lelaki bernama Dunaher. Ia berhasil menggalang kekuatan beberapa kabilah untuk bersama-sama mencegah laju pasukan gajah Abrahah. Tapi pasukan Abrahah memang terlalu tangguh bagi mereka. Pasukan Dunaher berhasil disapu bersih sebentar saja.

Setelah Dunaher, pasukan Abrahah kembali dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh Nufail bin Hubaid al-Aslami. Namun lagi-lagi perlawanan yang dilakukan oleh Nufail berhasil dipatahkan oleh Abrahah. Setelah itu, nyaris tidak ada lagi perlawanan dari suku-suku setempat terhadap pasukan Abrahah. Dan sejalan dengan itu, kisah kehebatan pasukan gajah yang dibawa Abrahah pun menyebar dengan cepat, dan sampai ke Kota Mekkah.

Mendengar berita ini, para pemimpin kabilah-kabilah panik, namun Abdul Muthalib tetap tenang, tidak gentar sedikitpun. Kontak pertama Abdul Muthalib dengan Abrahah terjadi ketika Abrahah dan pasukannya mencapai Thaif. Para pemuka suku di Thaif sambil gemetar datang ke Abrahah dan menyatakan bahwa apa yang mereka cari tidak ada di Thaif, tapi ada di kota Mekkah. Dan mereka bersedia membantu Abrahah menunjukkan letak Ka’bah. Mendengar ini, Abrahah lalu mengutus anak buahnya untuk menyelidiki kota tersebut, dan sekaligus menyampaikan pesannya kepada pemimpin kota Mekkah. Dalam misi kecil ini, pasukan Abrahah sempat merampas banyak harta dari kaum Quraisy dan selain mereka. Dan di antara yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul Muthalib.

Dalam surat yang dibawa oleh utusannya itu, Abrahah menyampaikan bahwa ia tidak datang untuk memerangi mereka, namun ia datang hanya untuk menghancurkan Ka’bah. Jika mereka tidak menentangnya, maka darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui Abdul Muthalib, ia menceritakan tentang keinginan Abrahah. Abdul Muthalib berkata: “Kami tidak ingin memeranginya karena kami tidak memiliki kekuatan. Ka’bah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah kekasih-Nya Ibrahim. Jika Ia mencegahnya, maka itu adalah rumah-Nya dan tempat suci-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya.” Kemudian utusan itu pergi bersama Abdul Muthalib menuju Abrahah.[3]

Meski hanya seorang pemimpin kota Mekkah, yang bila dibandingkan dengan kekuasaan Abrahah, jelas bukan apa-apa – namun kewibawaan Abdul Muthalib sangat luar biasa. Mendengar kedatangan Abdul Muthalib, Abrahah sontak turun dari singgasananya, dan duduk di permadani sambil secara langsung menjamunya. Abdul Muthalib dan Abrahah duduk sejajar, dan mulai bernegosiasi.

Abrahah lalu berkata pada penerjemahnya, “Katakan padanya apa kebutuhannya?”

Abdul Muthalib berkata: “Kebutuhanku adalah agar engkau mengembalikan dua ratus ekor unta yang diambil anak buah mu dariku”

Ketika Abdul Muthalib mengatakan demikian, wajah Abrahah berubah, lalu ia berkata kepada penerjemahnya: “Katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika melihatnya, kemudian aku merasakan kehati-hatian saat berbicara dengannya, apakah engkau berbicara denganku tentang dua ratus ekor unta yang telah aku ambil, lalu engkau membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya dan kakek-kakeknya, yang aku datang untuk menghancurkannya dan dia tidak menyinggungnya sama sekali?”

Abdul Muthalib menjawab: “Aku adalah pemilik unta, sedangkan pemilik rumah itu adalah Tuhan yang melindunginya.”

Abrahah berkata: “Dia tidak akan mampu melindunginya dariku.”

Abdul Muthalib menjawab: “Lihat saja nanti!”

Demikianlah percakapan tersebut. Abrahah pun mengembalikan dua ratus ekor unta Abdul Muthalib, dan bersiap menghancurkan Ka’bah. Sedang Abdul Muthalib berbegas pulang bersama unta-untanya, dan memerintahkan kepada penduduk Mekkah untuk mengosongkan kota dan pergi berlindung kemana saja yang dianggap aman. Secara strategis, Abdul Muthalib sangat menyadari, bahwa tidak ada kekuatan manusia di jazirah arab yang bisa menghentikan laju pasukan raksasa ini. Maka ia sepenuhnya berserah kepada Allah SWT tentang cara mempertahankan Ka’bah.

Tidak ada satupun orang di masa itu yang mengetahui apa yang akhirnya terjadi dengan pasukan Abrahah. Mereka tak jua menghancurkan Ka’bah, dan tak jua dikabarkan kembali. Sampai akhirnya misteri itu terbuka ketika Allah SWT mengabarkan pada Rasulullah SAW tentang datangnya burung ababil yang menghancurkan pasukan Abrahah.

Dalam Al Quran surat Al Fil, Allah SWT berfirman:

 “Apakah kamu tidak memperhatikan bagimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka ‘bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadihan mereka seperti daun yang dimakan (ulat).” (QS. al-Fil: 1-5)

Bersambung

Abdul Muthalib (6); Lahirnya Cahaya yang Dinantikan

Sebelumnya:

Abdul Muthalib (4); Menikahkan Abdullah

Catatan kaki:

[1] Lihat, The History of al-Tabari, Vol. 5., Translated by C. E. Bosworth, State University of New York Press, 1999, hal. 266

[2] Lihat, https://id.wikipedia.org/wiki/Abrahah, diakses 5 Februari 2018

[3] Lihat, http://jaipk.perak.gov.my/index.php, diakses 30 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*