Alawi (4): Sebuah Identitas Religius atau Politik?

in Studi Islam

Pelabelan Alawi lebih bersifat politis, untuk menunjukkan satu kelompok penetang rezim Dinasti Ottoman. Dari sinilah, kemudian narasi identitas mereka didefinisikan.

—Ο—

 

Menurut Torstein Schiøtz Worren, pengelompokan sekte, atau identifikasi kelompok dalam tubuh kaum Muslimin mengalami formalisasi politik pada masa pemerintahan Dinasti Ottoman memerintah Suriah pada tahun 1516 M. Sebagaimana umum diketahui, bahwa Ottoman adalah penganut mahzab Sunni. Pada masa inilah mahzab Sunni mengalami formalisasi dan menjadi agama resmi Negara. Ottoman menerapkan dengan tegas Al-Quran dan Sunnah yang menjadi hukum primer dalam syariat Islam. Mereka menjamin hak-hak minoritas agama yang merupakan Orang-Orang Terlindungi (dzimmi), yang berarti bahwa orang Kristen dan Yahudi memiliki hak untuk mengatur diri mereka sendiri di pengadilan hukum agama mereka. Hal ini diatur dalam sebuah sistem Millet, yang merupakan unit-unit otonom dan dipimpin oleh seorang pemimpin agama dari komunitas yang bertanggung jawab untuk administrasi dan perpajakan atas nama Sultan. Dimana toleransi agama ini dianggap sebagai salah satu alasan di balik stabilitas Kekaisaran Ottoman.[1]

Tapi yang disayangkan, hal yang sama tidak berlaku bagi kelompok Islam non-Sunni ataupun kelompok lain yang tidak sejalan dengan mereka. Menurut Torstein terdapat dua kelompok yang paling menonjol penentangannya secara politik, yaitu kelompok Syiah, dan Alawi. Atas penentangan ini, secara teratur mereka dianiaya.[2] Yang menarik di sini, bahwa sejak lama Syiah dan Alawi diidentifikasi secara berbeda. Sangat kontras dengan apa yang dinarasikan selanjutnya, bahwa Alawi sama dengan Syiah. Pada faktanya, menurut Torstein, orang-orang yang diidentifikasi sebagai Alawi ini pada umumnya menjalankan ritual syariah menurut fiqih Sunni. [3]  Bahkan, banyak juga diantara mereka yang diidentifikasi sebagai Alawi justru menggunakan nama-nama yang biasa dipakai oleh umat Kristiani.

Mei Nguyen-Phuong-Mai seorang professor dari Amsterdam University menyebutkan dalam artikelnya berjudul : “Syrian Alawites: Their history, their future“, bahwa pendapat banyak ahli pada tahun 1903 justru menyebutkan Alawi merupakan salah satu sekte rahasia Kristen. Hal ini diidentifikasi dari kepercayaan mereka tentang Trinitas, serta kebiasaan sebagian mereka mengikuti tradisi upacaya keagamaan Kristen seperti Natal, dan juga mereka sangat menghormati beberapa orang-orang suci dalam agama Kristen.[4]

Dalam kerangka ini, bila kita masukkan semua informasi yang dikemukakan para ahli yang berkembang dari berbagai sudut, bahwa sebenarnya dalam hal keyakinan agama, Alawi bisa teridentifikasi sebagai Sunni, Syiah dan juga Kristen. Berdasarkan fakta ini, bila kita ketegorikan Alawi sebagai agama atau sekte, maka tidak mungkin ketiga-tiganya benar. Tidak mungkin secara bersamaan Alawi adalah Sunni, Syiah, dan sekaligus Kristen. Pemaksaan kita mengkategorisasi mereka sebagai ketiganya, justru melahirkan rumor dan asumsi yang tidak bertanggungjawab, sebagaimana yang terjadi saat ini. Kecuali bila kita mengeluarkan Alawi dari asosiasi keagamaan dan aliran sekte apapun. Maka besar kemungkinan ketiga fakta tersebut benar adanya.

Dengan demikian, bila kita konstruksi narasinya, tampaknya Alawi yang dimaksud ini lebih mirip seperti kelas “Abangan” di Indonesia. Sebuah kelas sosial yang penamaannya digunakan untuk mengidentifikasi suatu kelas yang sekuler dalam padangan Clifford Geertz. Adapun istilah “Alawi”, lebih seperti label bagi salah satu kelompok yang menentang Kesultanan Ottoman. Terkait agama dan keyakinannya, bisa berbeda-beda, mulai dari Islam Sunni ataupun Syiah, bahkan dari agama Kristen. Dalam kerangka ini, Alawi lebih merupakan stigma politis. Dan dari sinilah, kemudian narasi identitas mereka didefinisikan.

Dalam perjalanannya, kelompok penentang ini mengalami kekalahan yang cukup telak. Mereka akhirnya berkumpul dalam satu wilayah dan memperkuat ikatan komunal di antara mereka. Oleh sebagian masyarakat Suriah yang memihak pada Ottoman, mereka dianggap “the others”, serta dilabeli dengan berbagai rumor dan asumsi. Sebagaimana disebuat dalam banyak literatur, kelompok ini terisolir dalam satu wilayah yang menempati Jabal al-anṣāriya, atau sekarang biasa disebut Jabal al-ʿAlawiyin “Pegunungan Alawi.” Selama masa pemerintahan Ottoman, mereka kerap mengalami perlakukan diskriminatif dari penguasa – bukan karena agamanya, melainkan lebih karena penentangannya.  Kemungkinan besar selama proses inilah kemudian terjadi pemadatan identitas di dalam kubu Alawi sendiri. Sehingga pada tahap selanjutnya, mereka semakin mudah diidentifikasi sebagai sebuah kelompok.

Tapi roda zaman berputar, ketika Perancis menguasai Suriah, mereka mulai mengidentifikasi ulang semua variasi kelompok dan aliran yang ada di kawasan jajahannya. Di sinilah kemudian lahir istilah Alawi – untuk menunjukkan identitas kelompok minoritas yang menetap di Jabal al-anṣāriya. Perancis kemudian membagi dua mandat yang berbeda di wilayah bekas Ottoman yang dikuasainya; pertama, yaitu Lebanon yang mereka berikan kekhususan untuk masyarakat Kristen. Dan kedua adalah Suriah, yang mereka bagi menjadi 5 wilayah berdasarkan identitasnya, yaitu Negara Allepo, Negara Damaskus, Negara Alexandretta, serta dua wilayah lainnya adalah Druze dan Alawi. Wilayah inilah yang kelak bergabung menjadi Republik Suriah sebelum Perang Dunia II dan memperoleh kemerdekaan penuh pada tahun 1946. Kecuali Negara Alexandretta, yang sekarang menjadi bagian dari Negara Turki.[5]  (AL)

Peta Mandat Perancis untuk Suriah dan Lebanon tahun 1922. Sumber gambar: theislamicmonthly.com

 

Bersambung…

Alawi (5): Pemuka Para Elit di Suriah

Sebelumnya:

Alawi (3): Konstruksi Identitas Alawi

Catatan kaki:

[1] Torstein Schiøtz Worren, Fear and Resistance; The Construction of Alawi Identity in Syria, Master thesis in human geography, Dept of Sociology and Human Geography, University of Oslo, 2007, hal. 40

[2] Ibid

[3] Ibid, hal. 44

[4] Lihat, Mai Nguyen-Phuong-Mai, “Syrian Alawites: Their history, their future”, https://www.theislamicmonthly.com/syrian-alawites-their-history-their-future/#, diakses 12 April 2018

[5] Ibid