Aljazair (2): Masuknya Islam, Kebangkitan Serta Kekalahannya

in Negara Islam

Last updated on February 5th, 2018 03:10 am

Selama berabad-abad Aljazair—atau waktu itu masih bernama Numidia—dikuasai oleh Romawi. Selama pendudukannya, Roma juga mengalami pasang surut, hingga Roma berhasil mengukuhkan kekuasaannya kembali pada abad ke-6 di bawah kepemimpinan Justinian, kaisar timur Romawi pada waktu itu. Justinian mempunyai mimpi besar membangkitkan kembali kejayaan Romawi yang sebelumnya sempat menurun. Namun sayangnya, mimpi Justinian justru berumur pendek.

Pada abad ke-7 orang-orang Arab menyerang Afrika Utara, membawa serta sebuah agama baru, yaitu Islam. Di Aljazair mereka dilawan Kusayla dan Kahina, pemimpin spiritual suku Berber, beberapa ilmuwan meyakini bahwa keyakinan mereka telah terkonversi menjadi Yudaisme. Namun akhirnya, orang-orang Berber tunduk pada Islam dan otoritas Arab, dan Aljazair menjadi salah satu provinsi di bawah kekhalifahan Umayyah. Orang-orang Arab, setelah kemenangan tersebut, banyak yang menetap di Aljazair, pada waktu itu mereka menjadi golongan elit di Aljazair.

Lukisan Kusayla. (By Nourmed – Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=47291235)

Pada abad ke-8, Abbasiyah merebut kekhalifahan dari Umayyah. Dalam situasi peralihan seperti ini, suku Berber Aljazair mengambil kesempatan, banyak di antaranya anggota sekte Islam Khawarij, mereka mendirikan kerajaan Islam otonom mereka sendiri. Salah satu yang paling menonjol adalah Rustamids dari Tahert, Aljazair tengah. Tahert mengalami kemakmuran pada abad ke-8 dan ke-9. Pada awal abad ke-10, Tahert ditaklukkan oleh orang-orang dinasti Fatimiyah, yang menganut aliran Islam Syiah.

Kemudian, dari abad ke-11 sampai ke-13 dua dinasti Berber berkuasa berturut-turut, yaitu Almoravid dan Almohads, mereka membawa Afrika barat laut dan selatan Spanyol di bawah satu otoritas pusat. Kota Tlemcen menjadi pusat peradabannya, masjid dan sekolah Islam yang bagus didirikan di sana, dan Tlemcen juga menjadi pusat kesenian kerajinan tangan. Pelabuhan Aljazair seperti Bejaïa, Annaba, dan kota Aljir yang sedang berkembang pada waktu itu melakukan perdagangan yang besar dengan kota-kota di Eropa, memasok kuda Barbary yang terkenal, lilin, kulit hewan berkualitas, dan kain-kain ke pasar Eropa.

Kasbah Aljir, peninggalan dinasti Ottoman di Aljazair. Keberadaannya dilindungi oleh UNESCO World Heritage Site. Photo karya Michel Dor. (Source: http://www.pbase.com/image/90145657)

Dinasti Almohad runtuh pada tahun 1269 dan digantikan oleh dinasti Abd al-Wadid (atau Zayyanid). Berpusat di Tlemcen, dinasti Zayyanid berkuasa selama 300 tahun. Periode tersebut ditandai dengan persaingan dagang yang sengit di antara pelabuhan-pelabuhan di Mediterania, baik itu orang-orang Kristen maupun orang-orang Muslim. Untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, pemerintah kota mulai menyewa corsair—perompak yang mengambil alih kapal dagang secara paksa dan menyandera kru dan kargonya untuk mendapatkan uang tebusan. Aljir menjadi pusat utama aktivitas corsair.

Lukisan pertempuran Corsair melawan armada Prancis. (Source: http://www.thewayofthepirates.com/picture/picture-of-french-ship-under-attack-by-barbary-pirates/)

Pada abad ke-16 orang-orang Spanyol Kristen menduduki berbagai pelabuhan di Afrika Utara. Aljir diblokade dan dipaksa membayar upeti. Muslim yang putus asa meminta bantuan dari Sultan Ottoman, khalifah umat Islam pada saat itu. Dua bersaudara corsair, kakak beradik Barbarossa (yang berarti “Janggut Merah”), membujuk Sultan untuk mengirim bantuan berupa armada perang ke Afrika Utara. Kemudian dengan bantuan armada Ottoman mereka mengusir orang-orang Spanyol dari sebagian besar wilayah baru mereka, dan pada tahun 1518 Barbarossa muda (si adik), yang bernama Khairuddin, ditunjuk sebagai beylerbey (bahasa Turki, artinya “pemimpin”/admiral), dan menjadi perwakilan Sultan di Aljazair.

Lukisan Barbarossa bersaudara karya Dutch School di abad ke-17. (Source: https://www.art-prints-on-demand.com/a/dutch-school/thebarbarossabrothers.html)

Karena jaraknya yang begitu jauh dari ibukota Ottoman, yakni Konstantinopel (sekarang İstanbul), Aljir sebagai salah satu provinsi Ottoman diperintah secara otonom. Secara eksternal, kelihaian corsair mengemudikan kapal di laut tengah menjadikan Aljazair sebagai kekuatan besar di wilayah tersebut, para perompak corsair telah mendominasi laut tengah! Negara-negara Eropa memberi upeti secara teratur untuk memastikan perlindungan bagi kapal mereka. Operasi “pembajakan” juga tetap berlangsung, dan uang tebusan untuk sandera membawa pendapatan yang besar bagi provinsi tersebut. Untuk keamanan internal, Aljazair dikelola oleh tentara Ottoman yang bernama yeniçeri,  (bahasa Turki, artinya “pasukan khusus baru”).

Pasukan Prancis di Aljazair. (Source: http://www.worldaffairsjournal.org/article/politics-apology-hollande-and-algeria)

Pada akhir abad ke-18, saat Kekaisaran Ottoman melemah, orang-orang Kristen Eropa justru menguat. Dengan senjata api dan konstruksi kapal yang modern, Eropa mampu menantang dominasi corsair di Laut Tengah. Perjanjian internasional untuk melarang pembajakan membuat tindakan kolektif melawan Aljazair menjadi memungkinkan. Pada tahun 1815 Amerika Serikat mengirim skuadron angkatan laut melawan kota tersebut. Tahun berikutnya sebuah armada Anglo-Belanda hampir menghancurkan pertahanan Aljazair, dan pada tahun 1830, akhirnya Aljir ditundukan oleh tentara Prancis. Semenjak akhir abad ke-19 sampai dengan kemerdekaannya pada tahun 1962 Aljazair ada di bawah pendudukan Prancis. Selama di bawah pendudukan Prancis, orang-orang Aljazair berkali-kali mengalami penganiayaan berat: pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, dan pembersihan etnis.[1](PH)

Selesai….

Sebelumnya:

Aljazair (1): Pengantar

Catatan: Artikel ini sebagian besar diadaptasi dan diterjemahkan secara bebas dari artikel: “Algeria.” Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.

[1] Camille Pecastaing, “The Politics of Apology: Hollande and Algeria”, dari laman http://www.worldaffairsjournal.org/article/politics-apology-hollande-and-algeria, world affairs journal, April 2013, diakses 26 September 2017.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*