Arya Damar dan Era Penyebaran Islam di Nusantara (6)

in Islam Nusantara

Abad 14-15 masehi adalah periode emas penyebaran Islam di Nusantara. Sejumlah peristiwa yang terjadi dalam periode ini, tercatat dalam naskah sejarah Nusantara, Cina, Arab dan Eropa. Dalam catatn-catatan tersebut, nama Arya Damar adalah salah satu yang paling banyak muncul. Sedemikian rupa sehingga, nyaris tidak mungkin menceritakan narasi pada periode tersebut, tanpa memasukkan nama Arya Damar di dalamnya.

 

 

Gambar ilustrasi. Sumber: iphincow.com

 

Sebagaimana sudah dibahas dalam edisi-edisi sebelumnya, umumnya sejarawan menilai, bahwa abad ke 14-15 masehi adalah era keemasan penyebaran Islam di Nusantara. Fakta ini bisa dibuktikan secara ilmiah. Berdasarkan naskah-naskah Nusantara, Cina, Arab, bahkan para penjelajah Eropa, dikisahkan adanya sejumlah tokoh beragama Islam yang berperan penting dalam proses penyebaran Islam pada periode tersebut. Sebagian informasi dalam naskah-naskah tersebut sesuai dengan bukti-bukti arkeologis yang barasal dari abad 14-15 masehi di sejumlah tempat di Nusantara.

Hanya saja, diskursus sejarah memang tidak tumbuh di ruang kosong. Kian hari, kesimpulan-kesimpulan baru pun bemunculan. Sejumlah premis yang sudah disebut sebelumnya, sudah banyak direvisi dan sebagiannya sudah ada yang mulai diragukan. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah kesimpangsiuran informasi antara satu naskah dengan naskah lainnya. Sebagaimana sudah kita paparkan sebelumnya, informasi tentang sosok Arya Damar dalam naskah Cina dengan Nusantara,  berbeda – bahkan saling menafikan – satu sama lain. Padahal sosok ini adalah salah satu nama yang penting pada era transisi antara masa keruntuhan Majapahit hingga perkembangan Islam.

Di Majapahit, sosok Arya Damar adalah seorang pangeran keturunan Raja. Jasanya sangat besar dalam memadamkan pemberontakan dan menjaga integritas wilayah kekausaan Majapahit. Namanya tercatat dalam kisah-kisah besar yang berlangsung di masa-masa kemunduran imperium terbesar di Nusantara tersebut. Sedemikian rupa sehingga, nyaris tidak mungkin menceritakan narasi pada periode tersebut, tanpa memasukkan nama Arya Damar di dalamnya.

Menariknya, sosok Arya Damar tidak hanya penting dalam narasi sejarah Majapahit, tapi juga dalam narasi sejarah di sejumlah wilayah nusantara lainnya. Sebagaimana yang ungkap olah Agus Sunyoto dalam karyanya “Atlas Walisongo”, disebutkan:

“Di dalam Babad Ratu Tabanan ditegaskan bahwa sosok Bhatara Arya Damar putra Sri Maharaja Brawijaya Raja Majapahit, yang menjadi penguasa Palembang adalah leluhur Raja-raja Tabanan lewat keturunannya yang bernama Arya Yasan. Sebagai penanda bahwa leluhur Raja-raja Tabanan adalah keturunan Arya Damar, nama gelar yang digunakan adalah ‘Kyai’, seperti Kyai Nengah, Kyai Nyoman, Kyai Ketut, Kyai Dangin, Kyai Arya, Kyai Agung, dan Kyai Gede sebagaimana gelar yang digunakan keturunan Arya Damar di Palembang, Jawa dan Madura. Dalam silsilah Raja-raja Madura, tokoh Arya Damar ditempatkan sebagai leluhur yang menurunkan Arya menak Sunaya, kakek dari tokoh Kyai Demang Pelakaran, Kyai Adipati Pramono, Kyai Pratali, Kyai Pratolo, Kyai Pangakan, dan Kyai Pragalbo yaitu leluhur Raja-raja Madura: Cakraningrat dan Ario Adikoro. Sementara itu, dalam Tedhak Poespanegara, tokoh Arya Damar dianggap sebagai leluhur bupati-bupati di Jawa lewat keturunan putranya yang bernama Raden Kusen Adipati Terung. Seperti keturunan Arya Damar di Bali dan Madura, keturunan Raden Kusen menggunakan gelar ‘kyai’ seperti Bupati-bupati Gresik, Lamongan, Pasuruan, dan Bangil: Kyai Tumenggung Pusponegoro, Kyai Tumenggung Joyonegoro, Kyai Tumenggung Puspodirono, Kyai Tumenggung Puspodirjo, Kyai Tumenggung Mangunadirjo, dan Kyai Ngabehi Yudhonegoro.”[1]

Di sisi lain, dalam kisah penyebaran Islam di Nusantara, nama Arya Damar juga tidak kalah mentereng. Dialah sosok ayah dan sekaligus guru pertama Raden Patah, pendiri dan sekaligus raja pertama Kesultanan Demak dan raja Islam paling masyhur di Pulau Jawa. Nyaris tidak mungkin bagi sejarawan manapun menafikan peran penting Raden Patah dan Kerajaan Demak yang dipimpinnya dalam pengembangan ajaran Islam di Nusantara.

Di samping itu, Arya Damar yang ketika itu menjabat sebagai penguasa Palembang, juga dikenal sebagai tokoh yang pertama-tama dikunjungi oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel setibanya dari negeri Cina, sebelum akhirnya melanjutkan pejalanan ke Majapahit. Meski banyak juga kesimpang-siuran informasi tentang hubungan sebenarnya antara Sunan Ampel dengan Arya Damar, namun tidak ada yang bisa memungkiri bahwa hubungan antara dua tokoh ini memang sangat dekat.

Menurut Prof. Dr. Slamet Muljana, yang mengacu pada naskah dari kronik Tionghoa dari Klenteng Sam Po Kong, hubungan antara Sunan Ampel (Bong Swi Hoo) dengan Arya Damar (Swan Liong) adalah hubungan kerja antara bawahan dengan anak buahnya. Berdasarkan kronik Tionghoa tersebut, pada tahun 1443, Swan Liong dipindah-tugaskan ke Palembang untuk menjadi ‘Kapten Cina’ di sana. Kapten Cina sendiri, adalah sebutan untuk pemimpin masyarakat Cina di suatu wilayah. Dengan demikian, menurut Prof. Dr. Slamet Muljana, selain bertindak sebagai utusan Majapahit untuk menjadi penguasa Palembang, pada saat bersamaan, Arya Damar juga bertindak sebagai pemimpin masyarakat Cina di wilayah tersebut.[2]

Pada tahun 1419, Laksamana Sam Po Bo (Cheng Ho) menempatkan Bong Tak Keng di Campa untuk mengepalai masyarakat Tiongkok Islam di Campa. Dia mempunyai seorang cucu bernama Bong Swi Hoo yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel. Pada tahun 1445, Bong Swi Hoo dikirim kakeknya ke Palembang untuk membantu pekerjaan Swan Liong. Dalam waktu singkat, kapten Cina Swan Liong menaruh kepercayaan besar kepada Bong Swi Hoo, dan mengutusnya ke Jawa untuk menghadap kapten Cina di Tuban, yang bernama Gan Eng Cu.[3]

Dari kisah di atas kita bisa mengasumsikan bahwa hubungan antara Sunan Ampel dengan Arya Damar adalah seperti atasan dengan bawahan. Hanya yang tidak terlalu jauh dijelaskan adalah tentang keislaman Swan Liong dan Bong Swi Hoo. Sebagaimana Prof. Dr. Slamet Muljana tidak terlalu menjelaskan tentang sejarah keislaman dan ilmuan Bing Swi Hoo (Sunan Ampel) dan tokoh-tokoh Islam Tionghoa di Nusantara lainnya, maka bisa diasumsikan ketika menjabat sebagai Kapten Tionghoa di Palembang, Swan Liong (Arya Damar) sudah memeluk agama Islam. (AL)

Bersambung…

Arya Damar dan Era Penyebaran Islam di Nusantara (7)

Sebelumnya:

Arya Damar dan Era Penyebaran Islam di Nusantara (5)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Agus Sunyoto, “Atlas Wali Songo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah”, Tanggerang Selatan, IIMaN, 2018, hal.97-98

[2] Prof. Dr. Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta, LkiS, 2013, hal. 88

[3] Ibid, hal. 96

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*