Arya Damar dan Era Penyebaran Islam di Nusantara (8)

in Islam Nusantara

Salah satu kunci keberhasilan Arya Damar dalam menyebarkan ajaran agama Islam, karena dia berhasil karena tokoh yang sejak kecil dididik dalam ajaran Syiwa-Buddha aliran Bhirawa-Tantra itu sangat memahami jiwa dan sudut pandang penduduk yang beragama Budha, sehingga dengan sukarela mereka mengikuti ajakan Arya Damar untuk memeluk Islam.

 

Gambar ilustrasi. Sumber: travel.tribunnews.com

 

Sebagaimana sudah diulas pada edisi sebelumnya, terkait kiprah Arya Damar di Palembang tidak banyak bukti otentik yang bisa dijadikan rujukan untuk menjelaskannya. Tapi berdasarkan kisah tuturan masyarakat, dan dihubungkan dengan naskah dari kronik nusantara lainnya, kuat dugaan, bahwa Arya Damar lah sosok penting – meski bukan satu-satunya – yang berhasil mengubah struktur dasar kebudayaan Palembang dari sebelumnya sebagai pusat perkembangan agama Budha, menjadi salah satu Kesultanan Islam paling masyhur di Sumatera.

Pada abad-abad sebelum 15 M, pulau Sumatera, khususnya yang berada di bawah pengaruh Sriwijaya dan Majapahit, lebih dikenal sebagai pusat penyebaran agama Budha. Sedangkan setelah abad ke 15 M, wilayah pesisir timur Sumatera umumnya sudah di dominasi oleh kaum Muslimin. Hal ini dijelaskan oleh dijelaskan oleh Tome Pires, seorang ahli obat-obatan asal Portugal yang menghabiskan waktunya di Malaka dari tahun 1512 hingga 1515, segera setelah negeri itu ditaklukkan oleh Portugis pada 1512.

Dalam karyanya yang terkenal berjudul Summa Oriental, Tome Pires menuturkan, pada waktu itu (sekitar awal abad 16) sebagian besar raja-raja Sumatera beragama Islam. Tetapi masih ada negeri-negeri yang belum menganut Islam. Mulai dari Aceh di sebelah utara terus menyusur daerah pesisir timur hingga Palembang, para penguasanya beragama Islam. Sedang di sebelah selatan Palembang dan di sekitar ujung selatan Sumatera hingga pesisir barat, sebagain besar penguasanya tidak beragama Islam.[1]

 

Ilustrasi skema kekuatan di Pulau Sumatera pada akhir abad ke-15 M. Sumber gambar: www.youtube.com

 

Merujuk pada periode kehidupan Arya Damar, yang menurut naskah Nusantara maupun Cina, berkisar di pertengahan hingga akhir abad ke-15 M, sangat mungkin menjadikannya sebagai salah satu pelopor penyebaran Islam di Pulau Sumatera, khususnya wilayah Palembang dan sekitarnya. Hal ini diperkuat dengan infomasi sejarah yang menyatakan bahwa Arya Damar adalah seorang Muslim sekaligus sebagai penguasa Palembang pada pariode akhir abad ke 15 M.

Terkait dengan kiprah Arya Damar di tanah Palembang, menurut historiografi lokal di Palembang, sosok Arya Damar dihubungkan dengan kedatangan sebuah armada asal jawa yang dipimpin oleh Kholik Hamirullah di Sekapung Danau Pedamaran.

Sebagaimana dikisahkan oleh Agus Sunyoto, dalam karyanya Atlat Wali Songo ”Kholik Hamirullah kemudian diambil menantu oleh Rio Minak Usang Sekapung dan diberi nama Rio Damar. Rio Minak Usang Sekapung sejatinya adalah orang Arab bernama Syarif Husein Hidayatullah yang menjadi kepala di Pulau Sekapung. Di Sekapung, dia mengajarkan Islam kepada masyarakat di sekitar danau dan lebak yang penduduknya menganut ajaran Budha. Karena penduduk tidak bersedia mengikuti ajakan masuk Islam dari Syarif Husein Hidayatullah, mereka beramai-ramai menyingkir ke Lebak Teluk Rasau, Lebak Air Hitam, Lebak Segaluh, bahkan ke Tanah Talang Lindung Bunyian. Memalui gerakan dakwah yang dilakukan oleh Rio Damar, para penduduk yang sudah menyingkir itu bersedia memeluk Islam. Atas jasanya itu, wilayah sekitar danau dan lebak dinamakan Pedamaran.”[2]

Dalam karyanya yang lain “Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar”, Agus Sunyoto mengisahkan bahwa kedatangan Arya Damar ke Pedamaran terjadi ketika dia sudah di usia senja dan menyatakan berhenti menjabat sebagai penguasa Palembang. Ketika Arya Dama pensiun dari jabatannya sebagai penguasa Palembang, masyarakat di wilayah tersebut umumnya sudah memeluk agama Islam. Dengan kata lain, Arya Damar sudah berhasil menunaikan misinya di kawasan tersebut. Pedamaran sendiri artinya tempat kediaman Arya Damar. Di tempat ini Arya Damar memperdalam hakikat ruhani, dan akhirnya bertemu dengan salah satu pesuluk paling masyhur di Pulau Jawa, Syaikh Siti Jenar.[3]

Lebih jauh, dalam Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto menyatakan, “Dengan memahami bahwa Palembang selama berabad-abad menjadi pusat kekuasaan Sriwijaya yang pengaruh ajaran Budha nya sudah berurat berakar di masyarakat, sangat wajar bila penduduk pedalaman pun menolak untuk mengikuti ajakan masuk Islam oleh seorang juru dakwah seperti Syarif Husein Hidayatullah. Sedang dakwah yang dilakukan oleh Ario Damar dinilai berhasil karena tokoh yang sejak kecil dididik dalam ajaran Syiwa-Buddha aliran Bhirawa-Tantra itu sangat memahami jiwa dan sudut pandang penduduk yang beragama Budha, sehingga dengan sukarela mereka mengikuti ajakan Arya Damar untuk memeluk Islam.”[4]

Dalam Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto juga menambahkan, “Keberhasilan dakwah Arya Damar diungkapkan pula dalam historiografi sewaktu Palembang dipimpin oleh Ratu Sinuhung Ning Sakti. Untuk membantu sang ratu, Rio Damar didatangkan dan diberi jabatan sebagai patih, yang bergelar Ario Damar atau Ario Dillah. Selama pemerintahan Ratu Sinuhung Ning Sakti yang dibantu Ario Damar, agama Islam berkembang pesat dari Palembang sampai ke Jambi, Bengkulu dan Riau Daratan.”[5]

Sebagai catatan, Ratu Sinuhun adalah pembuat kitab Simbur Cahaya, yang merupakan kitab undang-undang hukum adat. Kitab ini merupakan perpaduan hukum adat yang berkembang secara lisan di pedalaman Sumatera Selatan dengan ajaran Islam. Kitab undang-undang yang banyak diberlakukan bagi masyarakat pedalaman itu, terdiri atas 5 bab, yang membentuk pranata hukum dan kelembagaan adat di Sumatra Selatan, khususnya terkait persamaan gender perempuan dan laki-laki.[6]

Akan tetapi, terkait adanya kisah Arya Damar yang membantu Ratu Sinuhung Ning Sakti, agaknya sulit diterima. Mengingat, Ratu Sinuhung Ning Sakti yang makamnya dipercaya terletak di di pemakaman Sabongkingking, 2 Ilir, Palembang, diperkirakan lahir di Palembang pada sekitar akhir abad ke-16, dan wafat pada tahun 1642M.[7] Masa kehidupannya terpaut lebih dari 100 tahun dari Arya Damar yang hidup pada abad 15. (AL)

Bersambung…

Arya Damar dan Era Penyebaran Islam di Nusantara (9)

Sebelumnya:

Arya Damar dan Era Penyebaran Islam di Nusantara (7)

Catatan kaki:

[1] Lihat, M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarya, Gadjah Mada University Press, 2005, hal. 9

[2] Lihat, Agus Sunyoto, “Atlas Wali Songo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah”, Tanggerang Selatan, IIMaN, 2018, hal. 99

[3] Lihat, Agus Sunyoto, “Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar”, Yogyakarya, LkiS, 2011, hal. 117-123

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Lihat, Wajah Ratu Sinuhun, Ratu Kerajaan Palembang Berhasil Dilukis, Begini Sosoknya, http://sumsel.tribunnews.com/2018/04/15/wajah-ratu-sinuhun-ratu-kerajaan-palembang-berhasil-dilukis-begini-sosoknya?page=3, diakses 7 Januari 2018

[7] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*