Assassin (2): Asal Usul dan Legenda

in Sejarah

Awal mula kemunculan sekte Hashashin mirip dengan kisah kemunculan berbagai sekte dalam Islam, yaitu karena masalah politik. Hashashin merupakan sekte pecahan dari Mahzab Syi’ah Isma’iliyah. Pada masa penunjukkan Imam Syiah yang ketujuh, oleh Imam Ja’far As Shadiq (Imam Keenam Kaum Syiah). Pilihan Imam Ja’far jatuh kepada Imam Musa Al Kazhim, yang ditaati oleh sebagian besar pengikut Syiah. Namun ada sebagian kelompok yang menyatakan ketidaksetujuannya.  Mereka lebih menginginkan Ismail, saudara Musa Al Kazhim yang menjadi Imam kaum Syiah. Para pendukung Ismail ini kemudian dikenal sebagai kaum Syiah Ismailiyah.

Syiah Ismailiyah lebih memilih jalan perlawanan terhadap dinasti Abbasiyah, dan mendirikan dinasti Fatimiyah pada tahun 909 M. Pada tahun 969 M mereka berhasil menaklukkan Mesir dan mendirikan kota Kairo serta menjadikannya sebagai ibu kota dinasti Fatimiyah. Ditempat ini, mereka berhasil mendirikan satu peradaban Islam yang disegani. Bahkan Universitas Kairo merupakan salah satu tujuan favorit pada pencari ilmu masa itu.

Namun saat memasuki masa perang Salib, pamor mereka kalah dibandingkan dengan kaum Suni. Setelah Salahuddin Al Ayubi berhasil merebut Yerusalem dari Tentara Salib, dan berhasil membunuh pemimpin terakhir Khilafah Fatimiyah dan membangun Dinasti Ayubiyah, sebagian dari sisa pengikut dinasti Fatimiyah ada yang selamat dan lari ke wilayah Barat di Persia. Mereka kemudian mendirikan komunitas tersendiri yang dikenal dengan sekte Hashashin.

Di tempat ini mereka berhasil menguasai benteng yang begitu sempurna untuk dijadikan sebagai tempat persembunyian. Konon, sejak didirikan, benteng ini belum pernah sekalipun ditaklukan. Dalam bahasa Parsi kuno, benteng tersebut dikenal dengan nama bentang Alamut yang artinya adalah sarang elang. Tapi nama ini memang tidak berlebihan, mengingat dari puncak benteng ini, pada ketinggian 6.980 kaki di atas permukaan laut, cakrawala membentang begitu luas. Hal ini membuat mereka mampu mengantisipasi ancaman lebih dini, untuk kemudian menangkalnya.

Pemandangan dari atas Benteng Alamut. Sumber Gambar: iranlandmark.ir

Pemimpin dan sekaligus pendiri sekte ini adalah Hasan Ibn Muhammad Sabbah Himyari, atau lebih dikenal dengan nama Hasan Sabbah. Namanya begitu ditakuti dan dibenci pada abad pertengahan masehi oleh masyarakat Barat maupun Islam. Namun bagi pengikutnya, ia dipanggil dengan sebutan “Sayyidina” (Tuan Kami). Pengikutnya biasa disebut sebagai Isma’iliyah Timur (untuk membedakannya dengan Ismailiyah Barat yaitu dinasti Fatimiyah, yang juga mereka musuhi).

Ilustrasi gambar Hasan Sabbah, pemimpin sekte Hashashin, dijuluki “orang tua dari gunung”. Sumber gambar: Republika.co.id

Hasan merupakan putera seorang ulama Syiah dan tinggal di kota Khoi, Persia. Sebagaimana terlihat dari namanya, ia merupakan keturunan Arab. Ia mempelajari segala ilmu pengetahuan yang ada pada zamannya secara mendalam. Diceritakan bahwa ia pernah menjadi teman Nizam Al Mulk dan juga menjadi teman dari Umar Khayam, penyanyi mistis yang masyur itu.[1]

Tidak banyak informasi detail soal sekte yang didirikannya sekitar tahun 1090 M ini. Sumber informasi yang ada justru didapat dari pihak luar, yang secara umum tidak lain musuh mereka. Sedang dari sekte Hashashin sendiri, nyaris tidak ada informasi yang bisa diambil, mengingat semua tulisan, artefak, ataupun kesaksian dari mereka hilang tak bersisa setelah Hulagu Khan dan pasukannya melenyapkan sekte ini berikut semua perpustakaan, dan anggota di dalamnya. Bahkan nama Hashashin sendiri, bukanlah mereka yang menyebutkan. Melainkan nama yang diberi dan dikenal orang-orang pada masa itu, sebagaimana Hasan Sabbah yang hanya dikenal dengan nama “orang tua dari gunung”.

Sylverstre de Sacy berpendapat bahwa nama Hashashin diambil dari nama hashish (dalam Bahasa India disebut bhang), yang menunjukkan kebiasaan mereka menghisap candu.[2] Informasi yang mirip dengan laporan Sacy adalah laporan Marco Polo, seorang penjelajah asal Venesia, yang mengaku pernah tinggal sebagai tamu di istana Sabbah. Menurutnya, tradisi menghisap candu ini digunakan dalam upacara perekrutan calon anggota baru.  Mereka akan dibuai oleh kenikmatan semu, dan dijanjikan akan kenikmatan yang lebih besar di akhirat, bila bersedia mengabdikan hidupnya pada misi sekte ini. Setelah menyatakan bai’at atau janji setia pada pemimpin, para calon pembunuh ini dididik dengan metode khusus. Mereka diajarkan banyak bahasa, serta adat kebiasaan yang dianut berbagai kebudayaan. Soal metode pembunuhan, mereka dididik untuk mengenal racun, teknik menggunakan banyak senjata, serta nilai kesetiaan pada misi dan pimpinan.[3]

Namun menurut penulis Lebanon Amin Maalouf, berdasarkan teks dari Alamut, asal kata Assassin sebenarnya merujuk pada ungkapan Hassan Sabbah yang cenderung memanggil murid-muridnya Asāsīyūn, yang berarti “orang-orang yang setia kepada fundamental keimananan”. Munculnya istilah hashish adalah kesalahpahaman wisatawan asing (Marcopolo) dalam memahami maksud aslinya.[4]  Secara politik, kata hashish (penghisap candu) memang dipilih oleh masyarat yang membenci sekte ini. Dan benar saja, konotasi buruk ini sangat efektif dalam mereduksi tujuan aksi dan propaganda mereka.

Pada aspek keorganisasian, mereka mengenal adanya Pemimpin Besar yang tidak lain adalah Hasan Sabbah sendiri. Jenjang dibawahnya secara berturut-turut adalah, Guru Besar yang bertugas melakukan propaganda besar, Rafik (sahabat) yang tugasnya melakukan propaganda normal, dan Lasiq (pengikut). Lasiq adalah anggota, yang setelah dilatih akan mengemban amanat sebagai eksekutor lapangan yang berjulukan “Fidai”.[5] Menurut Syed Ameer Ali, di kemudian hari hirarki Hashashin ini diadopsi oleh salah satu sekte Kristen yang terkenal dengan Templar.[6]

Setelah 35 tahun memimpin sekte Hashashin, Hasan Sabbah meninggal dunia sekitar tahun 1124 M, di dalam Istana Alamut. Meski sudah ditinggalkan oleh pendirinya, namun sekte ini masih sangat aktif dan semakin berhasil melancarkan aksi-aksinya. Berikut ini adalah nama-nama pemimpin sekte Hashishin yang tercatat:[7]

  1. Ḥasan Ṣabbāḥ (1124)—1st Lord of Alamut (1094—1124)
  2. Kiā Bozorg-Omid (1138)—2nd Lord of Alamut (1124—1138)
  3. Muḥammad (1162)—3rd Lord of Alamut (1138—1162)
  4. Ḥasan II “ʿalā ḏekrehe’l-salām” (1166)—4th Lord of Alamut (1162—1166)
  5. Nur-al-Din Muḥammad (1210)—5th Lord of Alamut (1166—1210)
  6. Jalāl-al-Din Ḥasan (1221)—6th Lord of Alamut (1210—1221)
  7. ʿAlāʾ-al-Din Muḥammad (1255)—7th Lord of Alamut (1221—1255)

Uniknya, sepak terjang sekte ini justru lebih banyak mempengaruhi dunia barat, yang tidak lain adalah korban dari sekte ini. Menurut Syed Amerr Ali, “dari sekte Hashashin, Tentara Salib meminjam gagasan yang kemudian mendorong dibentuknya perkumpulan-perkumpulan rahasia, baik yang bersifat religius atau sekuler, di Benua Eropa. Lembaga kaum Templar atau Hospitaller. Juga Serikat Jesuit yang didirikan Ignatius Layola. Ordo ini beranggotakan sejumlah besar laki-laki yang memiliki semangat pengabdian dan pengorbanan diri untuk mencapai tujuan mereka. Pengorbanan mereka ini hampir tidak tertandingi di zaman kita ini. Selain itu terdapat Ordo Dominikan yang keras dan Ordo Fransikan yang moderat. Semua Ordo tersebut jika dilacak akan terlihat bahwa mereka mendapat pengaruh dari Kairo atau Alamut. Pengaruh tersebut akan terlihat jelas terutama pada sistem Ksatria Templar. Dalam sistem ini terdapat hirarki guru besar, pemimpin besar, pengikut setia dan tingkat inisiasi yang sangat mirip dengan sistem sekte Hashashin.”[8] (AL)

Selesai.

Sebelumnya:

Assassin

Catatan Kaki:

[1] Lihat, http://materiaislamica.com/index.php/History_of_the_Ismai%27ili_Assassin_Society_(c._1080%E2%80%941275)#cite_note-Curtin2008-27, diakses 8 November 2017

[2] Lihat, Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, Yogyakarta, Navila, 2008, Hal. 386

[3] Lihat, http://materiaislamica.com/index.php/History_of_the_Ismai%27ili_Assassin_Society_(c._1080%E2%80%941275)#cite_note-Curtin2008-27, Op Cit

[4] Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Assassins#cite_ref-Nowell_1947_5-0, 9 November 2017

[5] Ibid

[6] Lihat, Syed Ameer Ali, Op Cit, Hal. 388

[7] Lihat, http://materiaislamica.com/index.php/History_of_the_Ismai%27ili_Assassin_Society_(c._1080%E2%80%941275)#cite_note-Curtin2008-27, Op Cit

[8] Lihat, Syed Ameer Ali, Op Cit, Hal. 389

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*