Beberapa Sosok Penting Tanpa Nama di Dalam Al Quran (3): Orang yang Dimatikan Seratus Tahun Lalu Dihidupkan Kembali (2)

in Studi Islam

Last updated on May 19th, 2018 08:22 am

Terlepas dari perdebatan tentang siapa sesungguhnya hamba Allah SWT yang dikisahkan itu, yang jelas kisah luar biasa yang dialaminya mengandung hikmah yang sangat tinggi bagi manusia. Bahkan sebagaimana yang Allah SWT sebutkan dalam Al Quran surat al-Baqarah: 259, bahwa orang tersebut, adalah salah satu tanda kekuasaan Allah bagi manusia.”

 —Ο—

 

Bila kita perhatikan Al Quran surat al-Baqarah: 259, sungguh luar biasa cara Allah SWT menjawab pertanyaan hambaNya ini dalam ayat tersebut. Hamba tersebut bertanya tentang sebuah negeri, yang keadaan negeri itu, ketika dilaluinya “khawiyatun ‘ala ‘urusyiha”, yakni roboh menutupi atapnya. Ini berarti atap bangunan-bangunan di negeri itu jatuh, lalu dinding-dinding runtuh menimpa dan menutupi atap-atap tersebut. Ini selanjutnya mengisyaratkan bahwa negeri tersebut tidak lagi berpenduduk. Melihat keadaan demikian, orang yang lewat itu bertanya dalam hati, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?

Menurut M. Quraish Shihab, kata “Bagaimana..” yang disampaikan oleh hamba ini, bukan menunjukkan bahwa ia tidak percaya bahwa Allah mampu menghidupkan yang telah mati, tetapi yang dipertanyakan adalah cara Allah menghidupkannya.[1]

Menanggapi pertanyaan ini, Allah SWT tidak langsung menghidupkan kembali negeri tersebut. Tapi justru menunjukkan sesuatu yang lebih substansial, yang lebih rigit, dan sekaligus juga lebih besar dari itu, “Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian membangkitkannya kembali”.

Kita yang hidup pada masa ini, bisa melihat bagaimana mudahnya menghidupkan sebuah negeri. Dengan sains dan teknologi yang dimiliki sekarang, bahwa negara-negara gurun pasir seperti Timur Tengah sekalipun dapat tumbuh berkembang dengan sangat luar biasa hanya dalam beberapa tahun. Dengan kata lain, menghidupkan sebuah negeri adalah pekerjaan yang manusia bisa lakukan sendiri. Tapi bagaimana dengan menghidupkan seorang manusia. Bagaimana membangunnya kembali dari tulang belulang setelah matinya? Sosok yang pada akhirnya akan membangun dan mengisi sebuah negeri.

Oleh sebab itu menurut M. Quraish Shihab, untuk menghidupkan negeri itu kembali, sekaligus untuk membuktikan kekuasaan-Nya menghidupkan yang mati serta menunjukkan caranya, Allah mematikan yang bersangkutan dan menghidupkan bahkan membangkitkannya kembali. Kata “membangkitkan” memberi kesan bahwa ia dikembalikan sebagaimana keadaannya sebelum dimatikan, dalam keadaan sadar, tidak ada perubahan yang terjadi pada dirinya. Kalau dikatakan menghidupkannya, mungkin diduga bahwa keadaannya ketika itu telah berubah, walau dia dalam keadaan hidup.

Menurut M. Quraish Shihab, perumpamaannya mungkin, Allah menidurkan dia seperti yang dialami oleh Ash’hab al-Kahfi. Dimana dia tidak sadar bahwa malam dan siang telah silih berganti selama seratus tahun. Dia tidak keliru, apalagi berbohong, ketika berkata dia tinggal sehari atau kurang, tetapi dalam saat yang sama Allah juga membuktikan bahwa itu bukan sehari, tetapi seratus tahun.

Menurut Ibn Katsir, ketika Allah membangkitkannya sesudah ia mati, maka anggota tubuhnya yang mula-mula dihidupkan oleh Allah adalah kedua matanya. Dengan demikian, maka ia dapat menyaksikan perbuatan Allah, bagaimana Allah menghidupkan kembali dirinya. Setelah seluruh tubuh lelaki itu hidup seperti sediakala, maka Allah berfirman kepadanya melalui malaikat: Berapakah lamanya kamu tinggal? Ia menjawab, “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah memerintahkan kepadanya, “lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah,” dia tidak basi, tidak juga berkurang dari sebelumnya. Lanjut perintah-Nya, “dan lihatlah kepada keledai kamu?‘ dia telah mati bukan beberapa saat yang lalu, tetapi sudah seratus tahun yang lalu, terbukti bahwa ia telah menjadi tulang belulang berserakan.[2]

Kini setelah ia mengalami kematian sendiri, kemudian hidup kembali, Allah SWT melanjutkan kalimatnya dalam Al Quran, “Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia”. Peristiwa ini dilakukan Allah, “agar engkau menjadi bukti bagi manusia,” yakni agar orang yang dimatikan seratus tahun dan dihidupkan lagi itu menjadi bukti kekuasaan Allah bagi manusia, yakni bagi orang-orang yang hidup setelah negeri itu mereka bangun kembali. Bukankah seratus tahun yang lalu negeri itu hancur berantakan tidak berpenghuni, tetapi kini telah berpenghuni? Bukankah para penghuninya melihat sendiri orang yang dihidupkan kembali oleh Allah setelah mengalami kematian seratus tahun yang lalu?[3]

Tapi tida sampai disana. Setelah Allah SWT menyatakan bahwa orang itu akan menjadi tanda kekuasaan Allah SWT bagi manusia, lalu Malaikat berkata kepadanya: “Apakah engkau ingin melihat bagaimana Allah SWT membangkitkan mahluk yang mati? lihatlah ke tanah yang di situ terletak keledaimu.” Kemudian malaikat memanggil tulang-tulang keledai itu lalu atom-atom tanah itu memenuhi panggilan malaikat sehingga ia mulai berkumpul dan bergerak dari setiap arah lalu terbentuklah tulang-tulang. Malaikat memerintahkan otot-otot syaraf daging untuk bersatu sehingga daging melekat pada tulang-tulang keledai. Sementara itu, orang tersebut memperhatikan semua proses itu. Akhirnya, terbentuklah tulang dan tumbuh di atasnya kulit dan rambut. Allah SWT menunjukkan lagi padanya bagaimana Yang Maha Kuasa menghidupkan kembali yang telah mati dengan menghidupkan keledainya, maka firman-Nya: “Kami menyusun kembali tulang belulang itu, kemudian Kami membalutnya dengan daging,” maka bangkitlah keledai itu sebagaimana sebelum kematiannya.

Alhasil, keledai itu kembali seperti semula setelah menjalani kematian. Orang tersebut menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT terjadi di depannya. Ia melihat bagaimana mukjizat Allah SWT yang berupa kebangkitan orang-orang yang mati setelah mereka menjadi tulang belulang dan tanah. Setelah melihat mukjizat yang terjadi di depannya, orang itu berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” (AL)

Bersambung…

Beberapa Sosok Penting Tanpa Nama di Dalam Al Quran (4): Sosok yang Memindahkan Singgasana Ratu Balqis (1)

Sebelumnya:

Beberapa Sosok Penting Tanpa Nama di Dalam Al Quran (3): Orang yang Dimatikan Seratus Tahun Lalu Dihidupkan Kembali (1)

Catatan kaki:

[1] Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, Volume I, Jakarta, Lentera Hati, 2005, Hal.560

[2] Lihat, http://www.ibnukatsironline.com/2015/04/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-259.html, diakses 16 Mei 2018

[3] Lihat, M. Quraish Shihab, Op Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*