Beberapa Sosok Penting Tanpa Nama di Dalam Al Quran (5): Zulkarnain (3)

in Studi Islam

Last updated on April 20th, 2019 12:23 pm

Al Quran Surat Al-Kahfi: 92-94 ini, menjadi salah satu fokus banyak ilmuwan dan ulama dalam menyibak misteri gelap tentang identitas  Dzū al-Qarnayn. Karena dalam kedua ayat ini, tiba-tiba beberapa penanda bermunculan. Dimana tanda-tanda tersebut, bila berhasil dikonstruksi akan berpotensi menjawab berbagai misteri yang tersimpan pada ayat-ayat lainnya.

—Ο—

 

Misteri yang menyelimuti kisah pertualangan Dzū al-Qarnayn belum berakhir. Pada ayat selanjutnya dalam Al Quran Surat Al-Kahfi: 92-94, Allah SWT berfirman:

Kemudian dia mengikuti jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai diantara dua gunung, dia mendapati suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: “Hai Dzū al-Qarnayn, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat penutup/penghalang antara kami dan mereka?

Terkait dengan kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan, terdapat setidaknya dua pendapat, yaitu karena bahasa mereka demikian asing, dan dikarenakan akal mereka demikian lemah, sehingga untuk menjelaskan keadaan mereka, harus menggunakan bahasa isyarat atau sarana lain. Kompleksitas bahasa ini semakin mempersulit ketika kaum tersebut mengeluarkan dua nama yaitu “Ya’juj dan Ma’juj”. Dua kata ini diperselisihkan para ulama, bukan saja tentang siapa mereka, tetapi juga tentang pengertian kebahasaannya.[1]

Dua nama ini tampaknya tidak memiliki akar yang bisa dilacak secara pasti dalam bahasa Arab, sehingga sebagian ulama menggapnya sebagai nama asli dua sosok, kelompok, ataupun suku yang dimaksud oleh kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraannya tersebut. Quraish Shihab menilai nama itu adalah terjemahan bahasa Arab dari satu kata yang digunakan oleh suku penyerang itu.[2]

Salah satu ulama yang juga menyetujui pendapat ini adalah Allamah Thabathaba’i. Menurutnya, kata tersebut asli dari bahasa Cina yang berubah pengucapannya dalam bahasa Arab. Thabathaba’i menulis bahwa dalam bahasa Cina kata tersebut adalah Munkuk atau Muncuk. Mereka adalah keturunan putra Adam, yakni Yafist, leluhur orang Turki. Demikian satu pendapat. Ada juga yang berpendapat mereka adalah orang-orang Mongol.[3]

Selain pada surat Al Kahfi ayat 94, istilah “Ya’juj dan Ma’juj” juga disebutkan oleh Al Quran Surat Al-Anbiya: 96
Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.”

Tapi dari kedua ayat tersebut (Al Kahfi: 94 dan Al-Anbiya: 96), tidak ditemukan petunjuk pasti yang mengarah pada identitas “Ya’juj dan Ma’juj”. Lebih lanjut menurut Quraish Shihab, sementara pakar berpendapat —antara lain al-Biqa‘i — bahwa dua gunung yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah gunung Azerbaijan dan Armenia. Ini agaknya karena mereka berpendapat bahwa Dzū al-Qarnayn adalah Alexander yang dari Macedonia itu. Tetapi bagi Ibn ‘Asyur yang menolak pendapat ini dan menilai bahwa Dzū al-Qarnayn adalah Qin Syi Huang penguasa dari Cina, berpendapat bahwa kedua gunung itu terletak di satu wilayah yang membatasi Cina dan Mongolia, yakni di sebelah utara Cina dan selatan Mongolia. Konon bekas-bekasnya masih dapat terlihat.[4]

Al Quran Surat Al-Kahfi: 92-94 ini, menjadi salah satu fokus banyak ilmuwan dan ulama dalam menyibak misteri gelap tentang identitas  Dzū al-Qarnayn. Karena dalam kedua ayat ini, tiba-tiba beberapa penanda bermunculan. Dimana tanda-tanda tersebut, bila berhasil dikonstruksi akan berpotensi menjawab berbagai misteri yang tersimpan pada ayat-ayat lainnya.

Dari dua ayat ini dan seterusnya, para mufasir banyak menduga bahwa sosok yang dimaksud dengan Dzū al-Qarnayn adalah Qin Syi Huang. Karena dari sekian banyak kisah para raja-raja agung di masa lalu, hanya dia yang terekam pernah membangun sebuah tembok yang sangat kuat, melintasi gunung-gunung dan menutupi hampir seluruh wilayah utara China. Dan tujuan dibangunnya tembok ini memang untuk menghalangi gangguan bangsa Mongol yang terkenal senang merusak.

Bila menilik sejarah, selama ribuan tahun lalu, nama Mongol identik dengan konotasi kehancuran. Mereka adalah etnis yang menghuni wilayah Asia Utara dan Tengah. Mereka hidup dengan cara nomaden dan menggembala. Gaya hidup nomaden ini membuat mereka sulit di lacak, dan menjadi ancaman yang membahayakan bagi setiap tatanan masyarakat yang hidup menetap di sekitar kawasan Asia Tengah dan Timur.

Menurut Eamon Gearon, berbeda dengan kebanyakan bangsa-bangsa penakluk lainnya, Bangsa Mongol menaklukan sebuah wilayah hanya untuk memenuhi tuntutan hidup mereka, dan mencari lahan untuk memperluas gembalaannya. Dalam merebut sebuah kota, Mongol tidak tertarik dengan kota tersebut, mereka hanya ingin menundukkannya, menguras sumber daya yang ada di dalamnya, yang digunakan untuk memudahkan daya jangkau mobilitas mereka. Tembok besar China yang mengular sejauh ribuan kilometer itu, tidak lain dari upaya bangsa China untuk membatasi ruang gerak mereka.[5]

Oleh sebab itu, Thahir Ibn ‘Asyur berpendapat bahwa Dzū al-Qarnayn adalah salah seorang penguasa dari Cina. Ada lima alasan yang dikemukakannya. Pertama, penduduk Cina sejak dahulu terkenal sangat mahir dalam berproduksi dan siasat. Kedua, kebanyakan raja-raja mereka dikenal adil dan bijaksana dalam memerintah. Ketiga, salah satu ciri mereka adalah memanjangkan rambut dan mengikatnya menjadi dua ikatan. Keempat, di wilayah antara Cina dan Mongolia terdapat tembok yang sangat besar lagi tiada bandingannya yang dikenal dengan nama The Great Wall (Tembok Agung). Kelima, riwayat melalui Umm Habibah, dari Zainab binti Jahsy bahwa pada suatu malam Nabi saw. keluar rumah lalu bersabda, “Sungguh celaka orang Arab, akibat suatu bencana yang telah dekat datangnya. Hari ini terbuka tembok/dinding Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini (sambil meletakkan ujung jari telunjuk beliau ke ujung ibu jari beliau)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hanya saja, menurut, Quraish Shibab, Qin Syi Huang memang tercatat sebagai pelopor didirikannya tembok besar China, namun ia tidak menyelesaikannya. Karena tembok besar China dibangun selama jangka waktu yang panjang. Padahal dalam Al Quran disebutkan bahwa tembok itu dibangun dalam masa kehidupan Dzū al-Qarnayn, dan selesai pada masa kehidupannya juga.[6] Lagi pula, dalam ayat tersebut juga disampaikan bahwa Dzū al-Qarnayn adalah orang asing, mengingat ia tidak mengerti pembicaraan kaum tersebut. (AL)

Bersambung…

Beberapa Sosok Penting Tanpa Nama di Dalam Al Quran (5): Dzū al-Qarnayn (4)

Sebelumnya:

Beberapa Sosok Penting Tanpa Nama di Dalam Al Quran (5): Dzū al-Qarnayn (2)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Rukimin, Kisah Dzulqarnain Dalam Al-Quran Surat Al-Kahfi: 83-101 (Pendekatan Hermeneutik), PROFETIKA, Jurnal Studi Islam, Vol. 15, No. 2, Desember 2014, hal. 151

[2] Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, Volume 8, Jakarta, Lentera Hati, 2005, Hal. 122

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), chapter 18.

[6] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*