Dinasti Abbasiyah (15): Abdullah Abu al Abbas (As-Saffah) (2)

in Sejarah

Last updated on March 12th, 2019 08:37 am

Menurut Imam al Suyuthi, As-Saffah adalah sosok yang dermawan, meskipun mudah menumpahkan darah. Sayangnya, perilaku ini banyak diikuti oleh pejabat-pejabatnya di Timur maupun Barat. Segera setelah terbunuhnya khalifah terakhir Bani Umayyah (Marwan II), jenderal-jenderal yang dikirim As-Saffah ke sejumlah wilayah, menebar teror ke seluruh dunia Islam.


Tak lama setelah pelantikan Abdullah Abu al Abbas (As-Saffah), berita ini langsung menyebar dan sampai ke telinga Khalifah terakhir Dinasti Umayyah, bernama Marwan bin Muhammad (Marwan II). Segera dia menyiapkan pasukan, dan bersiap menggempur Kufah dengan kekuatan penuh. As-Saffah sudah memperhitungkan respon Marwan II. Tak lama setelah dilantik, As-Saffah segera bertanya pada para pengikutnya, “siapa di antara kerabat ku yang berani maju menantang Marwan?” kemudian muncul Abdullah bin Ali Said yang menyanggupinya. Lalu As Saffah mendoakannya dan merestuinya untuk maju.[1]

Pada awal Januari 750 M, kedua pasukan bertemu di tepi sungai Zab. Inilah perang terakhir dan paling menentukan antara dua kekuatan terbesar dalam dunia Islam kala itu. Marwan bin Muhammad adalah khalifah, sekaligus jenderal perang kenamaan, yang saat itu sudah kehilangan kekuataannya hampir di seluruh dunia. Melawan Abdullah bin Ali, seorang jenderal dari sebuah kekuatan revolusioner yang sedang naik daun. Tak ayal, perang besar pun berkecamuk. Hingga akhirnya, pasukan Marwan II kehilangan kedisiplinan, dan dengan mudah dihancurkan oleh pasukan Abdullah bin Ali.[2]

Melihat kekuatannya hancur lebur, Marwan II pun melarikan diri. Tapi tidak semudah itu baginya untuk sembunyi. Karena saat ini dia adalah satu-satunya buronan yang paling dicari untuk dibunuh di seluruh dunia Islam. Setelah mengalami kekalahan, khalifah terakhir Bani Umayyah itu sempat berhasil melarikan diri ke Mosul, Hauran, Suriah, dan terakhir ke Mesir. Selama itu, dia terus diburu oleh para jenderal Abbasiyah.

Hingga akhirnya, dia berhasil ditangkap di Mesir oleh panglima Abbasiyah bernama Shalih bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Marwan II kemudian hukum mati. Kepalanya dipenggal, lalu dikirim kepada As-Saffah di Kufah. Marwan bin Muhammad wafat pada tahun 132 H atau 750 M dalam usia 62 tahun. Dengan terbunuhnya Marwan, maka berakhir pula kekuasaan Bani Umayyah yang sudah berlangsung selama 90 tahun, sejak di deklarasikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada 660 M. Di sisi lain, tewasnya Marwan II menandai dimulainya sebuah era baru kepemimpinan Islam di bawah Dinasti Abbasiyah.

Membantai Keturunan Umayyah

Pada mulanya, banyak yang berharap akan kehidupan yang lebih baik setelah hancurnya Dinasti Umayyah. Terlebih setelah mendengar pidato politik As-Saffah yang demikian menjanjikan. Namun ternyata, semua itu hanyalah kosmetika politik. Kaum Muslimin di seluruh dunia tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali menyaksikan brutalitas kekuasaan dinasti Islam. Segera setelah terbunuhnya Marwan II, jenderal-jenderal yang dikirim As-Saffah ke sejumlah wilayah, menebar teror ke seluruh dunia Islam. Salah satunya, mereka menghukum semua anak keturunan Bani Umayyah di luar batas kewajaran.

Sebagaimana dikisahkan oleh Al Maududi, hanya sesaat setelah tewasnya Marwan II, pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damaskus ibu kota Bani Umayyah, dan mereka pun “memainkan” pedangnya di kalangan penduduk sehingga membunuh kurang lebih 50.000 orang. Masjid Jami milik Bani Umayyah mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama 70 hari, dan mereka menggali kembali kuburan Muawiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh mereka lalu menderanya dengan mencambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan banyak orang selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya.[3]

Mereka juga membunuh setiap anak dari kalangan Bani Umayyah, kemudian menghamparkan permadani di atas jasad-jasad mereka yang sebagiannya masih menggeliat dan gemetaran, lalu mereka duduk di atasnya sambil makan. Mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka di jalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing. Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Mekah dan Madinah.[4]

Pemberontakan dan Respon As-Saffah

Adz-Dzahabi berkata, “Dengan munculnya Daulah Abbasiyah, kaum Muslimin terpecah-belah dan banyak yang berontak. Pemberontakan menyebar dari Tahar, Thibnah, Sudan, dan kerajaan-kerajaan kecil di Andalusia. Negeri-negeri itu kemudian memisahkan diri dari khilafah.” Terkait dengan sejumlah pemberontakan ini, As-Saffah dan para jenderalnya merespon dengan cara kekerasan yang sama dengan yang mereka lakukan pada anak keturunan Umayyah.[5]

Sebagaimana di kisahkan oleh al Maududi, ketika terjadi pemberontakan di Kota Musil, As-Saffah segera memerintakan saudaranya yang bernama Yahya untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan di kalangan rakyat, “Barang siapa yang memasuki Masjid Jami, maka akan dijamin keamanannya.” Mendengar ini, beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid. Kemudian Yahya memerintahkan anak buahnya agar menutup pintu masjid, lalu dihabisilah semua orang yang datang mencari perlindungan tersebut. Tak kurang dari 11.000 orang yang tewas dalam peristiwa tersebut. Di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh hari itu, lalu dia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari kota Musil digenangi oleh darah penduduknya.[6]

Sisi lain As Saffah

Meski terkenal mudah menumpahkan darah, As-Saffah memiliki sifat baik yang cukup terkenal. Salah satunya adalah sifat kedermawannya. Ash-Shuli mengatakan bahwa As-Saffah adalah seorang dermawan. Tak pernah dia menunda apa yang telah dijanjikannya dan tak pernah dia bangkit dari duduknya sebelum memberikan apa yang dijanjikannya.[7]

Abdullah bin Hasan Marrah pernah berkata kepadanya, “Aku pernah mendengar jumlah sejuta dirham, tapi belum pernah melihatnya sama sekali.” As-Saffah lantas memerintahkan seseorang untuk mengambil uang sejumlah itu lalu dihamparkannya di hadapan Abdullah bin Hasan dan disuruh membawa pulang ke rumahnya.[8]

Demikian itu beberapa sisi lain As Saffah. Menurut Imam al-Suyuthi, As-Saffah adalah sosok yang dermawan, meskipun mudah menumpahkan darah. Sayangnya, perilaku ini banyak diikuti oleh pejabat-pejabatnya di Timur maupun Barat.[9]

As-Saffah wafat pada tahun 136 H, akibat penyakit cacar yang dideritanya. Dia memerintah sebagai khalifah selama empat tahun. Pada masa ini, pusat kekuasaan Dinasti Abbasiyah terletak di Ambar.[10] Sebelum wafatnya, As-Saffah mengangkat saudaranya, Abdullah Abu Ja’far sebagai putra mahkota, serta mewasiatkan bahwa khalifah setelah Abu Ja’far akan diduduki oleh paman mereka yang bernama Isa bin Musa. Abdullah Abu Ja’far bin Muhammad kelak dikenal dengan julukan “al Manshur”. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, The History of al-Tabari, Vol. XXVII., The `Abbasid Revolution, Translated by John Alden Williams, State University of New York Press, 1990. Hal. 162

[2] Ibid, hal. 163-164

[3] Lihat, Abul A’la Al-Maududi, “Khalifah dan Kerajaan; Konsep Pemerintahan Islam serta Studi Kritis terhadap ‘Kerajaan’ Bani Umayyah dan Abbasiyah.” Bandung, Kharisma, 2007, hal. 227

[4] Ibid, hal. 228

[5] Lihat, Imam Al Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, Jakarta, Qisthi Press, 2017, hal. 279

[6] Lihat, Abul A’la Al-Maududi, Op Cit

[7] Lihat, Imam Al Suyuthi, Op Cit, hal. 279

[8] Ibid

[9] Ibid, hal. 280

[10] Ibid, hal. 279 ��*�m�1

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*