Dinasti Abbasiyah (4): Benih-Benih Revolusi (2)

in Sejarah

Last updated on March 4th, 2019 09:29 am

Wilayah Persia dan Khurasan merupakan kawasan yang kaya, posisinya demikian strategis, dan masyarakatnya sangat kreatif. Akan tetapi, masyarakat di Khurasan dan Persia tidak pernah sekalipun memantapkan kesetiaannya pada Dinasti Umayyah.” 

Majid Jami Ferdows (Masjid-e-Jāmeh Toon) yang terletak di Kota Ferdows, Khurasan, Iran. Masjid ini menjadi salah satu icon kota Khurasan saat ini. Sumber: wikiwand.com

Khurasan, berjarak ribuan mil dari ibu kota Dinasti Umayyah di Damaskus. Sehingga cukup sulit mengontrol wilayah ini secara seksama dari puncak kekuasaan. Meski demikian, dinamika politik di pusat kekuasaan Islam, tetap mewarnai dinamika sosial politik di kawasan ini. Masyarakat di kawasan Khurasan dan Persia umumnya adalah pengikut dan pendukung Ali bin Abi Thalib, Khulafah Rasyidin keempat. Ketika pusat kekuasaan Islam terbelah menjadi faksi Ali bin Abi Thalib dan faksi Muawiyah setelah Perang Siffin, Persia dan Khurasan menjadi basis pendukung Ali bin Abi Thalib, sedang Damaskus menjadi basis kekuatan pendukung Muawiyah.

Gambar ilustrasi luas wilayah Kekaisaran Sasania sebelum ditaklukkan oleh kaum Muslimin pada perang Qadisiah. Area berwana biru tua, adalah wilayah teritori yang definitif. Sumber gambar: persianemp.weebly.com

Ketika Muawiyah naik tahtah sebagai khalifah pertama Dinasti Umayyah, kawasan Persia dan Khurasan menjadi ancaman serius bagi kekuasaannya. Karena penduduk di kawasan ini tidak menerima legitimasi Muawiyah atas tahta khilafah. Bagi mereka, setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib, sosok yang layak menggantikan posisinya sebagai khalifah tidak lain adalah putranya, Hasan dan (kemudian) Husein.

Persoalannya menjadi makin rumit bagi Bani Umayyah, ketika kecintaan masyarakat pada Hasan dan Husein memang bersifat objektif. Bukan hanya karena mereka menyandang nasab sebagai keturunan langsung Rasulullah SAW dari Fatimah Az Zahra, kedua putra Ali bin Abi Thalib ini memang diakui secara luas memiliki kemuliaan dan kebijaksanaan yang jauh di atas rata-rata kaum Muslimin pada masanya. Sehingga pilihan masyarakat kepada mereka, memang sulit dibantah dengan argumentasi apapun. Hal ini juga yang membuat kecintaan masyarakat pada Ali bin Abi Thalib dan keturunanan demikian mendalam dan terus menguat hari demi hari seiring dengan makin rusaknya kebijakan-kebijakan yang dilakukan para pemimpin Dinasti Umayyah.

Lebih daripada itu, selain karena faktor-faktor objektif tentang keutamaan anak keturunan Ali dan Fatimah, kesetiaan orang-orang Persia (dan Khurasan) pada keturunan mereka juga dilatarbelakangi oleh ikatan historis yang kompleks. Syed Ameer Ali menggambarkan dalam karyanya berjudul “The Spirit of Islam” sebagai berikut:

“Kesetiaan orang Parsi pada klan Fatimah dikarenakan adanya pertautan sejarah dan kebangsaan. Klan Fatimah merupakan pihak, melalui putri Yazdgerd, yang sah atas tahta kerajaan Iran. Sejak awal penyebaran Islam, Ali telah memberi penghormatan dan persaudaraan pada para mualaf Persia. Salman, si orang Parsi (al Farisi), salah seorang pengikut Muhammad terkemuka, telah lama menjadi sahabat Khalifah (Ali). Setelah perang Qadisiyah, Ali terbiasa memberikan harta rampasan perang dalam bentuk uang yang menjadi haknya untuk membebaskan para tawanan. Berkali-kali, dia juga memberikan saran pada Umar untuk meringankan beban rakyat. Karena itu, kecintaan orang Persia pada keturunan Ali dapat dipahami.” [1]

Sebagai catatan, wilayah Persia dan Khurasan sebelum masuk menjadi bagian dari wilayah taklukkan kaum Muslimin adalah wilayah kekuasaan Dinasti Sasaniah. Jadi kedua wilayah ini sebenarnya bisa dianggap sebagai satu kesatuan identitas.[2] Wilayah ini pertama kali ditaklukkan oleh kaum Muslimin pada masa pemerintahan Umar bin Khattab dalam perang Qadisyiah pada tahun 16 H. Adapun pemerintahan Sassania berakhir ketika penguasa Sassania terakhir, Yazdgerd III (632-651) dibunuh tidak jauh dari kota Merv yang menyebabkan satuan militer Sassania pun menyerah sepenuhnya kepada tentara Arab. Kota ini kemudian ditempati oleh salah satu komandan pasukan khalifah Utsman bin Affan, yang akhirnya berkembang menjadi ibu kota provinsi Umayyah di Khurasan.[3]

Setelah ditaklukkan, keluarga kerajaan Sasania diperlakukan dengan baik oleh kaum Muslimin, bahkan putri-putri raja Sasaniah, dinikahkan oleh pemuda-pemuda terkemuka dari bangsa Arab. Salah satunya adalah putri Yezdjard yang bernama Šahrbānu, yang tidak lain adalah pewaris tahta Sasaniah dinikahkan dengan Husein bin Ali. Dari konteks historis ini, penghormatan dan kecintaan masyarakat Persia dan Khurasan pada sosok Husein bin Ali bisa dimaklumi.[4]

Maka meski satu persatu penguasa Dinasti Umayyah berganti, proyek politik mereka selalu bertujuan untuk mereduksi kesetiaan masyarakat pada keturunan Ali dan Fatimah tersebut. Karena selama kesetiaan masyarakat masih tertanam di hati kepada mereka, Bani Umayyah tidak akan pernah benar-benar bisa menguasai sepenuhnya Persia dan Khurasan.

Masalahnya, wilayah Persia dan Khurasan merupakan kawasan yang kaya, posisinya demikian strategis, dan masyarakatnya sangat kreatif. Ketika pasukan Arab berhasil menaklukkan kawasan ini pada masa Umar bin Khattab, untuk pertama kalinya manusia-manusia gurun pasir tersebut melihat harta kekayaan rampasan yang demikian melimpah. Sedemikian banyaknya, sehingga khalifah Umar merasa khawatir bahwa harta tersebut akan menjadi jerat yang akan membuat mereka lebih mencintai dunia. [5]

Bila bisa dikuasai sepenuhnya, kawasan ini bisa menjadi sumber kekuatan dan kekayaan yang luar biasa. Akan tetapi, masyarakat di Khurasan dan Persia tidak pernah sekalipun memantapkan kesetiaannya pada Dinsati Umayyah. Sejak awal, mereka sudah menambatkan kecintaannya pada keluarga Rasulullah Saw (Ahlul Bait). Dan bila kita perhatikan secara seksama, praktis hampir semua pemberontakan rakyat yang lahir selama masa pemerintahan Dinasti Umayyah di Persia dan Khurasan, selalu menggunakan klaim untuk mengembalikan kehormatan Ahlul Bait Rasulullah Saw sebagai sumber legitimasinya. (AL)

Bersambung…

Dinasti Abbasiyah (5): Menunggangi Revolusi (4)

Sebelumnya..

Dinasti Abbasiyah (3): Benih-Benih Revolusi (1)

Catatan kaki

[1] Lihat, Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam or The Life and Teachings of Mohammed, Calcutta, S.K. Lahiri & Co, 1902, hal. 279-280

[2] Lihat, Most of the Persian lands of Khorasan are still majority Sunni,  https://sonsofsunnah.com/2015/01/08/most-of-the-persian-land-of-khorasan-is-still-majority-sunni/,

[3] Lihat, Mahayudin Hj Yahaya, The Social and Political Background of the `Abbasid Revolution: The Rise of the `Abbasid Caliphate, International Journal of Humanities And Cultural Studies ISSN 2356-5926, Volume 2, Issue 3 December 2015, hal. 834

[4] Lihat, Sahrbanu, http://www.iranicaonline.org/articles/sahrbanu, diakses 9 Februari 2019

[5] Abdullah Yusuf Ali mengisahkan sebagai berikut: “Ketika Medain (sekarang Iran) ditaklukkan pada tahun 16 Hijrah, dan pertempuran Jalula mematahkan perlawanan Persia, beberapa barang rampasan perang dibawa ke Madinah – permata, mutiara, batu rubi, berlian, pedang emas dan perak. Perayaan besar pun diadakan untuk menghormati kemenangan yang luar biasa dan keberanian tentara Arab. Di tengah-tengah perayaan mereka menemukan Khalifah hari itu (Sayidina Umar bin Khattab) benar-benar menangis. Seseorang berkata kepadanya, “Apa! Di saat suasana sedang sukacita sedang air matamu mengalir? ”“ Ya,” katanya, “Aku melihat bahwa kekayaan akan menjadi jerat, (yang menjadi sumber munculnya) cinta dunia dan iri hati, dan pada akhirnya akan menjadi malapetaka bagi bangsaku.” Lihat, Imam Husayn and his Martyrdom–Reflections on Karbala by Abdullah Yusuf Ali (d. 1952), https://ballandalus.wordpress.com/2013/11/13/imam-husayn-and-his-martyrdom-reflections-on-karbala-by-abdullah-yusuf-ali-d-1952/, diakses 12 September 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*