Dinasti Abbasiyah (8): Meracik Legitimasi (3)

in Sejarah

Last updated on March 4th, 2019 09:48 am


Pada tahun 100 H, Muhammad bin Ali mulai melancarkan propagandanya. Dia mengirim sejumlah utusan ke berbagai wilayah, dan mengajak mereka agar mendukung imam dari keluarga Muhammad. Tapi dia tidak menyebutkan secara terang-terangan, siapa Imam yang dimaksud?


Gambar Ilustrasi. Sumber:
MeisterDrucke

Aspek lain yang juga perlu dicatat di sini, yaitu sentimen arab dan non-arab yang dihembuskan oleh Bani Umayyah sejak awal berdirinya. Sentimen ini pada tahap selanjutnya tidak hanya berlangsung satu arah (yaitu diskriminasi bangsa Arab pada non Arab), tapi juga mengalir balik menjadi sentimen anti-Arab oleh masyarakat non Arab, seperti yang terjadi di Persia dan Khurasan.[1]

Satu-satunya tokoh dari bangsa Arab yang diterima secara luas di kawasan ini adalah Rasulullah dan keturunanannya dari Fatimah dan Ali bin Abi Thalib. Ini sebabnya, tidak mudah bagi tokoh-tokoh Arab yang ada pada masa itu menarik simpati masyarakat Persia dan Khurasan yang bukan Arab. Juga bukanlah hal mudah untuk membangun legitimasi di tengah struktur sosial yang seperti ini.

Dalam hal ini, Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas harus memutar otaknya sedemikian rupa untuk melancarkan strategi. Sekitar akhir masa pemerintahan khalifah Sulaiman bin Abdul Malik,  momentum yang ditunggu pun datang. Sebagaimana dikisahkan oleh Akbar Shah Najeebabadi dalam “The History Of Islam”, Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin Hanafiah berkunjung ke Damaskus.[2] Abu Hisyam, oleh pendukungnya dianggap sebagai pemimpin keluarga Rasulullah Saw pasca wafatnya Husein bin Ali.[3]

Sepulangnya dari kunjungannya ke Damaskus, Abu Hisyam bertemu dengan Muhammad bin Ali dan singgah di tempatnya. Tapi tiba-tiba dia jatuh sakit dan meninggal. Konon sebelum meninggal, dia membaiat Muhammad bin Ali sebagai khalifah kaum Muslimin. Dengan demikian, secara otomatis, klaim kepemimpinan keluarga Rasulullah Saw sekarang berpindang ke Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Klaimnya sebagai imam dari keluarga Muhammad pun, mendapat dukungan dari  pengikut Abu Hisyam. Dengan modal dukungan inilah Muhammad bin Ali segera memulai rencana politiknya. Dia mengirimkan 12 orang utusan untuk mengajak para tokoh di sejumlah wilayah seperti Irak, Khurasan, Hijaz, Yaman, dan Mesir, agar mendukung gerakannya. [4]

Tak lama setelah Sulaiman bin Abdul Malik wafat, Umar bin Abdul Aziz menggantikannya. Umar menghapus semua kebijakan diskriminatif dan tradisi ashobiyah yang selama ini dikembangkan oleh penduhulunya. Sehingga di masa pemerintahnya, segregasi sosial antara Arab dan non-Arab sempat tereduksi untuk sementara. Meski begitu, Muhammad bin Ali tetap melanjutkan rencananya, dan memprovokasi masyarakat untuk mendukung gerakannya. Pada tahun 100 H, para utusan Muhammad bin Ali berhasil mendapatkan dukungan yang cukup banyak dari sejumlah wilayah.[5]

Akan tetapi, meski sudah mendapat dukungan luas atas rencananya, Muhammad bin Ali belum menyatakan dirinya secara terang-terangan sebagai imam dari keluarga Muhammad. Sebagaimana dikisahkan oleh Imam Al-Suyuthi, saat Yazid bin Abi Muslim terbunuh di Afrika dan orang-orang Barber mengingkari janjinya, Muhammad bin Ali mengutus seseorang ke Khurasan. Dia memerintahkan utusan itu untuk mengimbau agar orang-orang rela menjadikan keluarga Muhammad sebagai pemimpin (khalifah), tetapi waktu itu dia sama sekali tidak menyebutkan siapa keluarga yang dimaksud.[6]

Boleh jadi, cara ini dilakukan untuk menjaga agar gerakan yang diorganisirnya tetap aman. Tapi di sisi lain, sangat mungkin ini dilakukan untuk menjaga kedoknya. Sebab bila dia langsung secara tegas menyampaikan maksudnya, besar kemungkinan masyarakat akan ragu menerimanya. Karena bagaimanapun, bagi sebagian besar masyarakat kala itu, klaim kepemimpinan hanya sah apabila mereka berasal dari keturunan Ali dan Fatimah.

Pada tahun 107 H, Muhammad bin Ali menugaskan sosok bernama Bukhair bin Mahan sebagai penanggungjawab propaganda Bani Abbas di kawasan Persia dan Khurasan. Bukhair lalu mengirim sejumlah utusan untuk menemui simpul-simpul masyarakat di wilayah tersebut. Mereka mengabarkan bahwa mereka adalah perwakilan khusus dari keluarga Muhammad. Dengan alasan ini mereka diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat. Dalam propagandanya, mereka berjanji akan meneggakkan kembali hukum-hukum agama sesuai dengan tuntunan Alquran dan Sunah. Seruan mereka diterima, dan beberapa simpul masyarakat pun mulai menyatakan kesetiaannya pada Muhammad bin Ali.[7]

Tapi tak lama kemudian, gerakan rahasia mereka diketahui oleh gubernur Khurasan. Para utusan Bukhair bin Mahan diburu dan dibunuh satu persatu. Hanya satu yang selamat, dan berhasil mengabarkan perkembangan yang terjadi pada Bukhair. Bukhair melaporkan masalah ini pada Muhammad bin Ali. Dia memerintahkan Bukhair agar tetap mengirimkan utusan ke Khurasan dan melanjutkan perjuangan.[8]

Menurut Al Maududi, bangsa-bangsa non-Arab (terutama bangsa Persia) mendukung gerakan Bani Abbas ini dengan perhitungan, jika telah terbentuk suatu pemerintahan dengan kekuasaan pedang-pedang mereka, mereka akan dapat menguasainya dan sekaligus mengakhiri kekuasaan bangsa Arab serta menghancurkan kekuatan mereka.[9] Dan siapa sangka, apa yang mereka renungkan ini, di kemudian hari memang terwujud. Karena kelak, aparatur Dinasti Abbasiyah mulai dari level tertinggi hingga yang paling bawah, nyaris steril dari bangsa Arab.  (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Abul A’la Al-Maududi, “Khalifah dan Kerajaan; Konsep Pemerintahan Islam serta Studi Kritis terhadap ‘Kerajaan’ Bani Umayyah dan Abbasiyah.” Bandung, Kharisma, 2007, hal. 231-232

[2] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, Riyadh, Darussalam, 2000, Hal. 230

[3] Kelak, para pengikut Muhammad bin Hanafiah ini dikenal sebagai sekte Syiah Kaisaniyah. Ini adalah sekte Syiah yang mempercayai kepemimpinan Muhammad bin Hanafiyah setelah wafatnya Husein bin Ali. Nama Kaisaniyah diambil dari nama seorang bekas budak Ali bin Abi Talib, Kaisan, atau dari nama Mukhtar bin Abi Ubaid yang juga dipanggil dengan nama Kaisan. Sekte Kaisaniyah terpecah menjadi dua kelompok. Pertama, yang mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah sebenarnya tidak mati, tetapi hanya gaib dan akan kembali lagi ke dunia nyata pada akhir zaman. Mereka menganggap, Muhammad bin Hanafiyah adalah Imam Mahdi yang dijanjikan itu. Yang termasuk golongan Kaisaniyah di antaranya sekte al-Karabiyah, pengikut Abi Karb ad-Darir. Kedua, kelompok yang mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah telah mati, tetapi jabatan imamah beralih kepada Abi Hasyim bin Muhammad bin Hanafiyah. Yang termasuk kelompok ini adalah sekte Hasyimiyah, pengikut Abi Hasyim. Sekte ini terpecah-pecah setelah meninggalnya Abi Hasyim. Menurut Ibnu Khaldun, bahwa setelah meninggalnya Abi Hasyim, jabatan imamah berpindah kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, kemudian secara berturut-turut kepada Ibrahim al-Imam, as-Saffah, dan al-Mansur. Sekte Kaisaniyah ini telah lama musnah. Namun, kebesaran dan kehebatan nama Muhammad bin Hanafiyah ini masih dapat dijumpai dalam cerita-cerita rakyat, seperti yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat Aceh dan hikayat Melayu yang terkenal, Hikayat Muhammad Hanafiah. Hikayat ini telah dikenal di Malaka sejak abad ke-15. Lihat, Ensiklopedi Syiah, http://id.al-shia.org/page.php?id=1297&page=3, diakses 15 Februari 2019

[4] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit

[5] Ibid

[6] Lihat, Imam Al Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, Jakarta, Qisthi Press, 2017, hal. 278

[7] Lihat, Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam or The Life and Teachings of Mohammed, Calcutta, S.K. Lahiri & Co, 1902, hal. 231

[8] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit, Hal. 230

[9] Lihat, Abul A’la Al-Maududi, Op Cit, hal. 233 5

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*