Dinasti Fatimiyah (11): Berakhirnya Era Fatimiyah dan Berdirinya Ayyubiyah

in Sejarah

Last updated on April 28th, 2018 04:14 am

Dinasti Fatimiyah berakhir pada tahun 1171 M, setelah berdiri selama 262 tahun sejak 909 M. Selama tiga tahun, Mesir sempat kembali menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Abbasiyah. Hingga tahun 1174 M, Shalahuddin Al Ayyubi mendeklarasikan berdirinya Dinasti Ayyubiyah.

—Ο—

 

Pada masa pemerintahan Al Fa’iz, Kairo benar-benar seperti menganut anarkisme politik. Khalifah benar-benar tidak berdaya. Semua pihak yang memiliki kekuatan merasa berhak atas kekuasaan Mesir, dan setiap saat selalu mengincar kursi wazir. Al Fa’iz sendiri hanya menjabat sebagai khalifah sampai 1160 M, ketika itu usianya masih 11 tahun. Selama 6 tahun masa kekhalifahannya – al Fa’iz yang menjadi khalifah sejak usia 5 tahun ini – nyaris tidak pernah memerintah. Posisinya kemudian digantikan oleh sepupunya bernama Abū Muḥammad ʿAbd Allāh ibn Yūsuf ibn al-Ḥāfiẓ atau dikenal dengan Al-Adid. Inilah khalifah terakhir Dinasti Fatimiyah.

Al-Adid lahir pada tahun 1149 M, dan menjabat sebagai khalifah pada tahun 1160. Dengan demikian usianya masih 11 tahun ketika menduduki posisi tersebut. Situasi pada masanya lebih tidak menentu. Peta perebutan posisi wazir makin berkembang luas. Semua kekuatan di Mesir terpecah belah, mulai dari kesatuan militer, hingga kekuatan-kekuatan di wilayah-wilayah terkecil. Hingga akhirnya, seorang Gubernur dari wilayah utara Mesir bernama Adalah Shawar ibn Mujir al-Sa’di, masuk ke Kairo bersama bala tentaranya, dan berhasil mengambil alih situasi, serta menduduki posisi sebagai wazir Dinasti Fatimiyah.

Tapi Shawar hanya mampu bertahan selama sembilan bulan pada posisinya. Ia dikhianati oleh salah satu Jenderalnya bernama Dirgham. Menurut John Man, komandan pasukan yang bernama Dirgham mengumpulkan 70 orang pejabat kerajaan, kemudian membunuh mereka semua secara kejam dalam sebuah perjamuan. Namun Shawar berhasil lolos dari pembantaian tersebut dan melarikan diri ke Suriah yang ketika itu dipimpin oleh penguasa Seljuk bernama Nuruddin Zangi.[1]

Kepada Nuruddin, Shawar memohon pertolongan agar membantunya mengambil alih kembali kedudukannya dari tangan Dirgham. Dan permohonan itupun diperkenankan.[2] Nuruddin kemudian mengutus salah seorang Jenderalnya bernama Asaduddin Syirkuh yang tidak lain adalah pamannya Salahuddin al Ayyubi. Mendapatkan perintah ini, pamannya bersikeras mengajak Shalahuddin yang saat itu masih berusia 26 tahun untuk menyertainya dalam misi tersebut. Sebagaimana sejarah mencatat, inilah untuk kali pertama Shalahuddin melangkahkan kakinya ke panggung sejarah dunia.

Asaduddin Syirkuh bersama bala tentaranya berhasil mengambil alih Mesir dan menguasai situasi sepenuhnya. Syirkuh kemudian mendudukan kembali Shawar sebagai wazir di Mesir. Tapi Shawar meminta lebih. Ia menginginkan Syirkuh untuk segera angkat kaki dari Mesir, karena ia merasa tidak tenang selama Syirkuh masih ada di wilayah tersebut dengan bala tentaranya yang demikian kuat. Mendengar permintaan ini, Syirkuh justru bersikeras tinggal di Mesir, dan meminta bagian kekuasan untuk dirinya. Perdebatanpun terjadi, dan akhirnya Shawar pergi meninggalkan Mesir, bertolak ke Eropa. Sebagaimana dulu ia meminta pasukan Saljuk masuk ke Mesir, kini ia meminta pasukan Salib untuk membantunya merebut kekuasaan dari Syirkuh. Dan lagi-lagi permintaannya pun diperkenankan.[3]

Maka jadilah Mesir ketika itu sebagai pusat perebutan berbagai jenis kekuatan dunia. Di tengah perebutan supremasi kekuatan dunia tersebut, Al-Adid, khalifah terakhir Fatimiyah itupun tak ubahnya seperti warga negara biasa yang tidak memiliki kekuatan untuk memutuskan sesuatu. Dalam beberapa waktu, pasukan Syirkuh sempat terpojok diserang oleh pasukan gabungan Shiwar. Namun tidak berapa lama, Syirkuh berhasil membalikan keadaan.  Kali ini, ia berhasil secara total menguasai Mesir dan menghukum mati Shiwar.[4]

Al-Adid kemudian bersikeras mengangkat Syirkuh sebagai wazir. Tapi bagaimanapun, ia adalah anak buah dari Nuruddin Zangi. Al-Adid akhirnya secara langsung meminta izin pada Nuruddin untuk meminta Syirkuh sebagai wazir. Setelah permohonan tersebut diperkenankan, akhirnya Syirkuh menerima amanah tersebut.[5]

Dalam waktu cepat, Syirkuh menundukkan semua kekuatan yang bersaing di Mesir, dan mengembalikan keamanan politik di sana. Tidak lama setelah itu, Syirkuh wafat, dan Nuruddin kemudian menunjukkan penggantinya. Namun sosok baru ini ternyata tidak disukai oleh keluarga Fatimiyah. Khalifah kemudian memilih Shalahuddin untuk menggantikan posisi wazir menggantikan pamannya. Pada akhir maret 1169 M, Shalahuddin dilantik sebagai Wazir oleh Khalifah Fatimiyah terakhir Al-Adid, yang saat itu masih berusia belasan.[6]

Shalahuddin, seorang pemimpinan yang cerdas dan visioner. Dengan cepat ia mampu memahami situasi yang dihadapinya. Pada awalnya ia bertindak tak ubahnya seperti karyawan dengan banyak tuan. Di satu sisi, ia harus mengabdi pada Nuruddin, sedang  di sisi lain ia memiliki tuan yang lain, yaitu khalifah Fatimiyah. Serta di sisi yang lain lagi, ia juga secara tidak langsung menjalin kesetiaan dengan khalifah Abbasiyah.

Artikel terkait:

Shalahuddin Al Ayyubi (2): Lahirnya Dinasti Ayyubiyah

Namun dengan sangat hati-hati, ia melepaskan satu persatu ikatan dari para tuannya. Mulai ia memboyong keluarga besarnya – yang secara umum memiliki jabatan di Damaskus – ke Mesir. Ia lalu mengganti sejumlah posisi strategis di Mesir dengan orang-orang terdekatnya.[7] Melalui langkah ini, ia sudah mencapai dua hal; pertama, melepaskan semua jenis tekanan yang mungkin diberikan oleh Damaskus melalui keluarganya. Kedua, secara tidak langsung ia sudah mencapkan kekuatan politik secara paripurna di Mesir. Dengan kata lain, melalui cara ini, Shalahuddin sudah berhasil mengamankan semua potensi tekanan terhadap dirinya dari kedua tuannya, Saljuk dan Fatimiyah.

Di Mesir sendiri, Shalahuddin mulai merancang ulang skema pemerintahan menurut visi politiknya. Ia mulai membangun pasukannya sendiri yang berkekuatan 5000 personil dan terdiri dari orang-orang Kurdi, yang memiliki ikatan kebangsaan dengan Shalahuddin sendiri.[8] Ia mulai mengimpor para ulama Sunni ke Mesir, yang selama ini kental pengaruh Ismailiyah. Ia dirikan Universitas yang bermahzab Maliki dan Syafi’I di sana, untuk mengimbangi pengaruh Ismailiyah yang sudah ratusan tahun berada di Mesir.[9]  Dengan kuda-kuda kekuasaan yang sudah cukup kuat, Shalahuddin mulai memperlus areal kekuasaannya ke sekitar Mesir.

Pada tahap selanjutnya, namanya sudah mulai disebut dalam khotbah-khotbah Jumat di masjid, bukan lagi nama khalifah. Dan orang-orang baru menyadari misi politik Shalahuddin, ketika dalam khotbah jumat, para khotib sudah mulai menyertakan nama khalifah Abbasiyah yang tidak lain merupakan pesaing utama Dinasti Fatimiyah. Situasi ini terjadi pada tahun 1171, dimana pada saat yang bersamaan, khalifah Al Adid mengalami sakit keras selama berminggu-minggu. Tidak berapa lama kemudian, terdengar kabar bahwa Al Adid wafat. Bersamaan dengan wafatnya Al Adid, maka berakhir pula riwayat panjang Dinasti Fatimiyah selama 262 tahun (909-1171).[10]

Setelah wafatnya Al Adid, Shalahuddin segara mengubah haluan politik Mesir dengan menyatakan baiat kepada khalifah Abbasiyah.[11] Dan hanya berselang tiga tahun setelah itu, khalifah Abbasiyah wafat. Shalahuddin kemudian membatalkan baiatnya, dan mendeklarasikan berdirinya Dinasti Ayyubiyah pada tahun 1174 M. (AL)

 

Silsilah Para Khalifah Dinasti Fatimiyah. Sumber gambar: goes-char

 

Selesai.

Sebelumnya:

Dinasti Fatimiyah (9): Perpecahan dan Perang Saudara

Catatan kaki:

[1] Lihat, John Man, “Shalahuddin al-Ayyubi: Riwayat Hidup, Legenda, dan Imperium Islam”, Ciputat, Pustaka Alvabeth, 2017, Hal. 73.

[2] Pada awalnya Nuruddin sempat enggan masuk dalam urusan internal keluarga dinasti Fatimiyah. Disamping itu, untuk mencapai Mesir juga bukanlah hal yang mudah, karena pasukannya harus terlebih dahulu melewati pasukan Frank (Pasukan Salib) yang sudah menduduki wilayah Ascalon (sekarang Ashkelon, wilayah pesisir yang jaraknya sekitar 60 Km dari Yerusalem). Lihat, Ibid, hal. 72

[3] Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Shawar, diakses 20 April 2018

[4] Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Adid, di akses 20 April 2018

[5] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit, hal. 266

[6] Lihat, Philip K. Hitti, History of Arab, London, Macmillan, 1970, Hal. 645

[7] Segera setelah dilantik, Shalahuddin langsung menghadapi berbagai persoalan internal Mesir yang begitu kompleks. Mulai dari perebutan jabatan sebagai wazir, pemberontakan rakyat, hingga ancaman tentara Salib. Dengan alasan untuk mengamankan dirinya dari ancaman tersebut, dia meminta pada Damaskus dan Fatimiyah agar ia dikelilingi oleh orang-oran kepercayaan, agar ia lebih nyaman dalam bekerja. Lihat, John Man, Op Cit, Hal. 95

[8] Ibid, hal. 97

[9] [9] Lihat, http://islamidia.com/sejarah-lengkap-kehidupan-shalahuddin-al-ayyubi-dari-lahir-sampai-meninggal-dunia/, diakses 4 Desember 2017

[10] Banyak rumor di masyarakat tentang kematian Khalifah ini. Ada yang menduga ia bunuh oleh Shalahuddin, namun  menurut John Man bukti-bukti yang mengarah kesana sangat lemah. Lihat, John Man, Op Cit, Hal. 103

[11] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit, hal. 268

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*