Dinasti Seljuk, Bangkit dan Runtuhnya Kekhalifahan (4): Masa Kemunduran Dinasti Seljuk

in Sejarah

Bizantium dan dinasti Seljuk bertempur bersama-sama untuk melawan para tentara Mongol. Namun usaha Seljuk dan Bizantium ternyata berbuah percuma. Mereka mengalami kekalahan pada tahun 1243 M hingga akhirnya Mongol berhasil merebut Iran dan Anatoli

—Ο—

 

Pada masa pemerintahan dinasti Seljuk  berkuasa, eksistensi khilafah Abbasiyah dapat dikatakan hanya sebatas formalitas belaka, sebab yang sesungguhnya mengendalikan pemerintah secara riil ada di tangan dinasti Seljuk. Dinasti Seljuk mencapai masa kejayaannya pada era pemerintahan Malik Syah, yang diawali semenjak era Alp Arselan. Dinasti Seljuk dikategorikan sebagai sebuah negara yang sistematis, dan hierarkis dengan model perso-Islam (Persia-Islam).[1] Dengan didukung oleh perdana menterinya yang mumpuni yaitu Nizham al-Mulk, dinasti Seljuk dibawa kepada peradaban yang maju dan gemilang

Sultan Malik Syah semasa hidupnya selain populer sebagai seorang penguasa sebuah imperium yang memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas, dapat pula dikatakan bahwa ia adalah seorang “manager” yang pandai dan piawai dalam menata kota-kota di negerinya. Pembangunan infrastruktur menjadi perhatian yang utama baginya. Ditandai dengan dibangunnya masjid-masjid, pengembangan akses jalan-jalan, membagnun dan memperaiki fasilitas-fasilitas umum, dan juga memberikan anggaran yang besar untuk mengawal para khalifah untuk menunaikan ibadah haji demi keamanannya.[2]

Namun kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, imperium yang telah dibangun dengan besar tersebut mulai mengalami kemunduran. Terdapat dua faktor yang membuat dinasti Seljuk mengalami kemundirannya, yaitu faktor eksternal dan internal. Diantara yang termasuk kedalam faktor internal adalah mulai munculnya konflik di dalam tubuh pemerintahan dinasti Seljuk sendiri yang kemudian mengakibatkan kelemahan dalam tubuh dinasti Seljuk. Kemnunduran tersebut mau tidak mau menuju pada kemunduran dalam aspek politik maupun pertahanannya. Akibatnya dinasti yang besar dengan masa kekuasaan kurang lebih 2,5 abad mengalami nasib yang sama dengan pendahulunya, yakni keruntuhanya dan berhasil ditaklukkan oleh dinasti lain.[3]

Setelah Sultan Malik Syah dan kemudian perdana menterinya Nizham al-Mulk meninggal, Seljuk besar mengalami kemunduran, yang di awali dengan perebutan kekuasaan antar anggota keluarga yang timbul. Konflik-konflik ini membuat beberapa dinasti-diasti kecil seperti dinasti Syahat Khawarizm, Ghuz, dan al-Ghuriyah, memilih untuk memerdekakan diri. Disisi lain, sedikit demi sedikit kakuasaan politik negeri Irak juga kembali. Kekuasaan dinasti Seljuk di Irak berakhir di tangan Khawarizm Syah yang terjadi pada tahun 290 H / 1199 M.[4]

Dinasti Seljuk yang terpecah menjadi beberapa negara mengakibatkan sejumlah pesaing yang muncul dikalangan bangsawan dalam rangka memperebutkan tahta kekuasaan. Dinasti yang dibangun dan menjadi besar, kini terbagi menjadi beberapa bagian. Hal tersebut memperlihatkan ketidak samaan visi dan misi para penguasanya, sehingga berakibat timbulnya persaingan dalam tubuh dinasti Seljuk. Faktor – faktor yang menjadi penyebab runtuhnya dinasti Saljuk diantaranya adalah sebagai berikut:[5]

  1. Pertama adalah konflik internal, perebutan kekuasaan antar saudara, paman, dan anak –anak yang saling memperebutkan tampuk kepemimpinan,
  2. Lemahnya para khilafah Abbasiyah untuk mengambil peran dalam dinasti Seljuk, sehingga kekhalifahan tidak mampu menolak atau mengarahkan siapa saja yang menduduki kekuasaan dinasti Seljuk,
  3. Pemerintahan Seljuk yang tidak mampu menyatukan wilayah Syam, Mesir, dan Irak dibawah panji-panji kekuasaan dinasti Seljuk,
  4. Terjadinya gesekan yang luar biasa dalam kekuasaan dinasti Seljuk sehingga menimbulkan bentrokan militer yang terus menerus dan berkepanjangan,
  5. Konspirasi dari beberapa kelompok terhadap kesultanan Seljuk dan membunuh para sultan beserta para komandannya.

Dalam keadaan kekuasaan dinasti Seljuk yang sedang melemah kekuasaan politiknya, kemunduran, terganggu keamanan dan ketertibannya, serta diliputi oleh perang saudara, dinasti Seljuk kemudian juga mengalami kemunduran dalam hal pendidikan dan kemiskinan intelektual, spiritual dan moral. Konflik internal dan lemahnya pemimpin dinasti menjadi beberapa faktor pendukung yang menyebabkan keruntuhan dinasti Seljuk. Bukan hanya itu, faktor lain menyebabkan runtuhnya dinasti ini adalah serangan tentara Mongol yang sulit untuk dibendung lagi.[6]

Ketika tentara Mongol datang menyerbu ke Asia Barat, Bizantium dan dinasti Seljuk bertempur bersama-sama untuk melawan para tentara Mongol. Namun usaha Seljuk dan Bizantium ternyata berbuah percuma. Mereka mengalami kekalahan pada tahun 1243 M dan akhirnya Mongol berhasil merebut Iran dan Anatoli (Turki modern). Kemudian setelah kekaisaran Mognol runtuh, salah satu sultan Seljuk bernama Utsman kemudian mendirikan kesultanan baru yang disebut dengan kesultanan Utsmaniyah.[7](SI)

Upacara Peresmian Parlemen Utsmaniyah pertama di Istana Dolmabahce tahun 1876, sumber gambar :http://www.wikiwand.com/id/Kesultanan_Utsmaniyah

Selesai.

Sebelumnya:

Dinasti Seljuk, Bangkit dan Runtuhnya Kekhalifahan (3): Kebangkitan Peradaban

catatan kaki:

[1] Salah satu elemen peradaban yang paling kuat adalah unsur Persia, yang memasuki peradaban Islam sejak Dinasti Abbasiyah berdiri. Atas dasar inilah para sarjana sependapat untuk mengatakan bahwa peradaban Islam sesungguhnya merupakan “sintesa Persia-Islam” (A Perso-Islamic Synthesis). Lihat, Bagley, Introduction, hlm 9.

[2] Lihat, Philip K. Hitti, History of the Arabs, Jakarta, Serambi, 2010, hlm 606.

[3] Op Cit, hlm 15-16.

[4] Lihat, Hj. Muzaiyana, M.Fil. I, Sejarah dan Peradaban Islam – 2, Buku Perkuliahan Program S1 Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya, hlm 12.

[5] Lihat, Ali al-Sholabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Uthmaniyah, terj. Samson Rahmat, hlm 37.

[6] Op Cit, hlm 16.

[7] Lihat, Ali al-Sholabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Uthmaniyah, terj. Samson Rahmat, hlm 34.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*