Dinasti Utsmaniyah, Aura kebangkitan Turki Utsmani (3): al-Qanuni The Magnificent

in Sejarah

Last updated on May 29th, 2018 06:26 am

Aku, Sultan para sultan, penguasa atas semua penguasa, pemberi mahkota untuk kerajaan di muka bumi, bayangan Tuhan di muka bumi

–O–

 

Ketika Sulaiman al-Qanuni memerintah, dinasti Utsmaniyah mengalami masa yang paling gemilang. Masa kejayaan ini dicapai dengan menerima tongkat estafet perjuangan yang telah dimulai sejak seabad lalu, yaitu ketika ditaklukannya kota Konstantinopel oleh Sultan Muhammad al-Fatih pada 1453 M, dilanjutkan oleh Sultan Salim I yang telah berhasl menaklukkan Mesir Pada 1517 M, terus hingga masa pemerintahan al-Qanuni yang melakukan ekspansi ke daratan Eropa, Asia, dan Afrika Utara.[1]

Dinasti Utsmani menjadi negara adi kuasa yang kuat. Pada saat itu Eropa sedang mengalami kemunduran, dan dunia Islam di timur yaitu kerajaan Shafawi di Persia dan Mongol di India, tidak ada yang sebesar dan sekuat Kesultanan Utsmaniyah. Sulaiman al-Qanuni merasa telah menjadi seorang Sultan yang sangat kuat, hal tersebut dapat dilihat dari kata-kataya yang tertulis dalam surat untuk Raja Prancis I :[2]

“Aku, Sultan para sultan, penguasa atas semua penguasa, pemberi mahkota untuk kerajaan di muka bumi, bayangan Tuhan di muka bumi, sultan dan penguasa Laut Putih dan Laut Hitam, penguasa Rumelia, Anatolia, Karamania, Romawi, Zulkandria, Diaberkir, Kurdistan, Azerbaijan, Persia, Damaskus, Aleppo, Kairo, Mekkah, Madinah, Yerussalem dan seluruh kawasan Arab, Penguasa Yaman dan Wilayah lain yang telah ditaklukan oleh nenek moyang dan leluhur-leluhurku –semoga Tuhan menerangi kubur mereka- yang mulia dengan kekuasaan senjata mereka, dan yang kemuliaan Agustusku yang telah menetapkan sasaran untuk tebasan pedang dan pisau belatiku. Aku, Sultan Sulaiman Khan, putra Sultan Salim Khan, putra Sultan Bayazid Khan, ditunjukkan padamu, Francis, Raja Bangsa Prancis.”

Nama Sulaiman lebih popular dengan gelar al-Qanuni, merupakan Khalifah Turki Utsmani yang sukses membawa dinasti Utsmaniyah pada puncak kejayaan. Dalam peradaban bangsa Barat, ia dijuluki sebgai seorang pemimpin Muslim yang bergelar “Solomon the Magnificent” atau “Solomom the Great[3]

Sulaiman diperkirakan lahir pada tangal 6 November 1494 di Trabzon daerah Laut Hitam. Ibunya bernama Hafsa Hatun Sultan, wafat pada tahun 1534. Pada saat berusia 7 tahun, Sultan Sulaiman al-Qanuni dikirim ke sekolah Istana Topkapi di Konstantinopel untuk belajar sains, sejarah, teologi, sastra dan taktik militer. Kemudian diusia 17 tahun, Sulaiman ditunjuk sebagai Gubernur Kaffa (Theodosia), lalu ia ditunjuk sebagai Gubernur Sarukhan (Manisa) setelah sebelumnya menjabat sebentar di Edirne (kota yang terletak di sebelah Barat Turki). Ketika ayahnya Sultan Salim I meninggal dunia, Sulaiman kembali ke Konstantinopel untuk mengambil alih kekuasaan sang ayah menjadi Sultan Utsmaniyah ke-10.[4]

Pada tahun 1521, Sultan Sulaiman I atau al-Qanuni melakukan kampanye militer untuk menekan pemberontakan yang dilakukan oleh Gubernur Damaskus. Kemudian ia berhasil menguasai Beograd, kini ibu kota Yugoslavia, ia juga menguasai ibu kota Hongaria. Dengan memburuknya hubungan antara Hongaria dengan Kesultanan Utsmaniyah, Sulaiman melanjutkan kampanye militernya ke Eropa Timur pada 29 Agustus 1526 hingga mengalahkan Louis II Hongaria dalam pertempuran Mohacs. Sejak saat itu Hongaria mulai mengalami kemunduran dan Dinasti Utsmaniyah menjadi kekuatan utama di Eropa Timur. Kemudian pada tahun 1531, pasukan Sulaiman kembail meraih kemenangan dalam perang melawan Austria.[5]

Pertemputan Mohacs 1526, Sumber gambar https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Battle_of_Mohacs_1526.png

Setelah Sulaiman menstabilisasi pasaukan militernaya di Eropa, ia mulai merencanakan untuk menyerang Dinasti Safawiyah dari Persia. Tahun 1533, Sulaiman memerintahkan Wazir Agung Ibrahim Pasha untuk memimpin pasukan ke wilayah Asia. Pasukannya kemudian berhasil merebut kota kecil Biltis dan menguasai Tabriz, kota yang terletak di Iran bagian Barat Laut. Mengetahui kemenangan itu, kemudian Sulaiman bergabung dengan pasukan Ibrahim pada tahun 1534 dan melakukan peyerangan langsung ke Persia. Shah Tahmasp lebih memilih mengorbankan teritorinya dari pada berhadapan dengan Sulaiman. Tahun berikutnya Sulaiman berhasil memasuki Baghdad, pasukan Baghdad menyerahkan kota dan mengakui Sulaiman sebagai pemimpin dunia Muslim dan pengganti sah kekhalifahan Abbasiyah.[6]

Sulaiman bermaksud mengalahkan Shah Tahmasp untuk selamanya dan memulai kembali kampanye militernya pada tahun 1548-1549. Namun seperti sebelumnya Shah Tahmasp lebih memilih untuk menghindari konfrontasi dengan pasukan Utsmaniyah. Pasukan Utsmaniya mengalami kekalahan di Erzurum hingga kehilangan kekuasaan terhadap kota tersebut di tangan anak Shah. Hingga pada tahun 1553, Sulaiman memulai kembali kampanye militernya. Pasukan Shah kembali menggunakan taktik seperti sebelumnya dengan menghindari pasukan Sulaiman yang berakibat pada terjadinya kebuntuan (Stalemate). Tahun 1554, akhirnya sebuah perjanjian ditanda tangani yang mengakhiri kampanye militer Sultan Sulaiman di Asia. Dalam perjanjian itu Sulaiman juga mengembalikan Tabriz yang ditukar dengan kota Baghdad, sebagian Mesopotamia, mulut Sungai Efrat dan Tigris, serta sebagian Teluk Persia. Shah pun berjanji untuk tidak melakukan serangan apapun ke wilayah Utsmaniyah.[7]

Disamudra Hindia, Dengan kendali yang kuat atas Laut Merah, Sulaiman berhasil mengusir Portugis dan mengamankan serta menjaga jalur perdagangan dengan India hingga abad ke-16.[8] Portugis juga berhadapan dengan pasukan Utmaniyah saat melawan militer Kesultanan Aceh pada tahun 1564.[9](SI)

Bersambung..

Dinasti Utsmaniyah, Aura kebangkitan Turki Utsmani (4): al-Qanuni, Kebijakan Politik dan Reformasi Administrasi

Catatan kaki:

[1] Lihat, Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Ed. 1, Cet. 2, Jakarta, Amzah, 2010, hlm 193.

[2] Lihat, Roger B Merriman, Suleiman the Magnificent, Cambridge, Harvard University Press, 1944, hlm 130, lihat juga, Ratna sari, Sulaiman al-Qanuni, Sultan Terbesar Kerajaan Turki Usmani, dalam Thaqafiyyat Jurnal Ilmu Budaya, hlm 55.

[3] Lihat, Heri Ruslan, Sulaeman al-Qanuni, Pemimpin Agung dari Abad XVI, Khazanah, Republika, 09 Juni 2008, hlm 5.

[4] Lihat, Suleiman I, https://id.wikipedia.org/wiki/S%C3%BCleyman_I, diakses pada tanggal 8 April 2018.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Lihat, Ezel Kural Shaw, History of the Ottoman Empire and Modern Turkey, hlm 107.

[9] Op Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*