Energi Jihad Dalam Perang Sabil (Bagian I)

in Islam Nusantara

Last updated on October 20th, 2017 03:12 pm

Dalam sejarah perang melawan penjajah di Indonesia, nama Perang Sabil tentu tidak bisa ditinggalkan. Ini adalah perang paling heroik, dan paling panjang dalam sejarah perang di Indonesia. Perang ini terjadi di Aceh antara tahun 1873 sampai 1912, dengan melibatkan semua unsur masyarakat mulai dari sultan, ulama, hingga masyarakat. Disebut Perang Sabil, karena ruh perjuangan masyarakat Aceh pada waktu itu adalah “jihad fi sabilillah”.  Para ulama adalah center of gravity dari skema perjuangan ini. Mereka inilah yang mengobarkan semangat masyarakat Aceh di setiap khotbah, ceramah dan pengajian di masjid-masjid. Kumpulan ceramah dan khotbah ini kemudian digubah dalam bentuk hikayat oleh Tgk. Chik Kutakarang, yang kemudian dikenal dengan “Hikayat Perang Sabil”.

Dalam perang melawan penjajahan Belanda, Hikayat Perang Sabil ini menjadi sumber energi dalam jiwa masyarakat. Ia dibaca secara berulang-ulang di masjid, rumah, hingga di tempat pengungsian dan persembunyian. Menurut Imran T. Abdullah dalam sebuah jurnalnya, “Kumulatif masalah yang dikembangkan oleh para ulama di dalam HPS (Hikayat Perang Sabil ) sesungguhnya bertolak dari tuntunan ajaran agama Islam ditambah dengan pemaham yang mendalam terhadap tradisi adat-budaya dan kehidupan sosial masyarakat Aceh pada masa itu. Karena itu, titik tolak awal yang dibahas dalam HPS adalah penanaman kayakinan agama, fanatisme. Fanatisme ini lebih lanjut dipertentangkan dengan orang kafir sebagai musuh agama dan masyarakat Islam yang hendak menguasai negeri. Dengan demikian, pernyataan perang sabil terhadap agresi Belanda mempunyai landasan yang kuat dan mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Pilihan terhadap bentuk hikayat dalam menyosialisasikan prinsip perang sabil di samping khotbah yang disampaikan setiap Jumat, ataupun tabligh di berbagai tempat yang dikunjungi, menyebabkannya menjadi genre ofisial dalam tradisi sastra Aceh yang penikmatan lisannya sangat digemari. Ulama menjadi tokoh kunci dalam menggerakkan perang melawan Belanda, maka wajarlah bila Snouck Hurgronje memandang ulama sebagai musuh utama yang harus dihabisi pertama.”[1]

Perang Sabil di Aceh pecah (Maret 1873) tidak lama setelah Traktat Sumatra (1 November 1871) ditandatangani antara Belanda dan Inggris untuk mengganti Traktat London (1824) yang menghormati kedaulatan Kerajaan Aceh. [2] Traktat yang baru disahkan itu memberikan peluang besar bagi Belanda untuk menguasai Aceh, sebagaimana dinyatakan dalam pasal 1, “Inggris menghapus perhatiannya atas perluasan kekuasaan Belanda di mana pun di Pulau Sumatra”. Ketentuan pasal ini secara langsung membuka kesempatan bagi Belanda untuk memperluas wilayah jajahannya tanpa batas di Sumatera. Dan agresi ke Sumatera ini, dimulai dari Aceh.

Agresi pertama Belanda ke Aceh terjadi pada Maret 1873, dibawah komando Major Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler. Setelah berhari-hari memborbardir Kutaraja (Banda Aceh), dan tidak mendapatkan perwanan yang cukup berarti di laut, pada bulan April 1873, Köhler memerintahkan untuk menerjunkan pasukannya ke darat serta menduduki Kutaraja. Tapi di luar dugaan pasukan Belanda, di darat pasukan Aceh sudah berkumpul dalam jumlah sangat besar, dan memiliki kemampuan perang darat yang sangat baik. Akhirnya serangan pertama Belanda ini kandas, dengan menewaskan Köhler beserta 80 orang pasukannya. Agresi pertama ini menelan kerugian sangat besar di pihak Belanda, termasuk menurunkan moral pasukan secara siginifikan.

Namun hanya berselang beberapa bulan kemudian (Desember 1873), agresi pasukan Belanda kedua berlangsung. Kali ini di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten yang membawa sekitar 13.000 pasukan. Tidak berbeda dari sebelumnya, pasukan Belanda membombardir Kutaraja dari laut selama berhari. Namun kali ini, wabah kolera meluas di Kutaraja, yang akhirnya membuat Sultan Mahmud Syah mengungsi ke Pagar Ayer dan meninggal di sana. Melihat ini, Belanda mengambil kesempatan untuk menduduki Kutaraja, dan akhirnya berhasil. Namun yang mereka tidak menyangka, jatuhnya Kutaraja tidak serta merta membuat mereka menaklukan rakyat Aceh. Serangan demi serangan dalam bentuk kecil atau besar terus berlangsung tanpa henti ke semua instalasi kolonial dan pasukan Belanda.

Sejarah mencatat, semangat juang tanpa batas ini diilhami oleh nilai-nilai agama, yang dihembuskan oleh para ulama ke tengah-tengah masyarakat. Fatwa Jihad fi sabilillah, menjadi jargon yang menggerakkan masyarakat hingga ke pedalaman. Demikian masifnya seruan jihad ini, hingga level keimanan masyarakat masuk ke titik fanatik terhadap agama, dan begitu membenci kolonial Belanda. Snouck Hurgronje yang pada saat itu menjabat sebagai penasihat utama mengenai masalah ketimuran dalam Pemerintahan Hindia Belanda, dalam catatatnnya pada tahun 1906 mengatakan, bahwa orang Aceh sangat fanatik pada agamanya. Mereka membenci atau sekurang-kurangnya rasa meremehkan yang mendalam terhadap semua orang yang bukan Islam, yang dapat dikatakan sebagai kebencian terhadap kafir.[3]

Sebagaimana sejarah mencatat, Perang Aceh atau Perang Sabil, merupakan perang yang paling sulit di menangkan oleh Belanda dalam sejarah kolonialisme. Perang ini telah menguras kas kerajaan Belanda begitu besar. E.H. Kossmann menyebutkan 15 hingga 20 juta Gunden pertahun dikeluarkan oleh kerajaan Belanda untuk menghadapi Perang Sabil ini. Sebuah angka yang fantastis pada masa itu, dan ini hampir membuat bangkrut Kerajaan Belanda, bila Snouck Hurgronje tidak segera menemukan jalan keluar untuk menjinakkan sumber kekuatan rakyat Aceh pada waktu itu. (AL)

Bersambung ke:

Energi Jihad Dalam Perang Sabil (Bagian 2)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Imran T. Abdullah, Ulama dan Hikayat Perang Sabil Dalam Perang Belanda di Aceh, https://journal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/696/542, diakses 27 September 2017

[2] Sebagai bagian dari wilayah protektorat Dinasti Otoman sejak abad ke 16, Aceh mendapatkan jaminan kemerdekaan dari Traktat London ini. Namun ketika terusan Suez dibuka pada 1869, yang menyebabkan terjadi revolusi jalur perdangan dunia, Inggris bermaksud menukar Sumatera dengan kekuasan Belanda di Afrika. Perjanjian antara Inggris-Belanda ini dikenal dengan Traktat Sumatera, yang secara otomatis membatalkan semua perjanjian yang tersebut pada Traktat London. Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Aceh_War#cite_ref-Ricklefs143_9-0, diakses 27 September 2017

[3] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*