Gebang Tinatar: Masterplan Peradaban Pesantren Nusantara(2)

in Islam Nusantara

“Kiai Ageng Mohammad Besari dan para pendahulu boleh wafat, tapi amalan mereka menyejukkan persemaiannya, dan mengibaskan sepoi kenikmatan dalam kehidupan setelah kematian. Mereka meletakkan fondasi-fondasi kesalehan bagi santri dan masyarakat melalui teladan hosrizontal dan melangitkan zikir-zikir vertikal. Kehidupan masyarakat tanpa agama kini berubah menjadi sublim dalam pelukan ruhani yang panjang. Menggelorakan malam-malam dengan bacaan Al-Quran dan rapalan-rapalan Ilahi, serta menghidupkan hadis Nabi lewat perilaku keseharian.”

—Ο—

 

Sebagai salah satu komponen penting dari pesantren, masjid merupakan kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi oleh seorang pengasuh pesantren. Selain sebagai tempat shalat lima waktu secara berjamaah, masjid menjadi aula utama untuk menyampaikan wejangan-wejangan kiai yang bersifat umum, baik kepada santri maupun masyarakat luas. Di masjid itu pula, biasanya seorang kiai memberikan ijazah-ijazah atau amalan-amalan umum yang kemudian diamalkan oleh para santri dan masyarakat. Masjid di dalam area pesantren juga menjadi tempat kajian dan musyawarah dalam pembahasan kitab-kitab kuning, sekaligus tempat berbagai kegiatan para santri lainnya.

Pada tahun 1742, Kiai Mohammad Besari diangkat menjadi Pengageng Pondok Pesantren dan Lurah Perdikan, lalu beralih nama menjadi Kiai Ageng Kasan Besari I. Seiring kebutuhan masjid yang mendesak, Kiai Ageng Mohammad Besari pun segera mendirikan masjid yang pertama. Berlokasi di daerah Coper dengan ukuran yang relatif kecil. Akan tetapi, santri-santri yang datang semakin membludak, masjid itu pun tidak mampu lagi menampung santri berjamaah dan mengkaji ragam keilmuan. Karena itu, ia berencana mendirikan masjid yang lebih besar, sedangkan masjid lama yang berlokasi di Coper diamanatkan kepada putranya, Kiai Ishak.

Kemudian, pada tahun 1188 H bertepatan dengan 1774 M dimulailah pembangunan masjid yang lebih besar di Tegalsari. Berdasarkan data arkeologis, masjid Tegalsari dibangun di atas puing-puing candi. Unsur bangunan candi yang masih ada berupa dua batu (bancik) ambang pintu candi yang salah satunya tertera angka tahun namun tidak terbaca. Sekarang batu ambang pintu candi tersebut dijadikan bancik (tangga masuk) menuju masjid Tegalsari.[1]

Masjid Tegalsari, masjid kuno yang dibangun Kyai Ageng Muhammad Besari di Ponorogo. Sumber gambar: singgahkemasjid.blogspot.com

Jika di halaman masjid Tegalsari ditemukan batu ambang pintu (dorpel) candi, kemungkinan besar sebelum ada masjid telah ada bangunan candi yang pernah berdiri di Tegalsari. Hal ini sebagaimana lazim ditemukan di daerah Jawa Timur, di mana sebelum dijadikan masjid pada periode berikutnya, tempat-tempat tersebut semula adalah bangunan candi, seperti di Kompleks Masjid Sunan Ampel. Ada juga yang semula adalah bangunan candi, kemudian berubah menjadi kompleks makam, misalnya di Kompleks Makam Astono Gedong, Desa Sukodono, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Tulungagung. Di bawah kompleks makam ini semula didapati bangunan candi dari masa Singasari.[2]

Batu bancik dengan ukuran 1 X 0,6 m yang berada di ambang pintu dengan posisi terbalik menyiratkan pergantian era dari Majapahit Hindu beralih ke masa Islam. Ini juga menandakan bahwa masyarakat yang semuloa menganut ajaran Hindu di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit kini berada di dalam kendali Islam dengan ajaran yang disebarluaskan oleh Kiai Ageng Muhammad Besari.

Bisa jadi hal ini didasari atas pemahaman bahwa Tanah Suci (sakral), tanah yang dulu digunakan sebagai candi, dianggap tanah yang suci dan dipercaya memiliki kekuatan yang luar biasa. Di tanah tersebut memancar sinar yang alami yang keluar dari dalam tanah ke atas. Pancaran itu berwarna biru layaknya lidah api. Tidak bisa dilihat dengan mata telanjang kecuali oleh orang-orang yang linuwih atau mempunyai kemampuan supranatural.[3]

Sementara itu, kubah masjid terbuat dari tanah liat atau sejenis gerabah dan masih terjaga keasliannya hingga sekarang. Menurut cerita, pada jaman Belanda kubah ini pernah di tembak berkali-kali namun tidak rusak sama sekali. Di bagian luar terdapat serambi dengan 12 tiang penyangga yang berjajar di kanan dan kiri bangunan. Hal ini menyiratkan rukun Iman yang menyangga kekokohan bangunan masjid sebagai representasi kehadiran penjagaan manusia yang berada di dalam masjid.

Selanjutnya, atap masjid berbentuk tajug tumpang berjumlah tiga. Ini mengandung arti tiga pilar kekuatan dalam pribadi seorang muslim; Iman, Islam, dan Ikhsan. Atau, menyiratkan makna tiga tahapan mencapai maqam tertinggi dalam dalam Islam, yaitu Syariat, Hakikat, dan Makrifat. Kemudian terdapat pagar dan gapura yang juga memiliki makna simbolik. Bentuk pagar yang cembung dan menjorok keluar mengisyaratkan sebuah pencegahan atas berbagai peristiwa yang akan terjadi sebelumnya. Atau, sebagai wujud perlindungan dari Allah bagi umat Islam yang sedang beribadah.[4]

Sementara itu, gapura sebagai pintu masuk para jamaah terletak tepat di depan pintu masjid. Di atas gapura tersebut tertulis “Masjid Kyai Ageng Besari” dengan dominasi warnai hijau tua sebagai simbolisme warna Islam. Dilihat dari aspek kebahasaan, kata gapura merupakan serapan dari bahasa Jawa “Gapuro” yang juga adopsi bahasa Arab ghafura, yang berarti pengampunan. Ini mengindikasikan, sejauh apa pun seorang dalam bergelimang dosa dan kesalahan, ketika ia masuk ke dalam Islam sebagai totalitas dirinya dan meminta pengampunan kepada Allah swt. maka ia akan mendapatkan pengampunan. Bisa juga, siapa yang masuk masjid dengan niat tulus mendekatkan diri dan memohon ampunan, dosa-dosanya akan diampuni. Bukankah Allah swt. adalah Dzat yang Maha Pengampun? Sehingga tidak ada dosa yang tak diampuni oleh Allah swt.

Memasuki bagian dalam masjid, kita akan disuguhi interior masjid yang mencirikan masjid-masijid kuno. Sejuk dan tenang, ditambah suasana sakral lantunan lirih orang mengaji seakan membawa kita ke masa silam; sunyi dan menghanyutkan. Terdapat empat buah saka guru pada tengah, dilingkupi dengan 12 tiang sakarawa. Kemudian tiang-tiang bagian pinggir ada 24 saka pinggir penyangga atap tajug yang dipasang dengan sistem ceblokan. Konon, jumlah tersebut menimbolkan filosofi dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa.

Di bagian dalam masjid juga terdapat mihrab sebagai tempat imam dan memposisikan mimbar di samping mihrab untuk khutbah. Seperti masjid-masjid bersejarah lainnya, mihrab di Masjid Tegalsari membentuk lorong, yang mengandung makna perpindahan dari alam dunia ke alam akhirat. Alam yang terang benderang menuju alam sunyi dan gelap tanpa cahaya eksternal, melainkan digantikan dengan cahaya internal yang menyala-nyala dan tak pernah padam.

Tepat di depan mihrab terdapat gapura yang terbuat dari kayu ukiran bercorak dedaunan yang sama dengan ukiran gerbang makam dari batu bata khas candi. Tepat di sampingnya sebuah mimbar untuk berkhutbah yang tertulis angka tahun 1700 dengan ukiran daun-daun. Berbentuk kursi singgasana dilengkapi tempat duduk dan sebuah tongkat yang menambah kekhasan dari masjid-masjid kuno. Singgasana sebagai tempat duduk khatib melambangkan kehormatan bagi orang-orang yang memiliki otoritas untuk menyampaikan kalimat-kalimat suci Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad saw. Mimbar ini juga melambangkan kebesaran dan kewibawaan seorang khatib, layaknya seorang raja dunia yang mewejang kepada rakyatnya tentang kehidupan dunia dan akhirat.

Pada mihrab tertulis angka tahun 1700 dengan pahatan daun-daunan melambangkan waktu pembuatan sekaligus menandakan ketentraman, kesuburan, dan kejayaan umat Islam dalam melaksanakan ibadah dan menjalani kehidupan dunia dan akhirat. Sementara dua buah lampu berbentuk lonceng, menyiratkan sebuah alat yang dapat menghasilkan bunyi sebagai tanda bahwa urusan manusia dengan Tuhan adalah yang paling utama untuk dilakukan. Dengan kata lain, memberikan ilustrasi untuk lebih memperhatikan waktu-waktu shalat lima waktu. Dan Lampu yang memancarkan sinar atau cahaya berarti cahaya Tuhan yang menyinari dunia ini, sehingga selayaknya manusia selalu rindu dan berharap akan kehadiran cahaya kasih sayang dari Tuhan.[5]

Di sebelah barat merupakan bangunan makam. Pintu gerbang makam khas bangunan candi sejenis ini dapat kita temukan ketika memasuki kompleks pemakaman Sunan Kudus atau Raden Jakfar Shadiq di Kudus, Jawa Tengah. Di dalamnya ada dua bagian makam besar, dan selebihnya di pelataran adalah makam-makam keluarga dengan bentuk kijing yang relatif lebih kecil.

Sehari-sehari masjid tersebut ramai didatangi para ziarah dari berbagai daerah, atau orang-orang yang sekadar melintas dan shalat berjamaah. Puncak keramaian terjadi pada malam Jumat Kliwon untuk mengikuti istighasah dan berziarah makam dengan jumlah pengunjung mencapai ribuan. Pada bulan Ramadhan, terutama pada tanggal ganjil 21, 23, 27 waktu itikaf (Qiyamul lail Ramadan) setiap malam ganjil pada akhir bulan Ramadan. Di lain kesempatan, terutama pada bulan-bulan Muharram diadakan pula shalat sunah Rajab pada malam Jumat pertama setelah Magrib bulan Rajab, shalat Ied pada Syawal/ dan Dzulhijjah, dan pada momen tahunan, yakni Tahlil Kubra dan Ambengan Peringatan Haul Kiai Ageng Mohammad Besari pada 13 Selo selepas Isya.

Nuansa sakral yang kita temukan di sini tidak terlepas dari para pemangku yang menancapkan Islam dengan tulus dan ikhlas. Kiai Ageng Mohammad Besari dan para pendahulu boleh wafat, tapi amalan mereka menyejukkan persemaiannya, dan mengibaskan sepoi kenikmatan dalam kehidupan setelah kematian. Mereka meletakkan fondasi-fondasi kesalehan bagi masyarakat melalui teladan hosrizontal dan melangitkan zikir-zikir vertikal. Kehidupan masyarakat tanpa agama kini berubah menjadi sublim dalam pelukan ruhani yang panjang. Menggelorakan malam-malam dengan bacaan Al-Quran dan rapalan-rapalan Ilahi, serta menghidupkan hadis Nabi lewat perilaku keseharian.[KHI]

Bersambung…

Sebelumnya:

Gebang Tinatar: Masterplan Peradaban Pesantren (1)

Catatan kaki:

[1] Haris Daryono Ali Haji, Menggali Pemerintahan Negeri Doho: Dari Majapahit Menuju Pondok Pesantren (Yogyakarta: Elmatera, 2016), hlm. 209

[2]Ibid., hlm. 210

[3]Ibid., hlm. 210

[4]Hadi Kusnanto dan Yudi Hartono, “Masjid Tegalsari Jetis Ponorogo (Makna Simbolik dan Potensinya Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Lokal)” dalam Gulawentah: Jurnal Studi Sosial, Vol.2, No. 1, Juli 2017, hlm. 45

[5] Ibid.,