Ibn Khaldun (7): Akhir Hayat dan Warisan Intelektual

in Tokoh

Ia mengagumkan karena ke-khas-annya dan kecerdasannya, serta kedalaman wawasan dan keutuhan pemahamannya. Ia sosok yang istimawa, suka menyendiri dan unik di antara orang-orang seagamanya dan sezamannya di bidang filsafat sejarah, sebagaimana sosok Dente di ranah puisi atau Roger di ranah sains.”

—Ο—

 

Muqaddimah ditulis oleh Ibn Khaldun selama empat tahun. Dalam autobiografinya, ia pun terkejut dengan hasil kerjanya. Ia berkata, “saya menyelesaikan pendahuluannya dengan cara yang tidak biasa (al-nahw al-gharib). Saya terkondisikan oleh keterpencilan itu.”

Setelah menyelesaikan muqaddimah nya, mau tak mau ia harus keluar dari benteng Qal’at Ibn Salama. Karena untuk menulis jilid selanjutnya ia membutuhkan bahan-bahan referensi yang tidak mungkin ditemukan di tempatnya sekarang. Dan bahan-bahan yang dibutuhkannya itu banyak berada di Tunisia. Maka apa boleh buat, ia pun harus berdamai dengan pemerintah setempat dan menunjukkan dirinya ke publik. Mendengar kedatangan Ibn Khaldun ke Tunisia, Sultan al-Abbas yang ketika itu memerintah, segera menerimanya, dan berkonsultasi dengannya tentang masalah Negara.

Tapi lama kelamaan, konsultasi yang berlangsung intens tersebut mulai masuk ke wilayah-wilayah politik praktis, yang sudah ingin ia tinggalkan. Sultanpun mulai mengajaknya untuk ikut terlibat dalam urusan-urusan kenegaraan, dan ini yang sangat dihindarinya. Secepatnya ia menyelesaikan penelitian tentang sejarah bangsa Barber dan Zanata dengan refensi yang kaya di Tunisia. Setelah selesai, dengan dalih berangkat ke tanah suci, Ibn Khaldun pun meninggalkan Tunisia sendirian dengan meninggalkan anak dan istrinya.

Dalam pengembaraannya, akhirnya ia berhenti di Kairo, Mesir.  Baginya kota Kairo demikian menakjubkan. Ia menyebutnya sebagai “Ibu Kota dunia”, “taman alam semesta”, “Istana Islam, sekolah-sekolah dan biara tampak di cakrawala, bulan-bulan dan matahari-matahari ilmuwannya bersinar.” Tapi yang jauh lebih mengejutkan, para sarjana dan cendikiawan Mesir ternyata sudah mendengar dan mengagumi karyanya.

Di Mesir, Ibn Khaldun langsung disambut dengan tangan terbuka oleh penguasa setempat. Sultan al-Tahir al-Barquq, penguasa Mesir kala itu, memberikan jabatan yang menggiurkan dengan gaji yang tinggi, yaitu sebagai hakim mahzab Maliki. Lagi-lagi ia diberikan jabatan yang sebenarnya enggan ia terima, mengingat jabatan ini terlalu tinggi, dan rentan dengan gesekan politik.

Di Tunisia, tersiar kabar bahwa anak dan Istri Ibn Khaldun di tahan oleh pemerintah setempat. Sultan Al-Abbas menginginkan Ibn Khaldun kembali ke Tunisia. Namun atas lobi dari penguasa Mesir, akhirnya anak dan istrinya di bebaskan. Tapi tragedi terjadi. Dalam perjalan ke Mesir, kapal yang ditumpangi oleh anak dan istrinya tenggelam, tidak ada dari keluarganya yang selamat. Lagi-lagi, di masa senjanya, Ibn Khaldun harus menjalani hidup sebatang kara.

Di Mesir, iklim keberuntungan Ibn Khaldun juga mulai mengalami pancaroba. Sultan al-Tahir al-Barquq digulingkan dari singgasananya. Meskipun akhirnya beliau dapat mengambil kembali hak kekuasaanya, tapi situasi sudah banyak berubah. Berkali-kali Ibn Khaldun mengalami intrik dari pesaingnya, dan berkali-kali pula ia kembali berhasil meraih kembali jabatannya. Sementara di Asia, tersiar kabar bahwa salah satu ekspedisi militer paling berdarah yang dipimpin oleh Timur Leng sudah mencapai Allepo, Suriah.

Mendengar nama Timur Leng, Mesir siaga satu. Dalam situasi ini, Sultan tidak memiliki sosok yang lebih kompeten untuk diajak berbicara selain Ibn Khaldun. Akhirnya Sultan memutuskan untuk mendatangi Timur Leng di Suriah, dan pecahlah perang di sana. Di tengah pertempuran, Sultan tiba-tiba memutuskan kembali ke Mesir, karena ia mengendus adanya upaya kudeta terhadap dirinya. Maka jadilah kendali nasib sekarang ada di tangan Ibn Khaldun.

Dalam kondisi seperti ini, Ibn Khaldun akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Timur Leng secara pribadi. Menurut catatan Ibn Khaldun, pertemuan ini berlangsung lama. Mereka membicarakan tentang berbagai hal, mulai dari sejarah, dan perspektif Ibn Khaldun terhadapnya. Mendengar pemaparan Ibn Khaldun, Timur Leng terkesan, dan memintanya menuliskan tentang sejarah Afrika Utara. Permintaan ini kemudian dipenuhi oleh Ibn Khaldun. Kelak sejarah tentang Afrika Utara ini diserahkannya dalam bentuk sebelas buku kecil.

Meskipun pada akhirnya, Damaskus jatuh ke tangan Timur Leng, tapi hubungan kedua tokoh besar ini tetap berlangsung baik. Sebelum meninggalkan Suriah, Ibn Khaldun menyerahkan beberapa hadiah kepada Timur Leng, dan meminta jaminan keselamatan para ilmuwan dan birokrat. Setelah menyelesaikan semua urusannya di Suriah, Ibn Khaldun kembali ke Mesir dan menduduki jabatannya sebagai hakim mahzab Maliki. Tapi tak lama setelah menduduki kembali jabatannya, pada tanggal 26 Ramadhan 808 H atau bertepatan dengan 16 Maret 1406, ilmuwan besar ini berpulang menghadap Sang Pencipta. Ia wafat pada usia 74 tahun, dan dikebumikan di tempat pemakaman Sufi di luar Bab al-Nasr.

Ketika wafatnya, Ibn Khaldun lebih dikenal sebagai seorang politisi berbakat, ketimbang ilmuwan berpengaruh. Namanya sebagai politisi kesohor di seluruh pesisir Mediterania. Tapi pijar-pijar pemikirannya hanya dianggap angin lalu. Kuliah-kuliahnya selalu penuh, tapi ringkih pengaruh. Ia tidak memiliki pengikut, ataupun murid pada masanya.

Tapi Allah SWT memeram karyanya di arus waktu selama berabad-abad. Hingga pada abad ke 17 M, pemikiran Ibn Khaldun seperti bangkit dari kuburnya dan mengguncang kesadaran ilmuwan baik di Timur dan di Barat. Adalah Katib Celebi (1657 M) seorang ilmuwan Ottoman yang menyajikan sejarah Ottoman dalam kerangka berpikir Ibn Khaldun tentang siklus kebangkitan dan kemerosotan negara. Setelah Katib Celebi, satu persatu ilmuwan Muslim mulai mengikuti kerangka analisis Ibn Khaldun, hingga turut juga mempengaruhi pemikiran para pembaharu seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad ‘Abduh, dan Rasyid Rida.

Di Eropa, pemikiran Ibn Khaldun pertama kali dikenal pada tahun 1636, melalui sebuah terjemahan Latin dari biografi Tamerlane (Timur Leng) karya Ibn ‘Arabasyah berjudul Fi Akhbar Taimur ‘Aja’ib al Maqdur (Viate en rerum gastarum Timuri, qui vulgo Tamerlane dicitur, Historia). Di dalam karya tersebut Ibn ‘Arabasyah merujuk pada pertemuan bersejarah antara Ibn Khaldun dengan Timur Leng.

60 tahun kemudian, seorang sarjana barat bernama Barthelemy d’Herbelot menulis biografi Ibn Khaldun, yang kebanyakan mengutip dari karya Katib Celebi, Kasyf al-Zhunun. Seratus tahun kemudian, atau sekitar abad 19 M, karya-karya Ibn Khaldun mulai diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di Eropa.

Harus diakui, dalam perkembangannya, karya-karya Ibn Khaldun lebih diminati di Eropa daripada di dunia Islam. Sejak pertama kali diterjemahkan, karya-karya Ibn Khaldun menjadi pembicara luas di kalangan ilmuwan dan sejarawan Eropa. Ratusan naskah ilmiah lahir dari tangan-tangan penulis barat, mulai dari yang mengomentari, mengkritik, hingga memperluas cakrawala pemikiran Ibn Khaldun.

Pada tahap selanjutnya, pemikiran-pemikiran Ibn Khaldun menjadi semacam kaidah ilmiah di berbagai bidang keilmuan, seperti sosiologi, politik dan khususnya sejarah. Melalui kaidah ilmiah yang diwariskan Ibn Khaldun, kegairahan bangsa Eropa menulis sejarahnya, dan sejarah dunia menjadi tak terbendung. Hingga hari ini, ilmuwan barat memperlakukan Ibn Khaldun layaknya sebagai bapak intelektual mereka sendiri. Pribadinya yang otentik, dan karyanya yang orisinil, telah melahirkan kekaguman tersendiri di mata pada ilmuwan barat. Arnold Toynbee memuji karya Ibn Khaldun sebagai “undoubtedly the greatest work of its kind that has ever been created by any time or place.”

Sebagai penutup tulisan ini, menarik untuk menyimak komentar Robert Flint tentang sosok Ibn Khaldun dalam bukunya berjudul History of the Philosophy of History (1893), yang dikutip oleh Syed Farid:

Tentang ilmu atau filsafat sejarah, literatur Arab dihiasi oleh sebuah nama yang paling cemerlang. Dunia Kristen, baik era klasik maupun Abad Pertengahan, tidak dapat memperlihatkan sosok yang nyaris sama cemerlangnya. Ibn Khaldun (1332-1406) memang seorang sejarawan sejati yang mengungguli bahkan semua penulis Arab. Tetapi, sebagai seorang penulis teori sejarah, ia tak ada bandingannya dengan penulis segala zaman atau negeri hingga Vico muncul lebih dari 300 tahun setelahnya. Plato, Aristoteles dan Agustinus bukan tandingannya, dan semua yang lain tidak layak disandingkan bersamanya. Ia mengagumkan karena ke-khas-annya dan kecerdasannya, serta kedalaman wawasan dan keutuhan pemahamannya. Ia sosok yang istimawa, suka menyendiri dan unik di antara orang-orang seagamanya dan sezamannya di bidang filsafat sejarah, sebagaimana sosok Dente di ranah puisi atau Roger di ranah sains. Para sejarawan Arab memang sudah mengumpulkan banyak materi yang dapat digunakan, tapi hanya dia sendiri yang sanggup menggunakannya.” (AL)

Selesai

Sebelumnya:

Ibn Khaldun (5): Otentisitas Karya (2)

Catatan :

Artikel ini merupakan saduran bebas dari buku karya Syed Farid Alatas, “Ibn Khaldun; Biografi Intelektual dan Pemikiran Sang Pelopor Sosiologi”, Bandung, Mizan, 2013 (Hal. 23-29, dan hal. 133-142)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*