Ibnu Bathuthah, Penjelajah Terbesar Sepanjang Masa (13): Imam Mahdi

in Travel

Last updated on February 12th, 2018 12:57 pm

“Mereka berseru, ‘atas nama Allah, wahai sang Imam zaman, atas nama Allah, datanglah! Korupsi merajalela, dan ketidakadilan tersebar luas!’”

–O–

Setelah bertemu orang suci dan menziarahi makam-makam suci di Shiraz, Ibnu Bathuthah hendak melanjutkan perjalanan ke Baghdad. Namun sebelum sampai ke sana, dia harus melewati dulu beberapa kota, yaitu Kazarun, Zaydan, Huwayza, dan Kufah. Di masa Ibnu Bathuthah melakukan perjalanan di tanah Persia dan Irak (1326-1327 M), kota yang disebut terakhir tadi adalah adalah basis bagi pemeluk Islam Syiah.[1]

Dulunya Kufah adalah merupakan tempat tinggal para Sahabat Nabi dan ulama, dan teolog.[2] Selain itu, Kufah juga pernah menjadi Ibu Kota pemerintahan Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4 umat Islam, sekaligus Imam pertama bagi Madzhab Syiah. Ali beserta keluarga dan pengikutnya pindah ke Kufah pada tahun 36 Hijriyah, dan kemudian menjadikan kota tersebut sebagai pusat pemerintahannya yang sebelumnya berada di Madinah.[3]

Dalam banyak kisah, keberadaan Imam Ali[4] di Kufah sangat membekas bagi penduduknya, di mana mereka melihat langsung keluhuran ilmu dan akhlak dari sang Imam beserta keturunannya, yakni Hasan dan Husain, yang kelak akan menjadi Imam selanjutnya bagi Syiah.[5] Menurut Syed Husain M. Jafri, Kufah adalah tempat pertama di mana Syiah menancapkan fondasi keyakinan dan pergerakannya ke dalam level baru yang lebih massif dan sistematis, yakni setelah kedatangan Khalifah ke-empat, Imam Ali bin Abi Thalib.[6]

Di daerah sekitar Kufah, Ibnu Bathuthah akan menziarahi tempat-tempat keramat bagi pengikut Islam Syiah. Meskipun dulunya Kufah pernah menjadi daerah sangat maju, namun ketika Ibnu Bathuthah datang, Kufah dalam kondisi hancur berantakan karena telah diserang oleh segerombalan pasukan Arab nomaden.[7]

Besok paginya Ibnu Bathuthah tiba di Hilla, “penduduk Hilla seluruhnya adalah Syiah madzhab dua belas Imam”, kata Ibnu Bathuthah. Di dekat pusat perdagangan di Hilla terdapat sebuah masjid yang pintunya ditutup oleh tirai sutra. Penduduk setempat meyakini bahwa tempat suci tersebut merupakan tempat “bersemayam” Imam zaman atau Imam Mahdi.[8]

“Setiap sore sebelum matahari terbenam, seratus penduduk kota, melakukan kebiasaan mereka, pergi dengan senjata dan pedang yang teracung ke Gubernur kota dan menerima seekor kuda atau keledai yang sudah dilengkapi sadel dan tali kekang darinya. Dengan ini, mereka berangkat untuk melakukan prosesi, dengan gendang bertalu dan terompet dan serompet dibunyikan, lima puluh di antara mereka berbaris di depan, dan lima puluh lainnya di belakang, sementara yang lainnya berjalan dari sebelah kanan dan kiri menuju persemayaman Imam zaman,” kata Ibnu Bathuthah.[9]

Setelahnya, penduduk kota berhenti di depan pintu masjid, kemudian mereka memanggil Imam zaman, “atas nama Allah, wahai sang Imam zaman, atas nama Allah, datanglah! Korupsi merajalela, dan ketidakadilan tersebar luas! Inilah saatnya kedatanganmu, bahwa dengan Tuhanmu yang haq  dapat dipisahkan dari yang bathil,” seru mereka. Selanjutnya mereka melanjutkan aktivitas tersebut sampai tiba waktunya shalat Maghrib.[10]

Penduduk setempat meyakini bahwa sang Imam zaman atau al-Mahdi yang memiliki nama Muhammad bin Hasan al-Askari memasuki masjid tersebut dan kemudian menghilang, dan suatu saat akan muncul kembali dari tempat tersebut.[11] Kejadian menghilangnya al-Mahdi oleh para pengikut Islam Syiah disebut dengan masa ghaib. Tujuh puluh tahun pertama masa ghaib disebut ghaib kecil karena sang Imam zaman secara spiritual masih berkomunikasi dengan empat orang wakil pilihannya. Setelah tujuh puluh tahun, tidak ada lagi komunikasi dengan perwakilan, dan masa itu disebut dengan masa ghaib besar.[12]

Di dalam agama Islam, baik madzhab Sunni maupun Syiah, keduanya sama-sama meyakini akan kehadiran Imam Mahdi suatu saat nanti. Di jalur Sunni hadist tentang Imam Mahdi mencapai 400 hadist, sementara apabila digabungkan dari jalur Sunni dan Syiah, hadist tentang Imam Mahdi mencapai 6.000 hadist.[13] Ibnu Bathuthah sendiri, dia tidak pernah mengatakan dirinya menganut madzhab apa, namun selama penjelajahannya dia bersahabat dan ramah dengan siapapun. Perihal ziarah, dia juga mengunjungi makam-makam orang suci dari mazdhab mana pun, baik Sunni maupun Syiah.

Suasana ziarah di Karbala di masa kini. Photo: euronews

Dari Hilla, Ibnu Bathuthah berangkat menuju Karbala, di sana dia berziarah ke makam Husain bin Ali, putra dari Ali bin Abi Thalib yang tewas terbunuh di lokasi tersebut. “Lingkungan makam dan seremoni ziarahnya menyerupai makam Ali di Najaf,” kata Ibnu Bathuthah.[14] (PH)

Bersambung ke:

Ibnu Bathuthah, Penjelajah Terbesar Sepanjang Masa (14): Baghdad

Sebelumnya:

Ibnu Bathuthah, Penjelajah Terbesar Sepanjang Masa (12): Syekh Majd ad-Din Ismail dan Syekh Abdallah ibnu Khafif

Catatan Kaki:

[1] Ibn Battuta, Travels In Asia And Africa 1325-1354, (London: Routledge & Kegan Paul Ltd, Broadway House, Carter Lane; 1929), diterjemahkan dari bahasa Arab ke Inggris oleh H.A.R Gibb, hlm 97.

[2] Ibid.

[3] Syed Husain M. Jafri, The Origins and Early Development of Shi’a Islam (Stacey Publishing: London, 2007), chapter 5.

[4] Ali bin Abi Thalib adalah satu-satunya Khulafaur Rasyidin yang mendapat gelar “Imam”, menurut Prof Dr H Quraish Shihab, gelar Imam yang disematkan terhadap Ali bin Abi Thalib diberikan atas dasar kesepakatan kaum Anshar dan Muhajirin karena keluasan ilmu agama yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib.

[5] Khalid Muhammad Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, diterjemahkan oleh Mahyuddin Syaf (CV. Diponegoro: Bandung, 1984), hlm 543-547.

[6] Syed Husain M. Jafri, Loc. Cit.

[7] Ibn Battuta, Loc. Cit.

[8] Ibid., hlm 98.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Muhammad Baqir Sadr, “Kembalinya Sang Mahdi”, dalam M Hussein Thobatoba’I, Abulla’la Maududi, dan Muhammad Baqir Sadr, Apa dan Siapa Imam Mahdi, (C.V Rima: Jakarta, 1987), hlm 32-34.

[13] Ibid., hlm 30.

[14] Ibn Battuta, Loc. Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*