Mozaik Peradaban Islam

Ibnu Jubair (12): Naik Haji (1): Muzdalifah

in Tokoh

Last updated on January 17th, 2020 01:18 pm

Sejak awal bulan, genderang-genderang milik Amir ditabuh pada pagi dan sore dan pada saat jam-jam salat, untuk menandai keseriusan periode itu. Genderang terus berlanjut sampai hari ketika kami pergi ke Arafah

Para peziarah haji pada masa kini sedang menghabiskan malam di Muzdalifah. Foto: Madeenah.com

Makkah, Bulan Haji, Maret – April 1184

Penampakkan bulan baru pada bulan ini muncul pada Kamis malam, bertepatan dengan tanggal 15 Maret-nya orang Kristen…. Ini adalah yang ketiga dari bulan-bulan suci.

Selama sepuluh hari pertama orang-orang berkumpul (dan melakukan haji). Ini adalah periode ziarah yang luar biasa, bulan di mana dilantunkan “Labbaik Allahumma Labbaik (kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu, ya Allah),” waktu untuk berkurban, ketika para wali Allah dari setiap negara berkumpul. Inilah sasaran dari rahmat dan berkah Allah, bulan perenungan yang khidmat di Dataran Arafah….

Selama periode ini, kerumunan besar peziarah dari Yaman dan banyak negeri lain berkumpul di kota ini dalam jumlah yang demikian banyak, sehingga hanya Allah yang dapat menghitungnya. Makkah terletak di sebuah lembah yang lebarnya sekitar satu tembakan panah. Kemampuannya untuk (seolah) memperluas dan menampung kerumunan seperti itu adalah salah satu mukjizat Allah.

Dokter yang terpelajar itu benar, ketika membandingkannya dengan rahim ibu yang secara ajaib dapat memberi ruang bagi anaknya. Jika kerumunan seperti itu dibawa ke kota terbesar di bumi, ia tidak akan dapat menampungnya.

(Pada era masa kini, rekor tembakan panah terjauh adalah sepanjang 930,04 kaki [sekitar 283,6 meter], yang mana tentunya ini sudah menggunakan busur dengan teknologi, material, dan presisi yang lebih baik dibandingkan dengan busur tradisional.[1]

Jika menggunakan asumsi jarak ini, maka berdasarkan penggambaran Ibnu Jubair tentang lebar kota Makkah, maka lebar lembah kota Makkah pada masa itu hanya 283,6 meter.)

Sejak awal bulan, genderang-genderang milik Amir ditabuh pada pagi dan sore dan pada saat jam-jam salat, untuk menandai keseriusan periode itu. Genderang terus berlanjut sampai hari ketika kami pergi ke Arafah….

Orang-orang mengalir keluar dari Makkah sepanjang hari itu, sepanjang malam, dan sepanjang Jumat, berhenti sekitar lima mil (sekitar 8 km) di luar kota, di Mina, lalu pergi lima (mil) lagi ke Muzdalifah, kemudian lima (mil) lagi ke Arafah, sehingga akhirnya tak terhitung jumlah yang berkumpul di dataran di sana.

Sekitar satu mil jauhnya (sekitar 1,5 km) dari Muzdalifah. . . terletak Lembah Muhassir, sebuah batas antara Mina dan Muzdalifah. Berdasarkan adat, para peziarah yang melaluinya harus melintas dengan kecepatan lebih cepat.

Muzdalifah sendiri adalah sebuah hamparan tanah yang luas di antara dua gunung. Di sekitarnya terbentang kolam dan tanki penampungan air yang dibangun pada masa Ratu Zubaidah,[2] semoga Allah menenteramkan jiwanya.

Di tengah dataran ini terdapat sebuah tanah berpagar, yang disebut Mashar al-Haram (Ritus Suci). Di tengah-tengah tanah itu terdapat bukit bundar dengan masjid di atasnya dan tangga yang mengarah ke dua sisi. Para peziarah berkumpul dan berhimpun lalu naik untuk salat di dalamnya. Mereka melewatkan malam di Muzdalifah. (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Havilah Halcyon, “How Far Can a Compound Bow Shoot?”, dari laman https://outdoortroop.com/how-far-can-a-compound-bow-shoot/, diakses 29 Oktober 2019. (PH)

[2] Ratu Zubaidah (wafat 831 M), nama lengkapnya adalah Zubaidah binti Abu Jafar, istri dari Khalifah Abbasiyah, Harun ar-Rashid. Pada masanya dia dianggap sebagai wanita terkaya dan terkuat di dunia. Sebagai wanita bangsawan, dia dikenal dermawan dan murah hati.

Dia mendirikan banyak bangunan di berbagai kota. Dia diketahui telah memulai proyek raksasa untuk membangun stasiun layanan dengan sumur air di sepanjang rute ziarah haji dari Baghdad ke Makkah. Mata air Zubaidah yang terkenal, di pinggiran Makkah, pada masa kini masih menggunakan namanya. Dia juga seorang pendukung dunia seni dan puisi.

Dalam Muslim Heritage, “Zubayda bint Ja’far al-Mansur”, dari laman https://muslimheritage.com/people/scholars/zubayda-bint-jafar-al-mansur/, diakses 16 Januari 2020. (PH)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*