Mozaik Peradaban Islam

Ibnu Jubair (11): Makkah (3): Keutamaan Syaban

in Tokoh

Last updated on January 16th, 2020 01:49 pm

Seorang pria asing mengucapkan, “Jika perbuatan buruk telah membawaku jauh dari-Mu, pikiran jujurku telah membawaku dekat lagi.” Berulang-ulang sampai dia pingsan karena ekstasi.

Lukisan karya Nadeem B / Chelsea Art Society

Makkah, Bulan Syaban, November – Desember 1183

Malam pada tengah bulan Syaban yang diberkati, dimuliakan oleh orang-orang Makkah karena tradisi mulia yang turun kepada kita tentang hal itu.[1] Mereka berlomba-lomba satu sama lain dalam melakukan ritual suci seperti umrah, tawaf, dan salat-salat, baik secara individu maupun berjamaah….

Pada tengah bulan, yang mana jatuh pada hari Sabtu pada tahun ini, segera setelah salat malam kami melihat kerumunan besar di Haram. Para lelaki mulai mengucapkan doa-doa khusus dalam kelompok, membaca juz pertama Alquran dan mengulangi kalimat “Allahu Ahad (Allah Yang Maha Esa)” sepuluh kali untuk setiap rangkaian doa sampai mereka melakukan seratus rangkaian.

Masing-masing kelompok telah memilih seorang imam, tikar-tikar digelar, lilin dan obor dinyalakan. Selain itu, lampu dari bulan di langit memancarkan terangnya ke atas permukaan bumi, cahayanya menyatu dengan Haram, yang mana ia (Haram) sendiri adalah cahaya. Pemandangan yang tak terbayangkan, jauh melampaui impianmu! ….

Malam itu Ahmad bin Hassan, teman seperjalananku, menyaksikan sesuatu yang luar biasa, salah satu peristiwa menakjubkan yang tak terlupakan. Pada saat itu terjadi, dia sedang merasa kelelahan di sepertiga malam terakhir dan memisahkan diri untuk beristirahat di bangku yang mengelilingi kubah Sumur Zamzam.

Di sini dia berbaring untuk tidur sejenak, menghadap ke arah Hajar Aswad dan pintu Kabah. Tiba-tiba seorang pria asing muncul dan duduk di sudut bangku dekat kepala Hassan. Di sana dia mulai membaca Alquran dengan suara yang mengalun dan lembut, diselingi dengan desahan dan isakan.

Dia membacakan ayat-ayat dengan indah, menyerap rasa dan maknanya ke dalam jiwa. Temanku, Hassan, terjaga sejenak dari tidurnya untuk menikmati keindahan apa yang didengarnya, dengan semua kerinduan dan emosinya. Ketika pria itu akhirnya selesai, dia berkata,

Jika perbuatan buruk telah membawaku jauh dari-Mu,

Pikiran jujurku telah membawaku dekat lagi,

mengulangi kata-katanya bagaikan sebuah melodi yang dirancang untuk menghancurkan hati. Berkali-kali dia mengulangi kalimat-kalimat ini sementara air matanya mengalir dan suaranya bergetar dan menjadi lemah, sampai-sampai Hassan takut bahwa pria itu akan pingsan.

Tidak lama setelah hal ini terlintas dalam pikirannya, pria itu lalu benar-benar terjatuh ke lantai, terbaring di sana seperti sesuatu yang dihempaskan, tanpa gerakan. Ibnu Hassan langsung duduk, khawatir dengan hal menakutkan yang dilihatnya, tidak yakin apakah pria itu masih hidup atau sudah mati, karena dia terjatuh cukup tinggi — bangku itu jauh lebih tinggi dari tanah.

Seorang lagi yang tadi sedang tidur di dekatnya terbangun juga, dan mereka berdua menjadi kebingungan, ketakutan untuk membangunkan lelaki itu atau bahkan mendekatinya. Akhirnya seorang wanita asing melintas dan meneriaki mereka, “Apakah ini cara kalian, membiarkan seseorang dalam kondisi seperti itu?” Dan dia dengan cepat mengambil sedikit air dari sumur dan membasahi wajahnya.

Kedua orang itu lalu mendekat dan mengangkat pria itu ke posisi duduk. Namun, ketika dia (pria yang tadi pingsan) melihat mereka, dia menyembunyikan wajahnya, takut mereka akan mengenalnya nanti, dan dengan cepat bergegas ke Gerbang Penjaga. Kedua lelaki itu duduk bertanya-tanya apa yang telah mereka lihat.

Ibnu Hassan segera menyesal, karena telah melewatkan kesempatan untuk mendapatkan berkah dari pria itu, karena kejadian itu berjalan dengan begitu cepat dan membuatnya tidak dapat bertanya, dia juga tidak dapat mengingat wajah pria itu.

Para haji asing ini benar-benar luar biasa karena kepekaan dan emosi mereka, kemampuan mereka untuk mencapai ekstasi (penyatuan diri dengan Allah), dan semangat ibadah mereka. Tentu saja rahmat semacam itu ada di tangan Allah. Dia menganugerahkannya kepada siapa pun yang Dia inginkan. (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] “Menurut kepercayaan umum, pada malam sebelum tanggal 15 (Syaban), pohon kehidupan, yang di daunnya tertulis nama-nama makhluk hidup, diguncang. Nama-nama yang tertulis di daun yang jatuh, menunjukkan mereka yang akan mati di tahun mendatang. Sementara itu di dalam hadis, dikatakan bahwa pada malam ini Allah turun ke Surga yang paling rendah; dari sana Dia memanggil makhluk hidup untuk memberi mereka pengampunan dosa (Tirmidzi, Sunan, b. 39).” (The Shorter Encyclopedia of Islam) – Michael Wolfe.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*