Invasi Mongol ke Baghdad 1258 M (1)

in Sejarah

Last updated on November 4th, 2017 04:45 am

Penaklukan kota Baghdad oleh tentara Mongol pada tahun 1258, dikenal sebagai titik balik kejadian yang mengubah wajah peradaban Islam hingga hari ini. Ironisnya, durasi penaklukan ini hanya berlangsung selama 13 hari, dari tanggal 29 Januari sampai 10 Februari 1258 M. Dikabarkan, selama berhari-hari pasukan Mongol menyiksa, memperkosa, dan menganiaya penduduk Baghdad tanpa henti. Tidak jelas tepatnya jumlah korban dalam agresi ini. Namun para ahli memperkirakan, 90.000 sampai 1 juta rakyat Baghdad meregang nyawa. Aroma cendana dari furniture berkualitas tinggi dan naskah-naskah akademik yang terbakar menyeruak seantero Baghdad selama berhari-hari. Sekitar 3000 bangsawan kekhalifahan Abbasiyah di hukum mati. Dan Al-Musta’sim, Khalifah ke-37 Bani Abbas, dibiarkan hidup sambil menyaksikan kekejaman ini selama berhari-hari, hingga ia akhirnya ikut dieksekusi dengan cara yang tragis.

 

Baghdad

Baghdad merupakan Ibu kota dinasti Abbasiyah. Selama lebih dari 500 tahun, kota ini sudah menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan, agama, seni, dan kemiliteran Islam. Ruang lingkup kekuasaannya membentang mulai dari Asia Selatan, Tengah dan Barat, serta Kawasan Afrika dan Eropa. Pengaruh kebudayaan dan ilmu pengetahuannya pun masyhur dikenal dunia. Para pelajar berdatangan ke kota ini untuk menemui guru-guru terbaik dari berbagai tema dan bidang Ilmu, ataupun untuk sekedar mengecap sajian dari karya-karya agung para pakar Islam terdahulu di Perpustakaan Baghdad yang dikenal sebagai perpustakaan terbesar di muka bumi pada masanya.

Abbasiyah merupakan kekhalifahan Islam ketiga kaum Muslim Timur Tengah yang mulai bangkit berkuasa pada tahun 750 M setelah menggulingkan Dinasti Umayyah yang berbasis di Damaskus. Dinasti ini yang pertama-tama menjadikan Baghdad sebagai pusat kekuasaannya pada tahun 762. Dan sejak itu, Baghdad menjadi ibu kota kekhalifahan Islam, menjadi pusat ilmu dan kemiliteran, serta tempat lahirnya karya-karya agung para pemikir dan seniman Islam yang sangat berpengaruh membawa peradaban manusia ke era modernisasi.

Wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Sumber Gambar: http://islamichistory.org/the-abbasid-caliphate/

Pada saat peristiwa invasi tentara Mongol, Khalifah yang memimpin dinasti Abbasiyah adalah al-Mustasim yang dilantik menjadi khalifah pada tahun 1242 M. Tapi di bawah pemerintahnya, Negara tidak terkelola dengan baik. Ia berkemauan lemah, senang bergaul dengan musisi dan minum anggur daripada mengasah kecakapannya dalam mengelola Negara. Di bawah pemerintahannya, Abbasiyah sudah mulai meninggalkan masa-masa kejayaannya, dan sedang menempuh jalan kehancuran.

 

Mongol

Pada masa itu, nama Mongol identik dengan konotasi kehancuran. Mereka adalah etnis yang menghuni wilayah Asia Utara dan Tengah. Mereka hidup dengan cara nomaden dan menggembala. Gaya hidup nomaden ini membuat mereka sulit di lacak, dan menjadi ancaman yang membahayakan bagi setiap tatanan masyarakat yang hidup menetap di sekitar kawasan Asia Tengah dan Timur. Tembok besar China yang mengular sejauh ribuan kilometer itu, tidak lain dari upaya bangsa China untuk membatasi ruang gerak mereka. Meski upaya ini juga tidak berhasil, sebab beberapa tahun sebelum Baghdad jatuh, Khubilai Khan sudah terlebih dahulu menaklukan China.

Berbeda dengan kebanyakan bangsa-bangsa penakluk lainnya, Bangsa Mongol menaklukan sebuah wilayah hanya untuk memenuhi tuntutan hidup mereka, dan mencari lahan untuk memperluas gembalaannya. Dalam merebut sebuah kota, Mongol tidal tertarik dengan kota tersebut, mereka hanya ingin menundukkannya, menguras sumber daya yang ada di dalamnya, yang digunakan untuk memudahkan daya jangkau mobilitas mereka.

Para pejuang atau tentara Mongol dikenal menguasai banyak gunung. Hal ini membuat mereka memiliki kemampuan menjaga area yang sangat baik, dan memiliki kemampuan jelajah yang paling jauh dari kaveleri manapun baik di Timur maupun di Eropa. Hanya saja, dalam hal mobilisasi mereka termasuk tertinggal. Di kala semua bangsa sudah menggunakan roda sebagai sarana transportasinya ke medan perang, Bangsa Mongol masih menggunakan lembu untuk membawa berbagai perlengkapan dan keperluan mereka.

Adapun taktik bertempur mereka, adalah salah satu yang paling misterius dan asing. Mereka menggunakan taktik teror terhadap lawannya, dan dalam hal komando pertempuran, mereka menggunakan suara seperti gemerincing lonceng atau ketukan logam. Kondisi ini mengakibatkan lawan tidak bisa menduga rangkaian aksi yang mereka lakukan dalam sebuah perang atau pengepungan. Dan seperti sudah menjadi sebuah pola, setiap memasuki sebuah wilayah baru, Mongol selalu memberikan kesempatan kepada wilayah tersebut untuk menyerah. Tawaran ini hanya diberikan sekali, dan bila penduduk setempat tidak bersedia menyerah, maka wilayah tersebut akan dihancurkan tanpa sisa. Kaidah inilah yang nanti berlaku pada Baghdad saat pengepungan terjadi.

Pada waktu Bangsa Mongol menginvasi Baghdad, usia kekaisaran Mongol barulah 52 tahun. Didirikan pada tahun 1206 oleh Genghis Khan. Seorang pemimpin legendaris yang berhasil mempersatukan semua bangsa-bangsa nomaden di wilayah Asia Tengah dan Utara. Khan pada awalnya adalah sebuah kata Mongol yang berarti “pemimpin militer,” “berdaulat,” atau “raja.” Namun berkat kewibawaan dan kepiawaiannya, Genghis diterima sebagai Khan Agung yang secara efektif meningkatkan statusnya menjadi kaisar. Dibawah Genghis Khan, Bangsa Mongol meningkat pamornya sedemikian rupa, dan hampir selalu berhasil dalam setiap invasinya.

Ruang lingkup wilayah taklukan Mongol pada tahun 1241 M, atau 17 tahun sebelum penaklukan Baghdad terjadi pada 1258 M. Sumber Gambar: https://www.linkedin.com/pulse/important-influence-baghdad-development-western-medicine-treacy

Adalah Monke Khan yang kemudian menjadi Khan Agung pada 1251, memimpin kekaisan Mongol yang sudah begitu kuat. Ia dibantu oleh kedua saudaranya, Khubilai Khan yang nantinya menaklukkan China, dan Hulagu Khan, yang kemudian mendapat perintah menginvasi Baghdad. (AL)

Bersambung ke:

Invasi Mongol ke Baghdad 1258 M (2)

Catatan: Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan dari buku: Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), chapter 18.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*